Apa Kabar Sahabat POHON INSPIRASI

Blog Berbagi Cinta dan Inspirasi untuk Alam
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Selasa, 14 Juni 2011

Selasa, 14 Juni 2011

Kisah Survival I : Putus Asa, Mengubur Diri Sebelum Mati

Kisah Survival I : Putus Asa: Mengubur Diri Sebelum Mati
Oleh Achmad Siddik Thoha

Sebuah pesawat jet terhempas keras di Pegunungan berhutan lebat di Alaska. Sang pilot tak bisa mengendalikan pesawat pribadi ini setelah terperangkap di udara yang penuh dengan rombongan burung yang sedang bermigrasi. Tabrakan tak terelakkan dan akhirnya hutan penuh dengan daun jarum menyambut kejatuhan mereka.

Beruntung, seluruh penghuni pesawat selamat. Tiga orang berasal dari rombongan orang kaya di Amerika Serikat akhirnya harus menghadapi kenyataan pahit. Mereka harus bertahan hidup di belantara yang dingin dan ganas.

Seorang miliarder yang cerdas bernama Charles, bersama fotografer ternama, Robert, serta Stephen, seorang kru pemotretan merangkap pilot akhirnya harus bersitegang satu sama lain. Mereka panik menghadapi situasi tak terduga ini.

Robert menawarkan pada rekannya agar mendaki puncak gunung. Dia berharap dapat menemukan bantuan di sana. Robert ternyata juga ingin mencari kesempatan untuk membunuh Charles dengan harapan dapat menikahi istrinya, yang diam-diam berselingkuh dengannya. Dia mempunyai niat sangat jahat pula pada Stephen, si kulit hitam yang menurutnya sebagai sampah tak berguna dengan keluhannya yang memuakkan.

” Aku pasti akan mendapat bantuan dengan mendaki ke puncak gunung itu. Pasti ada menara komunikasi dan posko bantuan di sana. Helikopter akan melintas disana suatu saat. Kalau kalian mau ikut, berjalanlah dibelakangku. Kalau tidak, kalian akan jadi umpan beruang Alaska yang ganas disini.” Robert menawarkan solusi secara egois.

Stephen sebaliknya, dia tak mampu berpikir jernih dan terkulai lemas. Dia berpikir, sebentar lagi hidupnya akan berakhir karena tak ada lagi yang mampu melawan keganasan alam liar tanpa bekal. Dia terkena depresi berat.

”Apa yang bisa kita lakukan dalam kondisi tanpa bekal dan peralatan di rimba yang kita tak tahu posisi dimana kita. Kita akan matiiii...” Stephen berteriak histeris memperlihatkan keputusasaan yang sangat.

Lain halnya dengan Charles, dia nampak tenang. Sebagai pria terkaya di AS, ia banyak mengalami kondisi sulit dalam perjalaan suksesnya. Dia juga seorang kutu buku yang sering melahap buku-buku petualangan alam liar. Ia memilih untuk berpikir dulu sambil merancang strategi perjalanan menemukan bala bantuan. Lalu dengan tenang ia berkata,

”Di kota, kita adalah pria sukses dengan banyak pengagum. Seluruh orang melayani kita. Kita juga saling bersaing bahkan terkadang dengan cara yang tidak terhormat. Kini kita berada di alam liar dimana hanya Tuhan yang menggenggam nasib kita. Selebihnya adalah bagaimana kita bisa menyingkirkan ego dan bersama-sama mencari jalan keluar. Kita sama sekali tak tahu harus menuju kemana. Tapi kita akan pecahkan masalah ini bersama. Dengan bersama kita akan lebih kuat dan saling membantu”

”Kalian tahu, mengapa orang yang tersesat di hutan mati?” Tanya Charles dengan keras

”Karena mereka berputus-asa” kedua rekannya tertunduk mendengar pernyataan Charles yang mengandung filosofi.

Tiba-tiba terdengar suara raungan beruang Alaska yang sumbernya makin dekat. Mereka akhirnya lari terbirit-birit mencari tempat persembunyian. Beruang itu terus mengejar. Akibatnya, Stephen mengalami luka parah akibat terjatuh ke lubang. Pelarian menjadi semakin berat.

Charles mengeluarkan seluruh pengalaman dan pengetahuannya yang luas. Ia mulai mempraktekkan teknik survival suku Indian dari buku panduan yang terselip di saku bajunya. Dia juga mencoba merancang strategi perlawanan untuk membunuh Beruang ganas itu. Sementara Robert yang sejak awal punya niat membunuh Charles mulai goyah. Dia akhirnya bahu membahu mengikuti saran Charles untuk bisa bertahan hidup, merawat Stephen yang lukanya makin parah serta menghadapi secara jantan beruang yang akan menerkam mereka.

Singkat cerita, perjalanan survival mereka dijalani bersama. Namun Robert sering melakukan tipuan untuk membunuh Charles. Justru yang terjadi sebaliknya, Robert akhirnya mati terperosok ke dalam jebakan yang dibuatnya sendiri. Adapun Stephen, lukanya yang parah dan kondisi psikisnya yang lemah akhirnya tak dapat ditolong. Dia dikubur di tengah hutan.

Akhirnya Charles bertemu dengan seorang pemburu dari suku Indian Alaska. Melalui pertarungan sengit, akhirnya Beruang ganas itu bisa dibunuh oleh mereka. Dengan bekal daging yang lezat dan kulit beruang yang hangat, Charles bersama Si Pemburu suku Indian akhirnya menemukan bala bantuan. Charles akhirnya selamat dan bertemu dengan keluarganya.

Ini adalah salah satu ringkasan cerita yang diadaptasi dari Film The Edge yang dibintangi aktor Kawakan Anthony Hopkins (Charles) dan Alec Baldwin (Robert). Film ini ditayang di Indonesia Tahun 1997. Kisah petaualangan di hutan dan teknik survival yang diperagakan para aktor adalah bagian yang sangat menarik dari film ini. Namun ada satu hal yang sangat penting untuk diambil pelajaran dari film ini. Sebuah filosofi hidup dari orang-orang yang tersesat di hutan. Sebuah quotes yang sangat masyhur di kalangan petualang alam liar:

”Mengapa orang-orang yang tersesat di hutan mati? Karena mereka berputus-asa”

Ya...putus asa adalah sumber kegagalan dari semua upaya yang kita lakukan. Dengan berputus-asa, kita telah mematikan api harapan dalam diri kita. Harapan yang mati akan menghentikan nalar dan potensi. Akhirnya fisik kita pun tak berfungsi baik pada kondisi berputus asa. Putus asa adalah langkah awal menuju kematian. Ujungnya, putus asa adalah tindakan bunuh diri yang dimulai dari membunuh jiwa, pikiran dan selanjutnya fisik kita.
Orang yang berputus asa, tak lebih hanya bangkai berjalan di permukaan bumi. Dia telah melupakan Sang Pencipta yang Maha Pengasih. Dia juga mengacuhkan bahwa ada orang lain yang bisa membantunya. Sungguh berbahaya bila putus asa menjangkiti manusia. Dia mati secara makna meski hidup secara biologis. Orang yang melakukan bunuh diri, telah melengkapi keputusasaannya secara paripurna di dunia ini. Kelak di akhirat, tak ada kenangan kebaikan yang akan dihargai oleh Sang Pencipta.

Memang sudah menjadi salah satu sifat manusia, bila tertimpa masalah dia akan berputus asa. Keputusasaan melahirkan sifat egoisme yang tinggi dan kemudian berpikir bahwa tak ada gunanya meminta bantuan orang lain. Orang berputus asa kemudian hilang jiwa sosialnya. Bekerja sama dan meminta bantuan dihilangkan dalam kamus hidupnya. Akhirnya ia menggali kuburan sendiri bagi untuk mengakhiri hidupnya sebelum malaikat menjemput nyawanya.

Tuhan menciptakan makhluk di alam semesta beserta rejekinya. Tuhan Maha Adil dan tahu persis kebutuhan makhluk yang diciptakan-Nya. Ketika ada masalah, Tuhan menyuruh kita menggunakan segala potensi yang dimiliki sambil memohon bantuan pada-Nya dan juga pada sesama. Lihatlah hewan-hewan hidup dengan berusaha keras secara individu dan saling membantu untuk dapat bertahan hidup.

”siapa bersungguh-sungguh, pasti akan sukses” (manjadda a wajada)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates