Apa Kabar Sahabat POHON INSPIRASI

Blog Berbagi Cinta dan Inspirasi untuk Alam
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Rabu, 14 Desember 2011

Rabu, 14 Desember 2011

Liputan Hari Pohon Sedunia dan Hari Menanam Pohon Indonesia POHON INSPIRASI

Menunggu “Malaikat Kecil” (Sebuah Kisah Indah di Acara PI)
Oleh Achmad Siddik Thoha


“Bu, dimana posisi?” Bolak-balik saya bertanya posisi salah seorang sahabat POHON INSPIRASI yang akan hadir pada acara Peringatan Hari Pohon Sedunia (HPS) dan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI), hari ini Minggu 11 Desember 2011.

Saya tidak bisa menyembunyikan keresahan saya. Betapa tidak, peserta yang saya tunggu ini sangat penting. Mereka adalah rombongan Taman Kanak-kanak (TK) Amanah Bandung yang sudah lama merencanakan akan hadir dan mengisi momen penting di acara yang diadakan PI bekerja sama dengan LATIN (Lembaga Alam Tropika) dan De Tara (LSM Lingkungan). Namun hingga 2 jam acara berlangsung sejak pukul 09.00, yang ditunggu juga belum hadir. Infrormasi yang saya terima, mereka mengalami kesulitan mencari jalan menuju lokasi acara.

Lomba yang akan mereka ikuti yaitu mewarnai gambar (untuk TK- SD Kelas I) akhirnya berakhir.
Semua peserta dengan atribut ala dayak, memakai topi yang ditempel selembar daun yang dilekat tegak, mulai berjalan menyusuri hutan. Sampailah anak-anak kecil, remaja dan orang tua peserta acara HSP dan HMPI di areal hutan yang berlantai serasah daun meranti. Lokasi ini merupakan tempat favorit untuk kegiatan permainan di alam.

Pukul 11.28 saya dapat Kabar, posisi “tamu” dari Bandung sudah masuk kawasan hutan CIFOR (Center of International Forestry Research), kawsan hutan penelitian dekat dengan tempat acara PI. Segera saya menggiring mereka ke kawasan hutan berlantai serasah meranti. Tampak di dalam mobil, tiga orang anak yang disebut “Malaikat Kecil” oleh salah satu anggota PI dan tiga orang ibu-ibu yang saya ketahui adalah guru TK Amanah Bandung.

Sampailah acara yang ditunggu-tunggu peserta dan terutama saya, yaitu membacakan dongeng pohon. Dongeng ini saya karang dari adaptasi cerita yang pernah saya baca di beberapa situs dan sudah pernah di posting di grup PI, berjudul “Kasih Tak Berbalas”. Salah satu guru TK Amanah, sebut saja namanya “Bunda”, sudah menyiapkan diri dengan matang untuk membawakan dongeng. Mereka membentuk tim dan melibatkan “malaikat kecilnya” untuk ikut mendongeng. Hebatnya lagi mereka membawa alat peraga berupa pohon yang terbuat dari kertas serta boneka. Mereka juga memakai topi berbentuk lingkaran penuh bunga. Sungguh tim yang hebat.

Mulailah “Bunda” mendongeng dengan ekspresi yang sangat tepat dan mengharukan. Hampir 100 peserta yang terdiri dri anak-anak, remaja dan orang tua terpukau mendengar dongeng pohon. Menjelang akhir cerita, saya melihat beberapa peserta larut dalam cerita yang mengharukan. Ada tetes air mata haru di akhir sesi dongeng ini. Sungguh momen yang sangat berkesan bagi saya.

Dongeng yang mengharukan itu akhirnya berubah ceria setelah lagu pohon dikumandangkan bersama “Bunda” dan “Para Malaikat Kecil” penyelamat bumi.

Akulah pohon
tempat berteduh.
Ini batangku dan ini dahanku.
Ini rantingku & ini daunku.
Jika aku tumbang ke kanan..krek krek krek.
Jika tumbang ke kiri..krek krek krek.
Jika tumbang k blakang..krek krek krek.
Jika tumbang k depan..krek krek krek

Tepuk tangan menggema. Saya rasa pohon-pohon meranti di sekeliling kami juga tersenyum pada kami saat itu. Seandainya pohon punya tangan yang bisa digerakkan, mereka juga akan bertepuk tangan J

Saya yakin peserta sudah mulai letih, karena waktu sudah melewati tengah hari. Setiba di pendopo LATIN mereka saya putarkan film kartun tentang pohon. Mereka tampak serius menyimak.

Ada satu agenda yang sebenarnya berat dilakukan saat letih seperti ini tapi inilah acara inti sebenarnya yaitu menanam bibit pohon. Tadinya acara ini adalah wajib bagi anak-anak pesera lomba menwarnai dan menggambar. Saya berpikr inilah saatnya saya mendapatkan “buah” dari rangkaian acara untuk mendekatkan peserta pada pohon.

“Siapa yang mau menanam pohon?” saya melontarkan tawaran yang kurang popular saat waktunya harus menerima hadiah dan segera pulang.

“Saya, Aku…” banyak tangan terangkat. Saya merasa mendapat kejutan.
“Baik, bagi yang mau menanam, silahkan ikuti saya, dan yang tidak mau silahkan duduk di pendopo.”

Ternyata yang mau menanam adalah sebagian besar peserta dan orang tuanya. Saya lega dan merasa bahwa ini sesuatu yang sangat saya dambakan. Menanam bukan lagi program yang dipaksakan. Menanam muncul dari kesadaran dan kebutuhan. Momen inilah yang berbeda dan sangat berkesan dibanding acara PI sebelumnya.

Acara demi acara berjalan dengan lancar. Semua pemenang lomba dan peserta mendapat hadiah dandoorprize. Panitia takkan membiarkan mereka pulang dengan tangan kosonng. Mereka harus bergembira sepulang acara PI. Menjelang paling akhir acara, kejutan kembali datang. Ibu Guru dari TK Amanah meminta sedikit waktu untuk momen penyampaian donasi pohon dari anak muridnya. Beliau menjelaskan bahwa dana ini dikumpulkan dari usaha mereka sendiri menjual tempe. Keuntungan menjual tempe itu kemudian disumbangkan melalui PI untuk kegiatan menanam dan merawat pohon.

Bersama Ibu Guru, tiga “malaikat kecil” cantik menyerahkan sebuah kotak cantik berisi donasi untuk PI. Saya rasa inilah puncak kesan indah yang saya rasakan dalam acara PI hari ini. Saya yakin teman-teman lain dari panitia merasakan hal yang sama. Terbukti setelah itu beberapa panitia ingin berfoto dengan tiga gadis cilik “malaikat kecil”, tentunya termasuk saya, hehe.

Di akhir tulisan ini, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada LATIN yang tetap percaya pada saya untuk berkolaborasi dalam program gerakan moral mencintai pohon. Juga kepada Abang dan Kakak senior saya dari Fahutan IPB yang mendukung kegiatan ini dengan Launching Puisi dari Pak Dwi R. Muhtaman dan Bang Mirza Saburo yang mengedarkan “Kencleng donasi” untuk mendukung kegiatan ini. Lewat launching dan lomba baca puisi, kegiatan PI menjadi makin kaya dan menarik. Ada juga peran besar dari LSM De Tara (Mbak Ika, dkk) yang telah memberi nuansa kreatif dengan adanya lomba kreatifitas alam bagi orang tua. Juga kepada Sahabat PI di Bogor, adik-adik MNH Fahutan Angkatan 47, teman-teman Lawalata IPB, dan para pembaca buku “Ketika Pohon Bersujud”. Yang ikut membantu secara teknis acara sehingga semua beban bisa dirasakan ringan. Takkan lupa keluarga saya yang selalu menjadi tim inti setiap ada acara PI (istri, anak-anak, Ibu dan Paman). Tidak ketinggalan kepada para anggota grup yang telah menyumbangkan dana, dukungan dan doa sehingga acara ini bisa berlangsung aman dan sukse, tanpa sahabat semua PI tidak bisa berpean bayak. Ini sebuah bentuk kolaborasi yang inspiratif

Semoga tulisan kilat ini bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kami berharap sahabat PI di tempat lain bisa terinspirasi dengan acara PI di Bogor dengan membuat acara dalam rangka memberi penyadaran pada masyarakat akan begitu berharganya pohon.

Rabu, 19 Oktober 2011

Rabu, 19 Oktober 2011

Keajaiban Air

Sungai Cisadane Di Kota Bogor
Keajaiban Air
Oleh Tyas Effendi


Tak pernah terlupa olehku tentang keajaiban air yang kutemukan saat itu. Kebaikan air telah membantuku di masa sulit. Saat itu, ketika aku masih menjadi seorang pelajar, aku dan lima orang temanku dari klub Pecinta Alam mengadakan pendakian ke gunung. Entah, aku lupa apa gunung yang kami kunjungi ketika itu. Kisah ini sudah tua memang.

Kami berenam punya keinginan besar untuk sampai di puncak, apa pun yang terjadi. Aku adalah salah satu dari dua orang perempuan dalam kelompok pendaki itu. Empat orang yang lain adalah laki-laki tangguh. Sudah menjadi hukum alam bahwa perempuan selalu menjadi lebih lemah dari laki-laki. Begitupun juga saat itu. Teman perempuanku hampir tidak kuat melanjutkan pendakian.

Keadaan kami saat itu benar-benar buruk. Kami tersesat, tak tahu arah. Persediaan makanan dan minuman kami pun juga habis. Seorang teman perempuanku sakit dan sudah benar-benar tidak bisa melanjutkan perjalanan. Belum lagi, tas kecil yang kami pergunakan untuk menyimpan obat hilang. Kami tersiksa karena kelaparan dan kehausan. Kami makan buah-buahan dari tanaman liar yang kami temukan, tapi tak begitu membantu. Parahnya, kami tidak menemukan jalan menuju sungai. Tanaman liana yang bisa memberikan tetes air pun tidak ada.

Beberapa jam kemudian, hujan deras turun. Kami hampir putus asa karena kehujanan dan kedinginan, tapi di sisi lain senang karena bisa merasakan air. Dahaga kami terbayar sudah.

Seorang teman laki-laki kami melepas bajunya, lalu menggunakannya untuk menyaring air hujan yang keruh itu. Kami menadahinya. Kami tahu benar kalau air itu kotor, bahkan juga tercampur potongan dedaunan kering yang ada di sekeliling kami. Aku membacakan doa singkat dan tulus sambil memegang gelas berisi air hujan itu. Lalu, kami memberikannya pada teman perempuan kami yang demam. Keajaiban terjadi. Hanya dengan meminum segelas air hujan itu, kawan kami akhirnya sembuh walaupun belum begitu kuat berjalan sendiri. Air itu menjadi obat alami yang sangat mujarab hanya dengan dibacakan doa dengan tulus.

***

Sahabat, kata-kata akan menjadi "mantra" yang ampuh jika diucapkan dengan tulus. Kata-kata adalah bahasa yang menjembatani kita dan dunia. Bagaimana dunia bisa mengerti kita jika kita tidak mengekspresikannya? Salah satunya adalah dengan kata-kata. Kata-kata bisa merangkai kehidupan yang kita jalani.

Jika kita mengingat lagi percobaan yang sudah dilakukan oleh Dr. Masaru Emoto, kita akan menemukan keajaiban yang sangat mempesona dari air. Ternyata air bisa merespon apa yang diucapkan manusia. Air tidak sepenuhnya mati.

Ucapan biasa saja sudah direspon baik oleh air dengan menunjukkan gambar kristal indah dibawah mikroskop. Apalagi jika kata-kata yang kita ucapkan adalah doa yang tulus, tentu air juga akan meresponnya dengan kebaikan yang besar.

Air, dari manapun asalnya, jika kita membisikkan padanya kata-kata yang baik, maka ia akan menjadikan kebaikan dari setiap tetesnya. Air, bagaimanapun keadaannya, jika kita membisikkan padanya doa yang tulus, maka ia akan menjadi penyembuh yang mujarab untuk jiwa-jiwa yang sakit.

Sahabat, bisikkanlah selalu doa-doa yang tulus sebelum kita meminum air. Bisikkanlah selalu kata-kata yang indah sebelum kita menjadikannya minuman untuk tanaman kita. Dan karena diri kita sebagian besar tersusun atas zat ini, maka berlakulah baik agar air dalam diri kita juga meresponnya dengan selalu menampilkan aura yang menyenangkan dari diri kita.

Air, anugerah yang tiada akan habis.

-Kisah di atas berdasarkan kisah nyata dari seorang guru Kimia

Jumat, 16 September 2011

Jumat, 16 September 2011

Mandi Hanya Dua Menit

Mandi Hanya Dua Menit
Oleh : Achmad Siddik Thoha

“Saya mandi hanya bisa dua menit saja. ‘Shower’ sudah diatur hanya mengucur selama dua menit. Lewat dari itu ‘shower’ berhenti secara otomatis. Saat mandi, saya berdiri di dalam ember supaya air tidak tumpah dan terbuang percuma. Air bekas saya mandi bisa saya pakai untuk keperluan lain.”

Peserta pelatihan tersenyum, sebagian malah tertawa melihat ekspresi Mark memperagakan gaya mandi cepat dua menit. Mark adalah salah satu Trainer Pria asal Australia yang mengisi Pelatihan Pendidikan Konservasi bagi Guru-Guru Sekolah di Kawasan Sekitar Taman Nasional Gunung Leuser Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat Agustus 2008. Pelatihan dilaksanakan disebuah penginapan yang diapit oleh sungai besar yaitu Sungai Buluh dan Sungai Batang Serangan di Kawasan Ekowisata terkenal di Sumatera Utara, Tangkahan.

Mark melanjutkan kisahnya,
“Di Australia, mobil kotor adalah hal yang biasa. Kami sangat jarang membersihkan mobil dengan air bersih. Tempat cuci mobil diatur airnya agar dapat didaur ulang dan dapat dipakai lagi. Jadi kalau mobil kita sering kelihatan bersih, kita malah dianggap pemboros air.”

Kembali peserta pelatihan tertawa. Mereka sungguh hampir tak percaya bahwa memakai air untuk mencuci mobil atau kendaraan dianggap pemborosan di Australia. Di lingkungan mereka, daerah Tangkahan, masyarakat dengan mudah memakai air tanpa batas untuk segala keperluan termasuk membuang sampah rumah tangga dan limbah industri kecil. Jangankan mobil, Bus-pun bisa“dimandikan” di pinggir sungai sepuas-puasnya tanpa membayar dan khawatir kekurangan air.

Lian, Trainer lain, wanita asing yang energik rekan Mark, asal Australia menambahkan :
”Pernah pemerintah kami memerintahkan untuk mencabut jenis bunga impor yang ditanam d ipekarangan karena boros air dan diganti denga jenis bunga lokal yang hemat air. Jadi di tempat kami, masalah air sangat serius sehingga kami sangat behati-hati menggunakannya.”

Semua peserta pelatihan manggut-manggut. Saya tidak paham betul, manggut-manggut tanda paham, bingung atau malah merasa aneh.

***

Kita menyadari bahwa sumberdaya air semakin hari semakin berkurang kualitasnya. Jumlah air memang tidak berkurang, namun air yang bisa dimanfaatkan langsung dengan mudah, bebas dan aman sudah sangat sulit ditemui. Ini memang kurang disadari oleh sebagian besar masyrakat di negeri Khatulistiwa. Sumberdaya yang berlimpah seringkali melenakan kita untuk membiarkannya tak terkelola dengan baik. Ia, akan disadari kalau keadaannya mulai berkurang, rusak atau terancam hilang.

Saat ini kelangkaan air bersih mulai terasa. Untuk dapat menikmati air layak minum kita harus merogoh kantong. Untuk dapat belajar berenang kita perlu menyisihkan waktu dan uang ke kolam renang. Untuk sekedar menikmati sejuk dan jernihnya air kita perlu berlelah-lelah menuju tempat wisata yang jauh.

Sahabat, air bisa mengubah hidup kita. Air kotor dan sanitasi buruk menjadi penyebab mewabahnya penyakit Diare, Disentri, Thypoid dan penyakit akibat parasit. Di Afrika Tengah 80% penyakit yang timbul disebabkan oleh kondisi sanitasi buruk dan air kotor. Usia harapan hidup di negara tersebut sekitar 39 tahun. Sekitar 85% masyarakatnya hidup tanpa air bersih. Mereka terpaksa memanfaatkan air tadah hujan yang kotor dan tidak sehat untuk kebutuhan mereka. Bahkan untuk mendapatkan air seperti itu, ibu-ibu dan anak-anak harus menempuh perjalanan berjam-jam.

Di sebagian daerah di Indonesia juga kita temukan kondisi yang hampir serupa. Masyarakat terpaksa menjadikan sungai yang kotor dan tidak sehat untuk Mandi Cuci kakus (MCK). Mereka tak punya pilihan karena sulitnya akses terhadap air bersih. Air tanah semakin sulit karena berada di bawah tanah yang sangat dalam. Sumber mata air mengering karena rusaknya hutan sebagai areal tangkapan air dan biaya pembuatan sumur yang sangat mahal. Ketika hujan, air lolos begitu saja tanpa bisa “ditangkap” dan dimanfaatkan.

Sahabat, air adalah amanah-Nya untuk kita kelola dengan baik. Melestarikan air adalah salah satu bentuk kita melaksanakan amanah-Nya. Dunia ini takkan indah tanpa air jernih, sejuk dan mengalir. Dunia ini sangat menakutkan bila kita hidup dalam cekaman kelangkaan air, banjir dan kungkungan air kotor. Bukankah surga dihiasi oleh sungai mengalir yang tak terbayang keindahannya. Tidakkah kita ingin menghuni tempat terindah yang dihadiahkan oleh-Nya kelak.

Sahabat, mari kita lestarikan air dengan kemampuan yang kita miiki. Tindakan kecil seperti menanam pohon di halaman dan merawatnya, membuat sumur resapan, menghemat pemakaian air, tidak membuang sampah di perairan serta membersihkan saluran air bisa kita lakukan.

Sabtu, 10 September 2011

Sabtu, 10 September 2011

Buku Inspirasi dari Pohon : KETIKA POHON BERSUJUD

Telah tebit buku "Ketika Pohon Bersujud : Inspirasi Hidup dari Pohon"

Buku berisi renungan dan penggalian hikmah hidup yag terinspirasi dai keberadaan, "perilaku" dan manfaat dari makhluk luar biasa bernama pohon. Perpaduan pengamatan ilmiah dan nilai filosofis terhadap kehidupan pohon dengan bahasa yang mudah akan menambah wawasan dan kecintaan pembaca pada lingkungan hidup, terutama pohon.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan hasil perenungan penulis dari alam sekitar khususnya pepohonan yang menyimpan banyak rahasia, inspirasi dan hikmah. Disamping juga keprihatinan penulis akan banyaknya pohon yang ditebang untuk kepentingan jangka pendek. Penebangan pohon yang serampangan membuahkan bencana yang akrab dengan kita seperti banjir, kekeringan dan tanah longsor. Lebih lanjut kurangnya pepohonan berdampak tidak mampunya bumi ini menyerap gas-gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global.

Dari kekaguman pada pepohonan yang luar biasa hikmahnya ditambah keprihatinan rusaknya pepohonan dan hutan, penulis berharap kumpulan tulisan ini dapat menggugah pembaca. Penulis berharap pembaca menjadi lebih banyak memamami bahwa pohon itu merupakan inspirasi tiada batas yang bisa memotivasi untuk hidup lebih baik dan melestarikan alam.

Harapan penulis, buku ini bisa berkontribusi pada peningkatan semangat hidup masyarakat yang bisa dipetik dari inspirasi pepohonan sekaligus meningkatkan kesadaran melestarikan pohon dan alam. Dari inspirasi muncul motivasi, dari motivasi akan lahir sikap hidup. Dari pohon kita menemukan begitu banyak inspirasi untuk hidup yang lebih baik dan lestarinya alam.

Salam Lestari
Achmad Siddik Thoha
Penulis

Tanggapan Salah Satu Pembaca

Evyta Ar dari Medan :

Alhamdulillah buku "Ketika Pohon Bersujud" karya pak Achmad Siddik Thoha sudah sampai....kesan pertama begitu takjub.

Cover bukunya yang eksklusif dengan cetakan "timbul", saya suka sekali.
Ilustrasi gambar-gambar di dalamnya juga bagus, membuat saya rindu dengan alam. Dan saya suka sekali jenis font isinya.

Isinya? Jangan ditanya, berisi 51 kisah inspiratif dari pohon-pohon, ringan dan mudah dipahami, ga 'ribet'. Ada "Pohon Cinta", ada "Kungfu Panda", ada "Pohon yang Membuat Kaya", baru sebagian yang saya baca, sudah menggugah gelora ingin melanjutkan sampai habis, seraya bersyukur tiada tara kepada Sang Pencipta pohon.

Buku ini layak menjadi salah satu koleksi buku eksklusif evergreen! :) terima kasih Komunitas Pohon Inspirasi

Pemesanan bisa Menghubungi Ibu Popie Susanty
Kontak 0815 8446 1115

Minggu, 07 Agustus 2011

Minggu, 07 Agustus 2011

Pelajaran Puasa dari Pohon Jati

Pelajaran Puasa dari Pohon Jati
Oleh Achmad Siddik Thoha

Pohon-pohon jati itu melepaskan dedaunannya. Daun-daun kecoklatan terbang dan terhempas ringan di atas tanah. Lantai hutan jati terlihat penuh dengan daun lebar kering berwarna coklat muda yang berserakan. Hutan jati dalam keadaan meranggas saat itu.

Dua orang melintas pelan di hutan itu. Seorang pria dengan janggut panjang dan pria satunya masih sangat belia. Dua orang ini adalah murid dan guru yang berkelana mencari kearifan hidup.

”Guru, dua bulan lalu, kita pernah melintasi hutan jati di tempat lain. Waktu itu kita merasakan kesejukan dibawah naungan pepohonan jati dengan daun hijaunya yang segar dan bunga-bunganya yang sedang mekar. Kali ini, hampir tak ada daun yang melekat di ranting pepohonan ini. Apa jati ini harus menggugurkan daunnya setiap tahun guru?” Tanya sang murid.

” Kemarau dengan panas yang terik dan air dari langit yang tertahan, mengharuskan jati melewati hari harinya dengan melepas dedaunannya. Begitulah jati menempa dirinya muridku.” Jawab sang guru singkat.

”Bagaimana caranya jati bisa tumbuh dan berkembang tanpa daun. Bukankah daun sangat penting untuk menyerap matahari dan menguapkan air bagi tumbuhan. Mereka bisa mati kalau begitu terus, Guru?” Sang murid mendesak gurunya menjelaskan.

Sang guru kemudian menjawab rasa penasaran muridnya.
”Itulah hikmah yang Tuhan berikan melalui pohon jati. Meski tanpa daun, pohon jati justru sedang menempa dirinya menjadi salah satu pohon terbaik di bumi ini. Dia takkan mati. Ia bahkan sedang ”berpuasa” untuk tidak berkembang secara kasat mata. Ia sedang menempa dirinya untuk sanggup bertahan dengan ujian kekurangan air dan panasnya cuaca. Ia melewati ujian itu sambil mengugurkan masalah yang ada di daun dan memperbaiki kulitas kayu di batangnya.”

”Menggugurkan masalah...?Artinya daun-daun itu kalau terus ada dan bekerja di musim kemarau bisa mengganggu pertumbuhan pohon karena boros air. Nantinya bagian pohon lain seperti batang dan akar bisa terganggu ya, Guru?” Sang murid mencoba menganalisis penjelasan gurunya.”

”Benar sekali muridku. Sama halnya dengan tubuh kita. Pada saatnya kita harus mengistirahatkan anggota badan kita seperti perut untuk mengurangi kerjanya. Itu sangat diperlukan agar bagian lain dari diri kita berfungsi lebih optimal. Misalnya, saat perut beristirahat mengolah makanan, bagian tubuh lain khususnya pikiran dan jiwa kita bisa lebih optimal bekerja. Bukankah perut kita adalah salah satu sumber munculnya penyakit.” Sang guru mulai menjelaskan kearifan alam yang diamatinya

”Mungkin daun-daun itu bisa kita andaikan sebagai dosa-dosa kita. Saat kita mau berkorban untuk menahan diri dan bertahan dari ujian, Tuhan akan memberi kita karunia-Nya berupa bergugurannya dosa-dosa kita. Pada saat dosa-dosa itu berlepasan dalam diri kita, kita merasakan hidup ini lebih tenang dan bahagia. Bahagia itulah kualitas tertinggi yang diraih manusia dan sekaligus karunia dari-Nya. Kamu ingin hidup bahagia kan muridku? Sang guru menepuk punggung muridnya.

”Eh iya guru, pasti. Makanya kita harus segera sampai di kampung agar tenang, gak kepanasan begini Guru”

”Kamu masih puasa, kan? Jangan kalah sama pohon Jati yang puasanya lebih panjang dari kita,” canda Sang Guru

”Hahaha...” Guru dan murid tertawa. Mereka mendapatkan kearifan hidup dari bergugurannya dedaunan pohon Jati.

Memenangkan Peperangan dalam Jiwa

Memenangkan Peperangan dalam Jiwa
Oleh Achmad Siddik Thoha

“Pak, kita bawa bekal makan siang di hutan nanti?”
Pertanyaan Pak Bai, warga desa Bandar Agung Kecamatan Topos Kabupaten Lebong Propinsi Bengkulu, pekerja Pengukuran Kawasan Hutan untuk Rehabilitasi Hutan, membuat saya bimbang.

“Bagaimana ya, Pak? Bawa saja, Pak. Mungkin saya tidak kuat puasa sambil naik bukit, jadi saya bisa langsung batalkan. Kalau Bapak dan yang lain bagaimana?”

“Kami puaso (puasa).” Suara mantap keluar dari mulut Pak Bai.

Pak Anshori, pekerja lain yang akan membantu kami menimpali,”Saya tetap puasa, ini kan latihan menahan hawa nafsu.”

Aku terhenyak mendengar jawaban sederhana mereka namun sangat dalam maknanya. Aku bimbang karena pekerjaan pengukuran hutan untuk kegiatan rehabilitasi ini sangat berat. Aku dan tim harus naik turun bukit yang terjal, menuruni lembah yang curam dan berjalan melintasi hutan dan semak belukar rata-rata 10 km per hari. Dalam kondisi tidak berpuasa saja, kami sangat kelelahan. Warga desa sekitar hutan yang menjadi pekerja kami juga mengeluhkan pekerjaan pengukuran luas dan pemancangan patok batas yang sungguh melelahkan. Mengukur kawasan hutan seluas 2000 Ha bukan pekerjaan yang mudah. Belum lagi yang dimasuki adalah hutan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat Bengkulu (TNKS) yang terkenal dengan bukit-bukitnya yang terjal.

Pukul 08.00 kami mulai berangkat menuju patok batas kawasan TNKS di Desa Bandar Agung Kecamatan Topos Kabupaten Lebong Propinsi Bengkulu. Jauh nian perjalanan menuju patok batas kawasan hutan ini. Kami baru mulai bekerja apabila sudah menemukan patok batas kawasan yang akan dijadikan titik awal menentukan luasan hutan. Aku perkirakan perjalanan menuju batas hutan ini sudah menempuh jarak 3 km dengan medan mendaki yang sangat melelahkan.

Sampai di batas kawasan hutan TNKS, badanku mulai lemas. Untungnya ada sungai dekat batas hutan. Langsung aku mengguyur kepala yang mulai kepanasan akibat terik mataharari yang sangat menyengat. Tak lupa aku berwudlu agar muka dan anggota badan lain menjadi segar.
Pekerjaan mengukur dimulai. Aku bersama seorang Polisi Hutan (Polhut) bernama Pak Herwansyah dan dua pekerja, Pak Anshori dan Pak Supen, mulai berjalan menyusuri hutan yang sudah mulai rusak akibat kebakaran dan perambahan. Pak Anshori dan Pak Supen berjalan tenang dimana masing-masing memanggul 10 patok yang cukup berat.

Jalan semakin menanjak dan panas matahari mulai terik. Kami berusaha menghindari jalan yang terlalu terjal dengan mencari punggunggan bukit dan jalan setapak. Ternyata jalur yang kami lewati tidak sesuai dengan rencana awal. Kami harus bolak-balik untuk menuju lokasi sesuai arah namun tidak sampai mendaki bukit. Akhirnya kami terhenti di depan sebuah bukit tinggi berbatu. Bukit ini seperti dinding batu yang sangat tinggi.

Kami mulai kelelahan. Aku lihat Pak Anshori menemukan pondok masyarakat yang membuka lahan kopi di dalam hutan. Beliau lalu memanggilku.

“Pak, kalau puasanya batal, saya buatkan kopi, ya?”
“Tunggu dulu, Pak. Saya istirahat dulu.” Jawabku.
“Bagaimana Pak Herwansyah, kalau kita harus mendaki bukit itu, saya akan batalkan puasa saya. Saya sudah lemas nih, Pak.”
Pak Herwansyah terdiam. Dia juga sangat kelelahan. Bibirnya mulai memutih pertanda mulutya sangat kering dan kehausan.

“Kita istirahat dulu, Pak. Nanti kita lanjut lagi.” Pak Herwansyah mencoba menahan niatku membatalkan puasa.

Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat di pondok. Aku tertidur sejenak. Suara Pak Anshori, Pak Supen dan pemilik pondok mengobrol ,sayup-sayup terdengar. Aku kesluitan tidur karena terlalu kelelahan menahan haus, penat dan lapar.

Setelah sekitar 40 menit aku berbaring, tubuhku mulai segar. Niatku membatalkan puasa kuurungkan saja. Kulihat wajah Pak Anshori sangat segar. Meski tubuhnya kurus dan umurnya sudah di atas lima puluh tahun beliau tidak menunjukkan kelelahan meskipun berpuasa sambil bekerja berat. Aku mulai menemukan semangat setelah melihat senyum Pak Anshori.

“Ayo kita guyur (jalan)” Aku mengajak mereka beranjak dari istirahat.

Perjalanan dilanjutkan. Aku dan Pak Herwansyah tak pernah melewatkan untuk mengguyur kepala setiap menemukan sungai kecil di dalam hutan. Dengan begitu, kami berdua bisa bertahan. Aku juga terus mengingat bahwa apa yang sedang kujalani tidak ada apa-apanya dengan para pejuang kemerdekaan dulu yang berperang menaklukkan penjajah sambil berpuasa. Aku juga berusaha memotivasi diri dengan kisah-kisah para pejuang hebat yang meraih kemuliaan karena mereka tetap berpuasa meski harus menempuh perjalanan dengan berselimut badai pasir dan bersiram panas terik matahari.

Dengan langkah yang mulai gontai, kami tetap meneruskan pekerjaan sampai selesai. Pukul 15.30 akhirnya kami sampai Desa Bandar agung kembali setelah berjalan sekitar 10 km melintasi hutan, padang alang-alang, kebun kopi dan semak belukar di bawah terik matahari.

Saat yang ditunggu telah tiba. Segelas air telah menutup puasa yang sangat berkesan dalam hidupku hari ini. Aku menemukan makna kesabaran dan pelajaran menahan nafsu dari perjalananku hari ini.

Sesungguhnya kemenangan sejati adalah saat kita bisa mengalahkan hawa nafsu. Pertarungan jiwa harus terlebih dulu dimenangkan sebelum kita memenangkan pertarungan fisik. Betapa banyak peristiwa besar yang terjadi dalam sejarah dimana saat kemenangan dalam pertarungan jiwa dicapai maka kesuksesan besar akan diraih pula.

Selasa, 12 Juli 2011

Selasa, 12 Juli 2011

Fakta Bagaimana Pohon dapat Menyelamatkan Lingkungan

Fakta Bagaimana Pohon dapat Menyelamatkan Lingkungan
Achmad Siddik Thoha

  1. Sebuah pohon ukuran rata-rata menghasilkan cukup oksigen dalam satu tahun untuk menjaga keluarga beranggotakan empat orang untuk bernapas dengan nyaman.
  2. Tiga pohon yang ditanam di tempat yang tepat di sekitar bangunan dapat menghemat biaya AC sampai 50 persen
  3. Pohon meningkatkan nilai properti. Rumah dikelilingi oleh pohon bisa terjual 18-25 persen lebih tinggi dari rumah tanpa pepohonan.
  4. Pohon menghasilkan pekerjaan dan memberi kontribusi bahan baku untuk bangunan, surat kabar, buku dan lebih dari 15.000 produk hutan lainnya. Pohon dapat diperbaharui, dapat terurai secara biologi dan dapat didaur ulang. Kayu bisa diolah lebih lanjut menjadi produk seperti vitamin, plastik, rasa vanila, film fotografi, pasta gigi dan obat-obatan.
  5. Dengan penanaman 20.000.000 pohon, akan tersedia 260.000.000 ton lebih oksigen bagi bumi dan penduduknya. Pohon sebanyak itu akan menghapus 10 juta ton CO2.
  6. Pohon menyediakan tempat berlindung dan makanan bagi satwa liar seperti burung, tupai, dan serangga. Pohon-pohon berukuran pendek menyediakan makanan dan pelindung untuk mamalia yang lebih besar, seperti musang dan rusa.
  7. Pohon membuat orang merasa lebih baik. Pekerja lebih produktif ketika mereka melihat pohon-pohon di sepanjang rute perjalanan mereka dan dari jendela kantor mereka.
  8. Pasien di Rumah Sakit yang memiliki pemandangan pohon akan lebih cepat sembuh, menggunakan obat nyeri lebih sedikit, dan meninggalkan rumah sakit lebih cepat dibandingkan pasien dengan pemandangan dinding bata. Pasien dengan pemandangan pohon menghabiskan hari 8 persen lebih sedikit di rumah sakit.
  9. Konsumen bersedia untuk menghabiskan lebih banyak uang di komplek perbelanjaan yang terdapat banyak pohon. Mereka bersedia membayar lebih untuk produk yang dibeli di sebuah komplek perbelanjaan dengan pepohonan. Mereka pembeli yang sama juga mengatakan mereka bersedia untuk tinggal lebih lama di sebuah komplek perbelanjaan dengan pepohonan.
  10. Pohon yang berada di lingkungan kita akan membuat kita santai, denyut jantung yang lebih rendah, dan mengurangi stres.

Diadaptasi dari http://www.zapworld.com/10-facts-trees-help-save-evironment

Sabtu, 02 Juli 2011

Sabtu, 02 Juli 2011

Pohon Membuat Kita Kaya

Mengambil Hikmah dari Berlibur : Pohon Membuat Kita Kaya
Achmad Siddik Thoha

Musim liburan akan berakhir. Seorang keluarga kaya sudah menghabiskan waktu berkeliling tempat wisata terkenal. Namun mereka sepertinya tidak mendapatkan kepuasan batin dengan kegiatan rekreasinya.

Suatu ketika, mobil mereka terhenti di sebuah desa yang jauh dari keramaian. Mereka tertarik dengan pemandangan alami desa itu. Sawah terhampar menghijau. Burung berkicau sangat indah. Para petani menabur pupuk dan menjaga padinya. Dari jauh terlihat perkampungan di tengah sawah yang dikelilingi pepohonan.

Sang Ayah mengajak anak satu-satunya berjalan menuju kampung untuk meilhat lebih dekat kehidupan masyarakat desa. Mereka melihat-lihat pemandangan dan aktifitas masyarakat tanpa mengganggunya. Ayah dan anak itu sangat menikmati kegiatan ini sampai terlupa mobil yang ditinggalkannya.

Tibalah mereka di sebuah gubuk di tengah sawah. Ayah dan anak ini duduk melepas lelah sambil menikmati hamparan padi muda dan semilir angin sore. Sang Ayah kemudian memulai pembicaraannya.
”Anakku, apakah kamu senang dengan perjalanan barusan?”
”Sungguh menakjubkan Ayahku...baru kali ini aku merasakan perjalanan rekreasi yang berkesan.” Jawab Sang Anak.

”Apa yag membuatmu sangat terkesan sayang?” Sang Ayah penasaran
”Ternyata mereka lebih kaya daripada kita Ayah” Anak itu menjawab perlahan. Ayahnya mengangguk pelan. Dia yakin anaknya punya alasan yang akan membuatnya kagum. ”Coba terangkan alasanmu, Nak, mengapa mereka lebih kaya?”

Sang anak menghela nafas sejenak.
” Ayah...kita memiliki kendaraan mewah yang bisa mengantar kita tanpa terkena panas dan hujan. Tapi mereka punya kaki yang kuat dan tubuh yang bersahabat dengan panas dan hujan.”
” Kita punya seekor kucing dan tiga ekor burung yang dibeli sangat mahal. Mereka memiliki banyak sekali hewan peliharaan yang datang sendiri kerumah mereka.”
” Kita membeli AC dan kipas angin untuk mengusir panas. Mereka memiliki udara yang segar dan bersih dimana pun mereka bekerja dan beristirahat.”
” Kita mempekerjakan pembantu untuk melayani kita. Mereka hidup saling melayani satu sama lain tanpa ada yang meminta upah.”
” Kita harus membeli makanan dan dilayani saat waktu makan. Mereka bisa menyediakan makanannya, memasak dan menghidangkannya sendiri.”
”Kita hanya punya tanah yang sempit di depan rumah kita. Mereka memiliki halaman sebatas mata memandang.”
”Kita punya rumah yang tidak luas dan kamar yang sempit. Rumah mereka beratap langit dan mereka tidur dimanapun berselimut embun.”
” Kita memagari rumah dan membuat dinding tinggi agar aman. Mereka mempunyai banyak tetangga dan sahabat yang saling melindungi dan membuatnya aman.”
” Kita minum dan mandi dengan batasan biaya. Mereka bebas mandi, mencuci dan minum air tanpa membayar.”
” Kita kesini dengan menyisihkan tabungan berbulan-bulan. Mereka tiap saat menikmati pemandangan dan suasana alami dan memetik hasil darinya.”

Sang Ayah memeluk tubuh anaknya. Semilir angin mengiringi langkah merka menembus persawahan menuju mobil yang ditinggalkannya sejak tadi pagi. Mentari sore mengiringi perjalanan pulang mereka. Mereka telah mendapatkan hikmah dari perjalanannya.

Minggu, 26 Juni 2011

Minggu, 26 Juni 2011

Menarik Simpati Seperti Bunga

Menarik Simpati Seperti Bunga
Oleh Achmad Siddik Thoha

Pagi yang sejuk di sebuah taman, berbagai bunga sedang beranjak dari tidurnya. Beraneka jenis dan warna bunga tumbuh subur di taman itu. Setiap pagi banyak orang mampir untuk sekedar menikmati keindahan warna dan harum wangi bunga-bunga itu.

Serumpun bunga berwarna ungu pagi itu tidak membuka kelopaknya lebar-lebar. Dia seolah menyembunyikan diri tidak ingin dilihat, dicium dan disentuh siapapun.
Bunga merah memberanikan diri bertanya :

“Bunga Ungu, mengapa kamu menyembunyikan kelopak bungamu yang indah dan wangi itu?”
“Keindahan ini harus kunikmati sendiri. Aku tak ingin kumbang, lebah, kupu-kupu dan manusia mengambil apapun diriku.”
“Lalu bagaimana kamu bisa melakukan pembuahan dan menghasilkan bunga baru?” tanya bunga merah lagi.
“Aku bisa melakukukannya sendiri,” jawab bunga ungu sambil menutup rapat kelopak bunganya. Ia seprtinya tidak ingin melanjutkan pembicaraan dengan bunga merah.

Seminggu berlalu. Setiap pagi di taman itu, bunga-bunga mekar dan menebarkan pesona serta wangi. Kumbang, lebah, kupu-kupu dan manusia begitu antusias datang dan menikmati keindahan mereka. Namun tidak bagi bunga ungu. Tak ada lagi bunga segar dan wangi dari tubuh tumbuhan itu. Tak ada bunga baru. Yang ada hanya daun dan cabang yang tidak menarik. Tak ada kumbang, lebah, kupu-kupu apalagi manusia yang menengoknya.

Sore itu, seorang lelaki perawat taman mencabut tanaman berbunga ungu yang tidak bisa berbunga lagi. Dia mengganti dengan tanaman lain yang berbunga mekar.

***
Sahabat, seperti bunga yang membutuhkan lebah untuk melakukan pembuahan, ia menyediakan dirinya untuk dinikmati keindahan warna dan manisnya nectar (cairan) pada dirinya. Ia sangat tahu kebutuhan lebah. Ia memberikan apa yang makhluk lain butuhkan. Ketulusan bunga menyediakan kebutuhan makhluk lainlah yang membuat ia sangat dicintai oleh banyak makhluk. Sebaliknya keengganan bunga untuk menyediakan kebutuhan yang lain akan membuatnya dijauhi dan tidak mendapat tempat di manapun.

Sahabat, penghargaan dan penghormatan adalah kebutuhan yang sangat penting bagi manusia. Orang yang menyediakan kebutuhan orang lain pasti akan mendapat simpati. Apalagi kebutuhan itu adalah penghargaan dan penghormatan.

Mustahil kita akan dicintai, mendapat simpati dan dihargai orang lain tanpa terlebih dahulu memberikan penghargaan pada mereka. Orang lain akan menempatkan diri termasuk menghargai kita sesuai apa yang kita berikan padanya. Kita memberi senyum orang lain akan membalasnya dengan senyum. Kita memberikan penghormatan, mereka akan hormat pada kita.

Sahabat, berikan kebutuhan sahabat kita walaupun hanya sebuah senyuman tulus.

Sabtu, 25 Juni 2011

Sabtu, 25 Juni 2011

Berbagi Keindahan untuk Amarilys

Berbagi Keindahan untuk Amarilys
Oleh : Achmad Siddik Thoha


Taman dengan berbagai bunga cantik dan pepohonan teduh menarik perhatian seorang pemuda. Dia sangat takjub dengan lukisan indah yang tersusun dari berbagai warna, corak dan bentuk tanaman indah. Dia penasaran ingin mengetahui siapa yang merawat taman ini.

Seorang pria tua sedang duduk sambil mengamati bunga Amarilys yang tampak mekar. Amarilys menampilkan mahkota merah yang menakjubkan. Ia sering disebut bunga hujan. Sangat serasi dengan pohon peneduh yang menaunginya, Trembesi, Sang Pohon Hujan (Samanea saman). Bunga hujan yang menyejukkan, tumbuh menebar cinta dibawah kesejukan dan keteduhan Pohon Hujan.

”Pak, boleh saya bertanya, siapakah yang merawat taman ini?” Pemuda memulai pembiacaraannya dengan pria tua itu.

”Saya sendiri, nak.” Pria tua memandang pemuda itu dengan tatapan teduh. Seteduh Trembesi.

”Apa rahasianya sehingga bunga dan tumbuhan lain disini tumbuh subur dan menampilkan keindahannya yang menakjubkan? ”

”Kamu tahu mengapa aku duduk berlama-lama memandangi bunga Amarilys ini?”
”Tidak, Bapak. Dan sepertinya Bapak melakukannya setiap hari.”
”Benar, aku memandangi Amrilys dan tumbuhan lain di Taman ini setiap saat sebelum aku memulai bekerja da sebelum meninggalkan taman ini.”

”Mengapa, Bapak harus melakukannya, apakah Bapak takut tumbuhan ini rusak?”
Pria tua itu terdiam. Pandangannya kemudian dialihkan kembali ke Amarilys cantik di sisi kanan dia berdiri. Dia menunjuk ke salah satu kuntum bunga hujan.

”Coba kamu lihat iini. Apa yang kamu lihat dari bunga ini?
Pemuda itu bingung. Dia tidak paham apa maksud pertanyaan itu. Dia menjawab agar pria tua itu tidak kecewa.

”Bunga ini sangat indah dan pasti banyak yang menyukainya. Harganya juga past mahal, Pak”

”Begitu saja?” Pria tua menimpali.

”Hmm..mungkin bunga ini hasil dari perawatan yang sangat baik, sehingga bisa tumbuh subur dan cantik. Ya, itu saja, Pak.”

Pria tua itu kemudian menyentuh lembut kelopak demi kelopak Amarlirys.
”Tidak sekedar itu, nak. Saat aku kupandangi Amarylis, terbayang dipikiranku segumpal awan yang menyemai uap air. Ketika kusentuh ia, terlintas pula titik-titik hujan yang jatuh membelai lembut permukaan tanah. Terpikir juga olehku mineral dalam tanah yang membuat tanah subur. Aku juga melihat matahari yang menghangatkan dan udara yang menyejukkan menelusup masuk ke tubuhnya. Kubayangkan sederet waktu, segunung ketekunan dan selangit cinta orang-orang yang merawatnya. Banyak sekali yang membentuk bunga hujan ini sampai menjadi secantik ini.

”Bapak, Bapak. Apakah yang menjadikan Bapak memiliki padangan yang sangat dalam seperti itu? Padahal ini hanyalah bunga, Pak.” pemuda itu terkagum-kagum.

”Bila kita menatapnya dengan penuh kesadaran, sepenuh jiwa dan pikiran serta penuh kedamaian, keindahan bukan hanya milik bunga ini. Keindahan Amarilys hasil dari berbagai elemen yang saling memberi peran. Mereka saling menanggung satu sama lain. Amarilys takkan seindah ini bila tidak ada yang lainnya.”

*****

Sahabat, tak ada di dunia ini yang bisa hidup sendiri. Tak satu pun diantara kita yang bisa eksis tanpa dukungan sesuatu yang lain. Nyatanya, bunga terwujud keindahannya dari unsur di luar bunga. Eksistensi takkan bisa berdiri sendiri di dunia ini. Bahkan diri kita sendiri, ada sesuatu yang lain yang membuat diri kita eksis, produktif dan sukses.

Persepsi ini hanya timbul dari orang yang mempunyai kesadaran dan kedamaian jiwa.
Kesadaran bahwa eksistensi kita ditentukan oleh yang lain akan menumbuhkan jiwa yang damai, jauh dari kecurigaan, kebenciaan, dendam dan tindakan yang merusak. Tanpa sesuatu yang lain, kita takkan ada. Dengan memelihara sesuatu yang lain itulah eksistensi kita akan terjaga. Sebaliknya, menghilangkan keberadaan sesuatu di luar kita sama saja kita mengantar jiwa dan raga kita pada kebinasaan.

Berapa ragam keahlian dan profesi yang harus ditekuni agar benih padi kemudian menjelma menjadi nasi lezat yang siap saji di depan kita. Berapa panjang rangkaian ilmu yang disusun agar kita bisa nyaman menyantap daging. Betapa tidak mudahnya mengurai komponen yang tersusun agar kita bisa menghidangkan sayur yang sehat. Sesuatu yang ternyata hanya terkumpul dalam satu piring hidangan makan malam kita. Hidangan itu ternyata butuh banyak elemen yang menyusunnya, beragam keahlian yang harus dikuasai dan rangkaian panjang ilmu yang mendukungnya.

Lalu mengapa kita harus merasa lebih baik dari yang lainnya kalau kita tergantung padanya. Mengapa kita merasa paling benar, padahal kebenaran itu hanya milik-Nya. Mengapa kita masih sulit berbagi, padahal semesta berperan atas eksistensi kita. Semesta adalah diri kita. Dan Sang Maha Pencipta penentu kita. Maka kembalikan diri kita hanya pada-Nya.

Kamis, 23 Juni 2011

Kamis, 23 Juni 2011

Tolong Jaga Mata Saya

Tolong Jaga Mata Saya
Oleh : Achmad Siddik Thoha

Hari-hari Gadis cantik itu dilalui dengan wajah murung. Ia bahkan membenci dirinya sendiri. Dia benci karena tak bisa melihat keindahan yang ada di dunia karena dilahirkan dalam keadaan buta.

Namun ada harapan yang mmbunacah di dadanya. Harapan itu adalah seorang pemuda, tetangganya yang sering diceritakan oleh ayahnya. Setiap pemuda itu lewat depan rumahnya, ayah si gadis selalu memanggilnya.

“Coba kau dengar suara langkah itu. Langkah itu berasal dari seorang pemuda baik dan tampan, tetangga kita.”

Suatu hari si pemuda itu lewat depan rumah si gadis. Dengan tergesa-gesa gadis itu mendekati bunyi langkah tersebut. Suara itu seolah magnet yang menarik dirinya untuk mendekat.

”Apa kabar?” Kata Si pemuda itu.

”Sa..sa..ya..Ba...baik.” Gadis itu tergagap menjawab sapaan pemuda itu. Ia tak menyangka sapaan itu terlontar.

”Mari, saya pulang dulu.” Pemuda itu berlalu begitu saja.

”Ya...ya...silahkan.” jawab gadis itu. Ia mulai bisa menguasai dirinya.

Sejak itu rasa rindu akan langkah dan sapaan menghiasi hidup si gadis. Anehnya, pemuda itu hanya mengucapkan kata yang sama setiap lewat di depan rumah gadis itu.

”Apa kabar?”
”Mari, saya pulang dulu.”

Lebih aneh lagi, si gadis sangat bersuka cita meski hanya bisa membalas dengan kata yang sama pula, namun dalam suara yang tidak gagap

”Saya Baik.”
”Ya, silahkan.”

Peristiwa itu telah mengubah hari-hari yang tadinya diselimuti oleh kesedihan berubah menjadi hari penuh bunga dan lukisan pelangi di hati si gadis. Kehadiran si pemuda telah mengubah kesedihan menjadi keceriaan.

”Anakku, kemarin pemuda tetangga kita itu datang. Ia melamarmu. Bagaimana pendapatmu, apakah kau mau menerimanya?” Ayah si gadis melontarkan kalimat yang cukup mengejutkan.
Si Gadis tak sanggup menahan rasa harunya. Ia mengangguk pelan sambil mengucapkan syukur. Ada dua tetes air bening melintas menuruni pipinya. Ia menangis haru.

”Tapi, pemuda itu juga ingin pendapatmu. Seandainya kau bisa melihat nanti, apakah kau masih mau menikah dengannya?”

”Tentu saja, Ayah.” Jawab si gadis dengan tegas.

Suatu hari, Ayah si gadis mengajaknya ke rumah sakit. Ayahnya menerima sumbangan sepasang mata dari seseorang. Operasi mata berlangsung sukses dan si gadispun akhirnya bisa melihat keindahan dunia. Sebuah nikmat yang begitu ia nanti-nanti di sepanjang hidupnya.

Beberapa hari setelah bisa melihat, si gadis kedatangan tamu. Tamu itu ternyata seorang pemuda tampan berkaca mata hitam yang dituntun oleh lelaki tua. Pemuda itu melepas kaca matanya dan sungguh mengejutkan karena ternyata pemuda itu tidak mempunyai bola mata.

Pemuda itu lalu memulai pembiacaraan.

“Apa kabar?”

“Oh, sepertinya aku sangat kenal dengan suara ini.” Kata si gadis dalam hati.

Lalu orang tua pendamping pemuda itu menyampaikan maksud kedatangannya, bahwa kehadiran mereka kesini adalah menanyakan rencana pernikahan.

Gadis itu tampak terpukul mendengar maksud kedatangan tamunya. Ia lalu pergi meninggalkan tamunya itu masuk. Ia mengunci diri di kamar. Esok harinya ia menemukan sepucuk surat di atas meja di ruang tamu. Dalam surat itu hanya tertulis satu kalimat.

“Meskipun kamu tidak menerima saya lagi, tolong jaga mata saya.”

Dibawah surat itu tertera tanda tangan dan sebaris nama. Langsung gadis iu pingsan. Nama yang tertera itu adalah nama si pemuda tetangga yang saat dia buta begitu merindukannya dan dia bersedia menikah dengannya.

****

Sahabat, terkadang manusia melupakan masa pahitya ketika keadaan saat ini sedang dalam kesenangan. Kalaupun dia mengingatnya, hanya sedikit dan sekejap saja lalu melupakannya kembali. Mereka sering lupa pada orang-orang yang dulunya telah mengembalikan semangat hidupnya saat dia terjatuh. Mereka begitu mudah menghapus kenangan indah hidup bersama, saling berbagi dan merasa senasib sepenanggungan di saat sulit.

Sahabat, status seseorang bisa merubah pandangan yang dulunya cinta sekarang bisa menjadi benci. Dulu saat kehidupan menyakitkan, mereka menjadi teman akrab namun ketika hidup mulai nyaman berubah menjadi pesaing bahkan musuh.

Sahabat, tetaplah ingat pada masa-masa sulit beserta orang-orang yang berjasa membuat kita bertahan dan bangkit. Pelihara memori indah saat kita ditimpa ujian dan bersama siapa kita saat itu. Dan ketika badai kehidupan berlalu dan kita sudah berlabuh di dermaga kesenangan, ajaklah mereka untuk menikmati keindahan dunia bersama-sama, sama seperti ketika menikmati gelapnya dunia.

Rabu, 22 Juni 2011

Rabu, 22 Juni 2011

Tikar Ramah Lingkungan (TIRAM) Bogor

Tikar ramah lingkungan memanfaatkan sisa-sisa produksi pabrik plastik yang memproduksi lemari plastik dll.

Ukuran 2,5mx1,5m, tahan lama, tahan air, mudah dibawa ke acara outdoor, bermotif dan bertekstur kecuali yang glossy, sangat cocok digunakan di acara indoor.Harga tikar : Rp 200.000 Harga tas : Rp 20.000
Info dan Pemesanan : Popie susanty 081584461115



Tikar Digelar
Tikar dilipat


Contoh Motif TIRAM Bogor


Tikar dengan Tas Jinjing unik

Usaha Para Anggota Komunitas Pohon Inspirasi

Usaha Para Anggota Komunitas Pohon Inspirasi

Dear Sahabat PI,
Untuk mewadahi usaha atau bisnis para anggota Facebook POHON INSPIRASI dan Fans Page Komunitas Pohon Inspirasi, admin memberi ruang pada Sahabat untuk menitipkan "pohon usaha" nya di blog ini.

Syarat :

  1. Barang/Kegiatan ramah lingkungan yang memberi solusi bagi pembangunan ramah lingkungan dan tidak melanggar hukum
  2. Pelatihan/Training dalam rangka menghasilkan SDM Unggul yang siap berbagi dan menginspirasi bagi sesama dan alam
  3. Kegiatan bernilai profit yang menarik dan membawa manfaat bagi masyarakat
  4. Buku yang bisa membuat pembacanya mendapat inspirasi hidup
  5. Memberikan deskripsi barang/kegiatan/pelatihan yang ringkas (Who, Where, When, What, How, Advantages and contact )
  6. Akan lebih baik bila disertai gambar
  7. Berkomitmen untuk bisa saling berbagi untuk mendukung kegiatan Komunitas Pohon Inspirasi di berbagai wilayah (donasi sukarela)


Bagi yang berminat segera kirim deskripsi barang/kegiatan/pelatihan ke email : siddikthoha@yahoo.com

Terim kasih

Salam
Admin

Selasa, 21 Juni 2011

Selasa, 21 Juni 2011

Ketajaman Hati

Ketajaman Hati
Oleh Achmad Siddik Thoha

Di sebuah perkampungan yang dikelilingi hutan, hiduplah seorang guru agama yang terkenal bijak. Ia juga dikenal sebagai pembuat barang kerajinan gerabah, perkakas berbahan tanah liat. Dua kali dalam sepekan dia membawa kerajinan tangannya ke pasar untuk dijual. Kali ini, sang guru sangat yakin bahwa hasil kerajinan gerabahnya sangat bagus, sempurna dan tak ada cacat.

Sambil terus membaca kalimat-kalimat doa, dia menunggui dagangannya menanti pembeli . Tiba-tiba seorang pria mendekat dan mengamati kerajinan Sang guru. Pria itu ternyata juga seorang pengrajin gerabah. Lama pria itu memegang, memutar, meraba, mencium dan mengamati kerajinan buatan sang guru. Pria itu lalu berkomentar,
”Gerabah ini bagus, sayang masih ada cacat, ini, ini dan ini.

Dengan cepat, sang guru mengambil kembali gerabah yang ada di tangan calon pembeli itu. Lalu dia terduduk lemas sambil menangis. Pria itu bingung tanpa kepalang melihat guru yang bijak itu menangis. Pria itu tampak sangat menyesal karena membuat sang guru menangis. Pria itu meminta maaf dan akan membeli gerabah itu sekalipun dengan harga yang sangat mahal.

Sang guru sambil terisak mengemukakan alasan dia menangis,
”Kenapa aku menangis, bukan seperti yang kamu duga. Gerabah ini dibuat tidak sembarangan Dia gerabah istimewa, tidak seperti gerabah lainnya. Aku membuatnya dengan sangat hati-hati, perlahan dan teliti. Kubentuk dengan penuh perasaaan dan konsentrasi penuh. Kuhaluskan berulang-ulang agar tampak sempurna. Saat membakar, kukerjakan dengan hati-hati dan sangat kuperhitungkan kekerasannya agar kuat dan tidak mudah pecah. Ukirannya kukerjakan cukup lama agar nampak indah dan tidak ada yang cacat.

Isak tangis belum Sang guru yang bijak semakin menyayat hati saat dia melanjutkan penjelasannya,
”Namun, saat hasil gerabahku ini diamati oleh manusia, terlihat ada cacat dimana-mana yang sama sekali aku tidak menyadarinya. Lalu, bagaimana nanti dengan perbuatan perbuatan kita tatkala kita dihadapkan pada Yang Maha Melihat. Berapa banyak cacat dan dosa yang akan tampak dari perbuatan itu yang tidak kita sadari!"

Sahabat, Sang guru bijak memiliki hati yang tajam dan sentitif terhadap setiap ketukan yang menyentuh hatinya. Sang guru merasa mendapat sebuah peajaran berharga yang mampu membangkitkan ketajaman hatinya. Sang guru sangat takut akan segala kekurangan pengabdiannya pada-Nya. Sang guru sangat sedih bila perbuatan yang dikerjakannya selama ini terdapat kekurangan disana-sini.

Seperti yang dikatakan oleh Al-Jauzi " Takut pada—Nya dan keimanan akan mempertajam mata hati pelakunya. Apa pun peristiwa yang terjadi di sekitar, ia akan dapat mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Panasnya musim kemarau mengingatkan pada api neraka, gelapnya malam mengingatkan gelap gulitanya alam kubur, hawa sejuk dan indahnya musim semi mengilhami untuk mencari rezeki yang halal."

Orang dengan hati yang tajam selalu mampu mengambil pelajaran dalam setiap kejadian. Ketika melihat alam sekitar dia tidak menyia-nyiakan waktunya sekedar mengamati tanpa mendapat inspirasi hidup darinya. Setiap yang dilihatnya baik berupa fenomena alam maupun peristiwa kehidupan menjadikan dia semakin dekat pada-Nya. Tidaklah heran, orang-orang bijak mampu menguak rahasia dibalik peristiwa disebabkan oleh ketajaman mata hatinya.

Sahabat, sungguh kita merindukan orang-orang yang tajam mata hatinya dalam kehidupan kita. Pemimpin yang tajam hatinya takkan membiarkan yang dipimpinnya sengsara dan dilanda konflik. Pejabat yang hatinya tajam takkan tega melakukan korupsi karena takut mendapat siksa dari-Nya. Orang tua yang memiliki ketajaman mata hati akan mendidik anak-anaknya dengan hat-hati dan serius, khawatir kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Dan kita semua pasti memiliki hati, hanya tinggal mengasahnya agar semakin tajam, setajam mata hati Sang Guru.

Jumat, 17 Juni 2011

Jumat, 17 Juni 2011

Hari Lingkungan Hidup Bersama POHON INSPIRASI

Hari Lingkungan Hidup Bersama PI: 
Menanam Pohon Memperbaiki Bantaran Sungai
Minggu 3 Juli 2011


Kegiatan ini Kerjasama Komunitas Pohon Inspirasi, Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN), Persaudaraan Muslimah (Salimah) PC Ciampea dan Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana (Himmpas) IPB

Waktu : Minggu, 3 Juli 2011 pukul 08.00 - 14.00
Tempat : Desa Cihideung Ilir Kec. Ciampea Kabupaten Bogor (dekat Kampus IPB Darmaga)


Acara

Pembagian dan Penanaman Bibit Pohon
Panitia dan peserta akan membagikan 1000 Bibit pohon dari berbagai jenis untuk membantu masyarakat kurang mampu (dluafa) untuk meningkatkan nilai lahan dan melindungi lahannya dari luapan air, erosi dan banjir dari Sungai Cihideung.

Pelatihan Pemanfaatan Sampah Rumah Tangga
Pelatihan ini diperuntukkan bagi Ibu Rumah Tangga baik dari Majelis Taklim maupun perorangan yang kurang mampun agar dapat meningkatkan pendapatannya melalui pemanfaatan sampah non-organik (plastik).
 
Acara dikuti oleh 1000 orang yang terbagi atas 2 kegiatan, 45 orang mengikuti Jalan Sehat, Membagi dan Menanam 1000 bibit, sedangkan 55 orang mengikuti Pelatihan Pemanfaatan Sampah Rumah Tangga.
 
Terima kasih kepada semua Sahabat Komunitas Pohon Inspirasi khususnya para donatur yang telah menyumbangkan dananya sehingga acara ini berlangsung sukses dan memberikan manfaat.
 
 
















Sekokoh dan Selentur Bambu

Sekokoh dan Selentur Bambu
Oleh Achmad Siddik Thoha

Semua orang tak ada yang tak mengenal bambu. Tumbuhan yang sering disebut juga dengan pohon bambu.  Bambu sebenarnya berasal dari keluarga rumput-rumputan. Namun ia memiliki batang yang seperti layaknya pohon. Maka bambu laksana raja dari masyarakat rerumputan.

Bambu ada yang tumbuh secara berumpun (Simpodial) dan ada pula yang secara individual (monopodial).  Bambu hidup di hampir seluruh kawasan Asia. Bahkan China dijuluki sebagai negeri tirai bambu karena luasnya hutan bambu yang tumbuh disana. Demikian juga negeri Jepang, sangat terkenal dengan bambunya, karena telah menjadi bagian dari budaya dan kebutuhan hidup.

Dari sisi pertumbuhan, bambu terbilang lambat di awal pertumbuhannya.  Bukan tanpa maskud, bambu membentuk sruktur akar yang kuat mengeraskan tanah dan mengambil ruang bersaing dengan tanaman lain selama tiga tahun. Baru sekitar tahun keempat, akar bambu mulai tumbuh subur dan memiliki kekuatan luas biasa. Tahun kelima barulah batang bambu muncul.

Bambu tergolong keluarga gramineae, disebut juga dengan giant grass berumpun dan terdiri atas sejumlah batang yang tumbuh secara bertahap. Mulai rebung, batang muda, hingga umur dewasa yang mencapai 45 tahun. Bentuk batang bambu berbuku-buku atau beruas. Dia juga berdinding keras, dan di tiap ruasnya ditumbuhi mata tunas atau cabang. Meski berasal dari keluarga rerumputan, bambu memiliki ekspresi yang berbeda dari tanaman rumput lain. Bambu memiliki batang yang besar dan panjang menjulang hingga mencapai 30 m. Bambu memiliki batang yang lentur, selentur tanaman rerumputan lain. Daunnya yang seperti rumput mempunyai kesan unik tersendiri.

Dengan akar yang kuat dan batang yang lentur, bambu memiliki ketahanan yang tinggi dari terpaan angin. Saat angin kencang bertiup dan banjir melanda, bambu tetap bisa bertahan.  Dia melambai gemulai mengikuti kecepatan angin.  Akarnya yang kokoh tetap bertahan menahan gerusan banjir yang akan menghayutkannya. Saat pohon-pohon lain bertumbangan, bambu tetap tegak berdiri dan berayun gemulai.
Manfaat bambu sangatlah banyak. Bahan bangunan, peralatan makan, jembatan, bahan makanan, perabotan rumah tangga, hiasan dan souvenir adalah deretan manfaatnya.  Namun manfaat terbesar terletak pada fungsi pelestari lingkungan yang paling baik. Bisa kita buktikan bahwa setiap ada rumpun bambu di sana, sudah pasti ada sumber air. Bambu mampu melindungi tanah dari benturan tetes air dan gerusan aliran permukaan saat hujan lebat dan banjir.
Bambu menyimpan banyak inspirasi bagi manusia.  Latar belakang bambu yang berasal dari keluarga rumput yang notabene tumbuhan lemah dan diremehkan tidaklah menghalanginya berekspresi.  Bambu mampu mengekspesikan diri menjadi sosok yang kokoh namun lentur dan kaya manfaat. Dengan kemapuan ekspresi yang kuat dan unik maka kita akan berhasil menjadi yang terbaik, minimal di komunitas kita.

Fleksibilitas bambu mnegajari manusia bagaimana mampu beradaptasi pada lingkungan yang ekstrim sekaligus.  Saat arus tantangan dan ujian datang, kita perlu bersikap lentur, tidak menentang atau hanyut dan lari dari ujian.  Penentangan yang keras akan berakibat robohnya ”tubuh” kehidpan kita, sebaliknya hanyut dan lari dari masalah akan menghilangkan eksistensi diri.  Maka bersikap lentur, menyesuaikan dengan keadaan adallah pelajaran berharga dari bambu.  Saat orang lain bertumbangan dalam mengahadapi masalah, maka manusia berkarakter bambu akan tetap eksis, menampilkan lambaian indah dan terus memberi manfaat.

Hanya manusia yang tetap eksis jati dirinya dan kokoh pendiriannya yang bisa memberi banyak manfaat bagi lingkungan. Bila kita ingin mampu memberi manfaat sebanyak mungkin lingkungan kita, maka keberanian berekspresi secara maksimal, fleksibilitas menghadapi tantangan dan tak peduli dengan masa lalu, maka karakter bambu bisa kita contoh.

Selasa, 14 Juni 2011

Selasa, 14 Juni 2011

Kisah Survival I : Putus Asa, Mengubur Diri Sebelum Mati

Kisah Survival I : Putus Asa: Mengubur Diri Sebelum Mati
Oleh Achmad Siddik Thoha

Sebuah pesawat jet terhempas keras di Pegunungan berhutan lebat di Alaska. Sang pilot tak bisa mengendalikan pesawat pribadi ini setelah terperangkap di udara yang penuh dengan rombongan burung yang sedang bermigrasi. Tabrakan tak terelakkan dan akhirnya hutan penuh dengan daun jarum menyambut kejatuhan mereka.

Beruntung, seluruh penghuni pesawat selamat. Tiga orang berasal dari rombongan orang kaya di Amerika Serikat akhirnya harus menghadapi kenyataan pahit. Mereka harus bertahan hidup di belantara yang dingin dan ganas.

Seorang miliarder yang cerdas bernama Charles, bersama fotografer ternama, Robert, serta Stephen, seorang kru pemotretan merangkap pilot akhirnya harus bersitegang satu sama lain. Mereka panik menghadapi situasi tak terduga ini.

Robert menawarkan pada rekannya agar mendaki puncak gunung. Dia berharap dapat menemukan bantuan di sana. Robert ternyata juga ingin mencari kesempatan untuk membunuh Charles dengan harapan dapat menikahi istrinya, yang diam-diam berselingkuh dengannya. Dia mempunyai niat sangat jahat pula pada Stephen, si kulit hitam yang menurutnya sebagai sampah tak berguna dengan keluhannya yang memuakkan.

” Aku pasti akan mendapat bantuan dengan mendaki ke puncak gunung itu. Pasti ada menara komunikasi dan posko bantuan di sana. Helikopter akan melintas disana suatu saat. Kalau kalian mau ikut, berjalanlah dibelakangku. Kalau tidak, kalian akan jadi umpan beruang Alaska yang ganas disini.” Robert menawarkan solusi secara egois.

Stephen sebaliknya, dia tak mampu berpikir jernih dan terkulai lemas. Dia berpikir, sebentar lagi hidupnya akan berakhir karena tak ada lagi yang mampu melawan keganasan alam liar tanpa bekal. Dia terkena depresi berat.

”Apa yang bisa kita lakukan dalam kondisi tanpa bekal dan peralatan di rimba yang kita tak tahu posisi dimana kita. Kita akan matiiii...” Stephen berteriak histeris memperlihatkan keputusasaan yang sangat.

Lain halnya dengan Charles, dia nampak tenang. Sebagai pria terkaya di AS, ia banyak mengalami kondisi sulit dalam perjalaan suksesnya. Dia juga seorang kutu buku yang sering melahap buku-buku petualangan alam liar. Ia memilih untuk berpikir dulu sambil merancang strategi perjalanan menemukan bala bantuan. Lalu dengan tenang ia berkata,

”Di kota, kita adalah pria sukses dengan banyak pengagum. Seluruh orang melayani kita. Kita juga saling bersaing bahkan terkadang dengan cara yang tidak terhormat. Kini kita berada di alam liar dimana hanya Tuhan yang menggenggam nasib kita. Selebihnya adalah bagaimana kita bisa menyingkirkan ego dan bersama-sama mencari jalan keluar. Kita sama sekali tak tahu harus menuju kemana. Tapi kita akan pecahkan masalah ini bersama. Dengan bersama kita akan lebih kuat dan saling membantu”

”Kalian tahu, mengapa orang yang tersesat di hutan mati?” Tanya Charles dengan keras

”Karena mereka berputus-asa” kedua rekannya tertunduk mendengar pernyataan Charles yang mengandung filosofi.

Tiba-tiba terdengar suara raungan beruang Alaska yang sumbernya makin dekat. Mereka akhirnya lari terbirit-birit mencari tempat persembunyian. Beruang itu terus mengejar. Akibatnya, Stephen mengalami luka parah akibat terjatuh ke lubang. Pelarian menjadi semakin berat.

Charles mengeluarkan seluruh pengalaman dan pengetahuannya yang luas. Ia mulai mempraktekkan teknik survival suku Indian dari buku panduan yang terselip di saku bajunya. Dia juga mencoba merancang strategi perlawanan untuk membunuh Beruang ganas itu. Sementara Robert yang sejak awal punya niat membunuh Charles mulai goyah. Dia akhirnya bahu membahu mengikuti saran Charles untuk bisa bertahan hidup, merawat Stephen yang lukanya makin parah serta menghadapi secara jantan beruang yang akan menerkam mereka.

Singkat cerita, perjalanan survival mereka dijalani bersama. Namun Robert sering melakukan tipuan untuk membunuh Charles. Justru yang terjadi sebaliknya, Robert akhirnya mati terperosok ke dalam jebakan yang dibuatnya sendiri. Adapun Stephen, lukanya yang parah dan kondisi psikisnya yang lemah akhirnya tak dapat ditolong. Dia dikubur di tengah hutan.

Akhirnya Charles bertemu dengan seorang pemburu dari suku Indian Alaska. Melalui pertarungan sengit, akhirnya Beruang ganas itu bisa dibunuh oleh mereka. Dengan bekal daging yang lezat dan kulit beruang yang hangat, Charles bersama Si Pemburu suku Indian akhirnya menemukan bala bantuan. Charles akhirnya selamat dan bertemu dengan keluarganya.

Ini adalah salah satu ringkasan cerita yang diadaptasi dari Film The Edge yang dibintangi aktor Kawakan Anthony Hopkins (Charles) dan Alec Baldwin (Robert). Film ini ditayang di Indonesia Tahun 1997. Kisah petaualangan di hutan dan teknik survival yang diperagakan para aktor adalah bagian yang sangat menarik dari film ini. Namun ada satu hal yang sangat penting untuk diambil pelajaran dari film ini. Sebuah filosofi hidup dari orang-orang yang tersesat di hutan. Sebuah quotes yang sangat masyhur di kalangan petualang alam liar:

”Mengapa orang-orang yang tersesat di hutan mati? Karena mereka berputus-asa”

Ya...putus asa adalah sumber kegagalan dari semua upaya yang kita lakukan. Dengan berputus-asa, kita telah mematikan api harapan dalam diri kita. Harapan yang mati akan menghentikan nalar dan potensi. Akhirnya fisik kita pun tak berfungsi baik pada kondisi berputus asa. Putus asa adalah langkah awal menuju kematian. Ujungnya, putus asa adalah tindakan bunuh diri yang dimulai dari membunuh jiwa, pikiran dan selanjutnya fisik kita.
Orang yang berputus asa, tak lebih hanya bangkai berjalan di permukaan bumi. Dia telah melupakan Sang Pencipta yang Maha Pengasih. Dia juga mengacuhkan bahwa ada orang lain yang bisa membantunya. Sungguh berbahaya bila putus asa menjangkiti manusia. Dia mati secara makna meski hidup secara biologis. Orang yang melakukan bunuh diri, telah melengkapi keputusasaannya secara paripurna di dunia ini. Kelak di akhirat, tak ada kenangan kebaikan yang akan dihargai oleh Sang Pencipta.

Memang sudah menjadi salah satu sifat manusia, bila tertimpa masalah dia akan berputus asa. Keputusasaan melahirkan sifat egoisme yang tinggi dan kemudian berpikir bahwa tak ada gunanya meminta bantuan orang lain. Orang berputus asa kemudian hilang jiwa sosialnya. Bekerja sama dan meminta bantuan dihilangkan dalam kamus hidupnya. Akhirnya ia menggali kuburan sendiri bagi untuk mengakhiri hidupnya sebelum malaikat menjemput nyawanya.

Tuhan menciptakan makhluk di alam semesta beserta rejekinya. Tuhan Maha Adil dan tahu persis kebutuhan makhluk yang diciptakan-Nya. Ketika ada masalah, Tuhan menyuruh kita menggunakan segala potensi yang dimiliki sambil memohon bantuan pada-Nya dan juga pada sesama. Lihatlah hewan-hewan hidup dengan berusaha keras secara individu dan saling membantu untuk dapat bertahan hidup.

”siapa bersungguh-sungguh, pasti akan sukses” (manjadda a wajada)

Stress Membuat Buah Menjadi Lebat

Stress membuat Buah Menjadi Lebat
Oleh Achmad Siddik Thoha


Di sebuah kebun buah seorang petani berjalan santai bersama anaknya yang berusia dua puluh tahunan. Kebun itu penuh dengan pohon dari berbagai jenis tanaman buah.

Saat itu, hujan mulai berkurang. Dia berpikir ayahnya akan menyuruhnya menyiram pohon-pohon itu. Sang anak mencoba berinisiatif dengan mengambil ember dan diisinya dengan air dari sungai kecil yang melintas di pinggiran kebun.

”Hei...apa yang kau lakukan nak. Jangan...taruh ember itu. Nah...sekarang kamu ambil tangga di samping pohon durian itu.”

”Tangga?” kok...? Sang anak mengerutkan dahi. Namun akhirnya ia tahu bahwa Ayahnya melarangnya menyiram pohon. Namun dia belum paham mengapa Ayahnya melarang menyiram. Ia lalu bertanya,

”Ayah....kenapa tidak kita siram pohon-pohon ini. Kasihan mereka meranggas.”

”Sudah... kau ambil tangganya cepat. Kita harus segera pulang, karena masih ada kerja kita yang lain.Letakkan tangganya di pohon mangga itu”

Otaknya masih berpikir buat apa tangga ini. Ditegakkannya tangga itu di pohon mangga. Lalu naiklah sang ayah ke tangga sambil memegang gunting pangkas dan memangkas beberapa daun dan ranting. Bahkan ada pula cabang yang dipotong dengan gergaji. Sang anak makin miris, tatkala ada satu pohon yang mulai agak tinggi dipangkas batang utamanya.

”Aduh Ayah....kasihan mereka kok dipangkas begitu. Kan jadi merana mereka dan kurang cantik.”

”Oke sudah selesai!” Teriak sang ayah.

”Ayah....kenapa Ayah lakukan ini. Mereka makin tertekan. Sudah kering, ayah pangkas pula. Jadi stress lah pohon ini.”

”Nah betul itu anakkua. Stress....dengan stress tanaman akan banyak buahnya. Kamu coba lihat pohon yang ada di sebelah sana. Banyak buahnya kan?” Sang ayah menunjuk pada kumpulan pohon di tengah kebun yang sangat lebat buahnya.

”Nah mereka Ayah perlakukan seperti ini pada masa mudanya.”

”Jadi dengan stress pohon akan memacu pertumbuhan buahnya yah?”

”Benar sekali....membuang daun, ranting, cabang dan bahkan batang dengan pemangkasan akan menekan pertumbuhannya. Dengan tertekannya pertumbuhan daun, ranting dan cabang, sisi lain akan memacu tumbuh cepatnya bunga dan buah. Apalagi ditambah dengan membiarkan mereka mengalami stress kekeringan dengan mengurangi penyiraman, akan makin banyak buah yang tumbuh nak” Sang ayah dengan serius menjelaskan.

” Tapi kalau terlalu parah stress nya kan bisa mata Ayah.”

”Benar...perlakuan stress perlu dilihat kesiapan dan kecukupan hara atau gizi tanaman. Bila kondisi pohon sudah mampu beradaptasi dengan lingkungan, stress sangat berguna. Namun kalau pohon tidak cukup gizi untuk bertahan hidup pada kondisi stress dia akan mati nak Makanya Ayah tambahkan pupuk yang cukup saat dia stress sehingga dia bisa tetap bertahan dan siap menghasilkan buah.”

”Kamu sering stress gak di kampus?” Si Ayah menyindir

”Iya yah...aku beberpa kali mengalami stress. Sesekali aku sempat goyah, namun aku harus bertahan. Selama mengalami stress aku malah bisa mengotimalkan pikiran dan emosi hingga lebih kreatif menyelesaikan masalah, ayah. Bahkan aku bisa menyalurkan tekanan masalah dengan banyak beraktifitas positif. Aku jadi punya sarana berlatih agar tubuhku lebih kebal dari penyakit fisik dan jiwa. Saat stress itu, tentu ayah ingat kalau aku rajin berkirim surat da menelepon minta nasehat pada Ayah. Aku rajin berdoa di malam yang sepi untuk mendapat ”pupuk” jiwa ini. Pastinya aku makin rajin belajar. Hasilnya, nilaiku memuaskan kan Ayah. Dan...sebentar lagi Ayah akan mengantarku ke pelaminan, kan?.”

”Pelaminan? Wisuda kali...Hahaha.”

”Becanda Ayah....wisuda dulu lah. Biar buahnya makin mantap kan Yah.”

”Dasar anak stress makin pintar aja....”

”Hahahaha...”

Gelak tawa mengiringi lagkah mereka meninggalkan kebun. Mereka menemukan makna mendalam tentang arti sebuah tekanan atau stress. Stress yang berguna untuk memacu produktifitas sehingga menghasilkan buah karya yang berkualitas.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates