Apa Kabar Sahabat POHON INSPIRASI

Blog Berbagi Cinta dan Inspirasi untuk Alam

Rabu, 04 Desember 2013

Rabu, 04 Desember 2013

Wisata Edukasi : Belajar dari Pohon Raksasa Sampai Bertemu Ibu Negara dan Tamu Negara

Wisata Edukasi Bersama Anak-anak LKF di Kebun raya Bogor Juli 2013

Pagi itu hujan masih menetes dari langit setelah kemarin langit Bogor menumpahkan airnya seharian. Udara begitu dingin. Kondisi badan saya juga tidak begitu sehat pagi itu.

Alhamdulillah, menjelang pukul 07.00 hujan reda. Saya segera berangkat karena anak-anak binaan Komunitas Pohon Inspirasi sudah menunggu. Mereka sejak sepekan kemarin sudah sibuk menantikan liburan bersama sebelum berakhirnya masa liburan dan menjelang Ramadhan.

Benar, anak-anak sudah masuk angkot masing-masing. Sebanyak dua angkot penuh terisi anak-anak yang sebagian besar dluafa dan yatim piatu. Mereka berasal dari Kampung Rawajaha dan Kampung Jawa Kelurahan Situgede Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor. Sejak 4 bulan terakhir mereka aktif mengikuti program pendidikan lingkungan  yang dibina oleh Komunitas Pohon Inspirasi dan EEC (Enterpreuner and Environment Course) LATIN Situgede Kota Bogor.

Mereka demkian riang ketika angkot sewaan bergerak meninggalkan kantor LSM LATIN (Lembaga Alam Tropika Indonesia) menuju Kebun Raya Bogor (KRB). Keriangan anak-anak semakin menyeruak ketika kami sudah masuk ke KRB dan berkumpul di bawah Pohon Kempas (Koompassia malaccensis).  Nama latin pohon ini hampir sama dengan blog sosial terbesar favorit saya Kompasiana. Apakah filosofi Kompasiana juga meniru kehidupan Pohon Kempas? Bisa jadi, toh Kompasiana memang sebuah “Pohon Raksasa” dari ide, gagasan, liputan dan karya tulisan yang sangat dominan, member banyak manfaat dan menarik banyak orang untuk berkarya  didalamnya, seperti Pohon Kempas.

Saya menerangkan bahwa pohon ini sangat indah dengan banir (akar papan) yang menjalar luas di permukaan tanah seperti papan. Kempas yang berbentuk raksasa memerlukan banir untuk menopang badannya yang tinggi dan lebar serta memperluas pencarian air dan makanan.  Kempas begitu dominan menguasai udara dan tanah di lahan tempat ia tumbuh.

Pohon Kempas di habitat aslinya di hutan alam, seringkali menjadi pohon penghasil  madu. Pohon Kempas disukai oleh lebah hutan membuat sarang. Sarang lebah hutan inilah yang dipanen madunya oleh masyarakat pencari madu.

Usai berinteraksi dengan Pohon Kempas, kami melanjutkan perjalanan ke lokasi lain. Tibalah kami di prasasti yang berisi tentang Sejarah KRB. KRB ini didirikan sejak 17 Mei 1817 oleh Prof. Dr. CGC Reinwardt, botanis asal Jerman. Dengan areal seluas 87 Hektar, KRB saat ini menjadi induk bagi tempat konservasi tumbuhan tropis ex-situ terbesar di Indonesia.

Tempat berikutnya kunjungan kami adalah Museum Zoologi. Sejak dua tahun terakhir, pengunjung KRB bisa sekligus mengunjungi Museum Zoologi Bogor gratis karena memang lokasi museum berada di dalam KRB.  Di Museum ini anak-anak sangat antusias mengamati hewan-hewan yang sudah diawetkan yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia baik dari daratan maupun lautan. Sampai-sampai, tulang dan ekor Ikan hiu dengan panjang 14 meter dipamerkan disini. Hewan-hewan kecil seperti serangga dan kupu-kupu juga dipamerkan di museum ini. Anak-anak bisa tebuka pengetahuannya terkait kekayaan satwa yang hidup di Indonesia.

Hari ini, umat, 5 Juli 2013, KRB demikian banyak aparat keamanan dari polisi dan tentara lalu lalang. Susana ini memang agak membatasi pengunjung karena banyak tempat dilarang dilewati oleh wisatawan. Setelah saya bertanya pada salah satu staf KRB ternyata ada kunjungan Ibu Presiden, Ibu Ani Yudhoyono  mendampingi istri Perdana Menteri Australia. Memang hari ini ada kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Australia Kevin Ruud ke Istana Bogor. SBY dan Ruud sibuk di Istana Bogor, Ibu Ani dan Ibu Ruud  berkeliling dan menanam pohon di KRB. Namun secara umum pengunjung KRB tidak terlalu terganggu karena meski terbatas, aktivitas wisatwan di KRB berlangsung normal

Sempat terjadi teriakan spontan dari anak-anak yang saya damping saat rombongan Ibu Ani dan Ibu Ruud melintas di Taman Astrid, dekat lapangan rumput luas. Ibu Ani dan para pengawal kepresidenan melintas pelan dan saya mengatakan pada anak-anak bahwa itu Ibu SBY. Benar, ternyata Ibu Ani melambaikan tangan pada kami

“Ibu.....Ibu....”teriak anak-anak yang saya dampingi.

Ibu Ani dan Ibu Ruud juga membalas teriakan anak-anak dengan lambaian tangan. Saya mencoba mengambil gambar rombongan kepresidenan dan tamu Negara ini dari jarak jauh. Tak menyangka kami bisa bertemu Ibu Presiden dan Tamu Negara di tempat ramai ini.

Kami melanjutkan acara dengan memainkan game ringan yang ceria. Anak-anak memang tak ada matinya. Mereka bahkan’ ngagulitik’ (berguling-guling di lapangan rumput) kesana kemari. Berlari-lari, kejar-kejaran, bermain bola dan lompat-lompatan di area lapangan rumput dekat Kafe Dedaunan menghiasai keceriaan anak-anak.

Di akhir acara kami memberikan hadiah-hadiah atas prestasi anak-anak di sekolah dan di program pendidikan lingkungan. Banyak hadiah yang diberikan pada mereka. Tak ada lagi wajah sedih dan muram. Semua memegang hadiah yang dititipkan para dermawan kepada kami. Para dermawan inilah yang bereran penting mendukung acara kami hingga sebanyak 27 orang bisa menikmati kebaikan mereka.

Cucurak, makan bersama dan merekat kebersamaan menjelang bulan Ramadhan mengakhiri acara wisata kami. Kami pun menikmati nasi bungkus dengan lahap.

Saya sendiri merasakan kesegaran fisik dan batin mendampingi anak-anak ini. Awalnya saya sempat ragu dengan niat mengajak anak-anak dluafa dan yatim liburan bersama karena secara pribadi tidak kelebihan uang. NamunAllah memberikan kemudahan dengan dibukakan hati para dermawan membantu  sehingga acara ini terlaksana. Saya pun merasakan kebahagiaan tak terkira melihat anak-anak merasa senang. Mereka akhirnya bisa juga menikmati hak mereka sebagai anak yang menikmati liburan bermanfaat, sama seperti anak-anak lain.

Semoga rasa senang mereka menambah semangat untuk masuk sekolah kembali dan menggapai prestasi lebih baik. Amin.


Salam sukses berbagi!

Gini-gini Gua Punya Hutan

Presentasi salah satu peserta lomba esai mahasiswa S1 Se Indonesia Kehutanan Indonesia Baru 28 September 2013 (dok. pribadi)


Judul di atas saya ambil dari cuplikan tulisan salah satu peserta Lomba Menulis Esai Mahasiswa S1 Se Indonesia bertema Kehutanan Indonesia Baru  Keterlenaan Masa Lalu, Fakta Masa Kini dan Harapan Masa Depan. Ungkapan menarik ini justru keluar dari peserta lomba yang bukan berasal dari mahasiswa kehutanan, melainkan dari mahasiswa jurusan perikanan. Saya yang menjadi salah satu Juri lomba menulis esai ini mendapat kejutan dengan ungkapan tersebut.


Memang bila melihat dunia kehutanan, terlintas bayangan rusak parahnya hutan di Indonesia. Kebakaran hutan, penebangan liar, perambahan hutan, aktivitas tambang di kawasan hutan dan konversi hutan ke penggunaan lain merupakan beberapa penyebab yang membuat kabar tentang hutan Indonesia tidak menggembirakan. Bahkan beberapa waktu lalu, artis kondang Amerika, Harrison Ford sangat gusar setelah melihat fakta rusak parahnya kawasan hutan di Taman Nasional Tesso Nilo di Provinsi Riau.


Fakta lain yang terungkap dalam presentasi esai dari para peserta yang berasal dari IPB dan UGM ini yaitu korupsi serta keengganan pejabat dan politisi menjadikan isu kehutanan menjadi agenda politik. Seorang peserta dengan bahasa lugas dalam esainya merilis data dari Kompas bahwa Korupsi Bidang Kehutanan mencapai 273 T (baca disini). Ditambah lagi tak kunjung berhentinya kejadian-kejadian yang merusak fungsi dan keberadaan hutan seperti Kebakaran Hutan di Riau, alih fungsi lahan menjadi areal yang rawan bencana,

Kegusaran banyak pihak akan makin menyusutnya hutan Indonesia dan fakta yang memprihatinkan tentang kondisi hutan Indonesia bukan berarti membuat generasi muda pesimis. Para pemuda yang diwakili oleh 14 peserta lomba menulis esai ini memberikan terobosan-terobosan pemikiriran kritis, tajam dan solutif. Tak hanya berkutat pada korupsi semata, masalah kebijakan, salah urus negara, hingga krisis karakter rimbawan (orang yang memiliki pemahaman dan aktivitas terkait pembangunan dan pelestarian hutan) dikupas dari kaca mata yang jernih sebagai mahasiswa.

Disisi lain solusi-solusi revolusioner dan solusi konkrit juga muncul untuk mengubah masa lalu yang kelam dan membalikkan fakta yang memprihatinkan menuju masa depan kehutanan yang baru dan cerah. Solusi berani yang diungkapkan oleh salah satu peserta salah satunya adalah ”Hukuman Mati”. Hukuman Mati memang menjadi sebuah pemikiran yang perlu dikaji karena beberapa kasus pengrusakan hutan telah menjadi penyebab bencana lingkungan yang menewaskan banyak orang seperti Banjir Bandang dan Longsor di beberapa tempat di Indonesia.

Solusi cerdas sebagai jalan keluar dari belitan masalah dunia kehutanan juga diungkap dalam tulisan mahasiswa yang berasal dari IPB dan UGM. Pengembangan Ekowisata Apikultur di Daerah Hulu, Pembangunan Hutan untuk mengurangi emisi karbon, pembenahan karakter rimbawan, mobilisasi peran komunikator kehutanan di kalangan mahasiswa dan investasi hutan. Semua peserta sepakat bahwa bidang Kehutanan harus maju dan kembali meraih kejayaannya seperti di era tahun 1967-1998 sebagai Rising Sector-nya Indonesia.

Akhirnya ungkapan kalangan mahasiswa S1 dari dua perguruan tinggi ternama yang bangga menjadi pelestari hutan berharap nanti banyak pemuda-pemudi memakai kaos bertuliskan, “Gini-gini Gua Punya Hutan!” akan menjadi kenyataan. Kita berharap pemimpin dan generasi tua yang menjadi pejabat khususnya yang memegang wewenang di bidang kehutanan bisa menjadi pendorong bagi munculnya kembali kebanggaan generasi muda Indonesia akan hutannya. Dengan demikian Kehutanan Indonesia Baru bukan sebuah wacana dan uthopia namun sebuah harapan besar yang didukung semua elemen bangsa.

Salam lestari!

Selasa, 30 April 2013

Selasa, 30 April 2013

LIMUS KID FARMING : Seni Budaya dan Teknologi di Dunia Berkebun


Anak-anak LKF dan para pendamping kegiatan di Sekretariat EEC Jl. Sutra 1 Kelurahan Situgede Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor
Arus modernisasi yang sangat deras membuat anak-anak merasa asing dengan alam sekitar. Alam sekitar dengan beragam obyek pembelajaran menjadi sering terlupakan. Padahal alam sekitar menyimpan pembelajaran bagi tumbuhnya karakter positif anak-anak.

Alam sekitar yang kaya dengan pengetahuan bisa menjadi media pembelajaran yang sangat natural, sesuai budaya dan adat masyarakat, mendekatkan anak pada alam dan pencipta-Nya tanpa meninggalkan kemajuan teknologi yang berkembang. Untuk itu diperlukan sebuah wadah anak-anak untuk peka terhadap lingkungan dan mengenal budaya masyarakat yang sangat arif dengan lingkungan dan alam sekitar.


LIMUS KID FARMING (LKF) menawarkan program belajar bersama bagi anak-anak dengan obyek pertanian terintegasi. Materi pembelajaran pertanian yang terintegrasi dengan aktifitas seni, budaya, pembinaan karakter positif serta penguasaan teknologi computer dan internet ditawarkan pada program ini. Dengan berlokasi belejar yang dekat dengan Hutan Penelitian Dramaga dan Danau Situgede, LKF diharapkan menjadi media pembelajaran luar sekolah yang melahirkan generasi peka dan sadar lingkungan.

Bermain di Hutan mengenal pohon dan lingkungan


Materi Pembelajaran
Membuat kertas daur ulang
Pemanfaatan barang bekas (plastik, Koran, kantong palstik, kotak makanan/minuman)
Membuat dan Merawat Kebun Terpadu (tiap minggu)
Musik bambu dan kayu (Sebulan sekali)
Melukis (dua bulan)
Membuat Sketsa (sebulan/ dua bulan sekali)
Menari (sebulan sekali)
Bercerita
Komputer (sesuai tingkat pemahaman/tiap minggu)
Fotografi (sebulan sekali)
Bahasa Inggris (sebulan sekali)
Presentasi (dua bulan sekali)
Menulis (tiga bulan sekali)
Wirausaha
Pendidikan Agama Islam

Kreasi Barang Bekas dari anak-anak LKF 
Waktu Belajar dan Lokasi
Kegiatan LKF dilakukan setiap hari Minggu mulai pukul 09.00-11.00. Lokasi kegiatan di Kantor EEC Entrepeeur Environment Course (EEC) Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) Jl. Sutera No. 1 Kelurahan Situgede Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor.
Bagi yang mau bergabung, silahkan menghubungi kontak dibawah ini :
Achmad Siddik Thoha (081514297728)
Veny Iswati (081514297728)
Atau email : siddikthoha@gmail
Twitter : @LKF_IPB

Jumat, 22 Maret 2013

Jumat, 22 Maret 2013

Hari Air Sedunia 2013 : Biarkan Air Mengalir Sampai Jauh


Mata airmu dari Solo Terkurung Gunung Seribu Air mengalir sampai jauh Akhirnya ke laut (Bengawan Solo – Gesang) 

Apa yang terbayang bagi Anda bila melihat air Sungai Ciliwung yang melintasi Ibu Kota Jakarta? Pasti terbayang sebuah sungai yang kerap meluap di musim hujan dan menggenangi banyak wilayah di Jakarta. Pernahkah Anda membayangkan bahwa sesungguhnya air Sungai Ciliwung ini melalui perjalanan sangat panjang? 

Air yang melintas di Sungai Ciliwung asal muasalnya bermula dari hulu sungai. Hulu sungai Ciliwung terdapat di kawasan datarang tinggi di Kabupaten Sukabumi, Cianjur dan Bogor. Bahkan Sungai Ciliwung berasal dari dua Taman Nasional yang kesohor di Indonesia yaitu Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) dan Taman Gunung Halimun (TNGHS) . Dari daerah hulu hingga hilir, air melintasi beberapa Kabupaten Kota. Bahkan aliran air dari Gunung Salak dan Halimun melintasi 3 Propinsi yaitu Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta. 

SBY Meninjau Kali Ciliwung (Dok. Kompas.com)
Secara global, air juga melintas tanpa terkotak-kotak oleh batas Negara. United Nation Water (UN-Water) yang merupakan badan PBB yang fokus pada pengelolaan air, menyebutkan bahwa 46 % daratan di bumi diliputi oleh sungai-sungai yang melintas antar negara. Di benua Asia terdapat 60 sungai besar yang melintas antar negara. Lalu di Afrika terdapat 64 sungai besar, Eropa 68 sungai, Amerika Utara 46 sungai dan Amerika Selatan 38 sungai yang melintas antar negara. (Baca disini

Jumlah Sungai Lintas Negara di Dunia (un-water.org)
Lintasan air yang demikian jauh, itu tak hanya menembus antar wilayah Negara. Air juga melintas antar budaya, sosial, ekonomi dan politik. Keberadaan air secara global yang tak bisa tersekat oleh batas apapun, perlu mendapat perhatian semua kalangan. Untuk itulah pada tahun ini, UN-Water pada hari Air Sedunia Tahun 2013 mencanangkan International Year of Water Cooperation" atau Tahun Kerja Sama Air Internasional” 




Hari Air Sedunia 

Hari Air Sedunia yang diadakan setiap tahun pada tanggal 22 Maret sebagai sarana memusatkan perhatian pada pentingnya air bersih dan advokasi untuk pengelolaan berkelanjutan sumber daya air tawar. Hari internasional untuk memperingati air bersih direkomendasikan pada Konferensi PBB pada Tahun 1992 tentang Lingkungan dan Pembangunan (UNCED). 

Majelis Umum PBB merespodengan dengan menetapkan tanggal 22 Maret 1993 sebagai Hari Air Dunia pertama. Setiap tahun, Hari Air Sedunia menyoroti aspek tertentu dari air bersih. Pada tahun 2013, dalam refleksi dari Tahun Internasional Kerjasama Air, Hari Air Sedunia juga didedikasikan untuk tema kerjasama di sekitar air dan dikoordinasikan oleh UNESCO bekerjasama dengan UNECE dan UNDESA atas nama UN-Water. (Baca disini

Kondisi Air 

Saat Ini Air bersih menjadi barang yang semakin langka dan berharga sangat mahal bagi sebagian warga dunia. UN Water merilis data bahwa sekitar 780 juta manusia di dunia tidak bisa mengakses air bersih. Disamping itu, tedapat 2.5 miliar manusia tidak dapat mengakses sanitasi yang layak. 

Meningkatnya konsumsi makanan akibat ledakan penduduk membuat kebutuhan air juga melonjak tajam. UN-Water mengutip hasil riset para pakar menyebutkan bahwa untuk menghasilkan 1 kg beras memerlukan 3.500 Lt air. Pada produksi 1 kg daging sapi terdapat 15.000 liter air yang harus tersedia. Bahkan untuk membuat segelas kopi bila ditelusuri membutuhkan 14 lt air. (Hoekstra and Chapagain, 2008).

 Kondisi di Indonesia juga tak kalah memprihatinkan. Di Jakarta masyarakat terancam mengalami kelangkaan air tanah dan air bersih. Anggota Dewan Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta, Firdaus Ali, mengatakan, Jakarta berpotensi mengalami krisis air. Sebab, kurangnya tanah serapan mengakibatkan ibukota kekurangan air saat musim kemarau. (Baca disini). 

Masalah lain yakni Ibukota yang tak memiliki sumber air baku, menggandalkan Sungai Citarum, satu dari 9 sungai paling tercemar di dunia, untuk kebutuhan air jutaan penghuninya. Keterbatasan persediaan air bersih juga membuat jutaan warga menggunakan air tanah, yang berakibat pada drastisnya penurunan daratan Jakarta, hingga lebih dari satu meter, dalam 5 tahun terakhir. (baca disini). 

Di daerah lain, misalnya di Kecamatan Cicurug dan Cidahu Kabupaten Sukabumi, mereka merasakan semakin sulit mendapatkan air tanah dengan murah dan mudah. ”Saat ini kami kesulitan air, Pak. Air sumur semakin dalam. Air Sungai juga menyusut. Sawah kami juga sulit dialiri air kecuali harus memakai mesin pemompa. Ini karena pabrik Air Minum Dalam Kemasan yang sudah menyedot air tanah demikian banyak. Pipa-pipa air mereka yang besar untuk kebutuahn pabrik membuat jatah air kami semakin berkurang.” Itulah cerita salah satu warga, dalam sebuah acara diskusi kelompok terarah dengan para perwakilan warga masyarakat yang berasal dari 10 Desa/Kelurahan/Kampung di sekitar Cicurug dan Cidahu Kabupaten Sukabumi. 

Kerja Sama Air 

Pemenuhan kebutuhan dasar manusia, lingkungan kita, pembangunan sosio-ekonomi dan pengurangan kemiskinan semua sangat bergantung pada air. Pengelolaan air yang baik merupakan tantangan tersendiri karena beberapa karakteristik yang unik di dalamnya. Air tidak merata dalam ruang dan waktu, siklus hidrologi sangat kompleks dan gangguan terhadapnya memiliki efek ganda. 

Urbanisasi yang cepat,polusi dan perubahan iklim mengancam sumber daya sementara kebutuhan air semakin meningkat dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan penduduk dunia, dimana saat ini sudah melebihi tujuh miliar orang, untuk produksi pangan, energi, industri dan penggunaan dalam negeri. Air adalah sumber daya bersama dan pengelolaannya perlu mempertimbangkan berbagai kepentingan yang bertentangan. Hal ini memberikan kesempatan bagi kerjasama antara pengguna. 

Pada tahun 2013, PBB menetapkan sebagai Tahun Internasional Kerjasama Air,. Majelis Umum PBB mengakui bahwa kerjasama yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan prioritas yang berbeda dan berbagi sumber daya yang berharga ini secara adil, menggunakan air sebagai alat perdamaian. Mempromosikan kerjasama air menyiratkan pendekatan interdisipliner yang melibatkan faktor budaya, pendidikan dan ilmu pengetahuan, agama, dimensi hukum, kelembagaan dan ekonomi etika, sosial dan politik. (baca disini

Benarlah apa yang terlantun dari lagu Bengawan Solo bahwa “Air Mengalir Sampai Jauh” yang menyiratkan beragam makna. Air yang begitu jauh mengalir harus mendapat perhatian banyak kalangan mulai hulu sampai hilir, mulai birokrat sampai rakyat, dari pengusaha sampai pengguna dan dari pemimpin sampai rakyat miskin. Semua harus bekerja sama agar air, khususnya air bersih dapat secara adil dan damai dinikmati oleh manusia. 


Mulailah mendukung kerja sama air dengan berbuat sesuatu yang kecil namun bermanfaat. Berhemat air, tidak mengotori badan air dengan sampah, menghabiskan makanan, menanam dan merawat tanaman di rumah dan mengolah sampah mungkin bisa berkontibusi untuk lestarinya air di bumi kiya. 



Selamat Hari Air Sedunia 2013 Salam lestari! 

Achmad Siddik Thoha 
Penggiat Gerakan Menanam Pohon – Komunitas Pohon Inspirasi

Rabu, 20 Maret 2013

Rabu, 20 Maret 2013

Bakau Sang Pelindung

Hutan Mangrove yang tersisa di Pulau Bira Kepulauan Seribu Jakarta
Bila kita berkunjung ke pantai, biasanya akan menjumpai hutan dengan pohon-pohon yang tergenang air. Pohon-pohon itu terlihat unik karena akarnya yang muncul di permukaan tanah. Ada akar pohon yang muncul dari batangnya lalu melengkung menghunjam ke tanah yang disebut akar tunjang. Ada pula akar pohon yang menyembul dari tanah seperti bentuk lutut, yang disebut akar lutut. Terdapat pula akar pohon yang muncul dari tanah seperti pasak, yang disebut akar pasak. Kumpulan pohon dengan karakter akar-akar seperti itu disebut sebagai hutan mangrove atau ada yang mengatakan hutan bakau. Munculnya akar di permukaan tanah adalah salah satu bentuk adaptasi dari pepohonan di hutan mangrove. Mereka perlu bernafas. Dalam kondisi tergenang air dan berlumpur, dimana pertukaran udara dari tanah ke udara tidak memungkinkan, maka akar pohon harus mengejar udara. Mereka, pepohonan di hutan bakau, tidak bisa diam saja di dalam tanah, karena kondisinya berbeda dengan di tanah kering. Mereka tidak bisa bersembunyi di bawah tanah karena tanpa udara mereka akan mati. Hutan mangrove berdekatan dengan muara sungai, dimana lumpur baik yang subur maupun yang beracun mengendap di sana. Pepohonan mangrove rajin menambat lumpur dan racun dan mengikatnya hingga tidak berbahaya bagi lingkungan. Maka kita lihat air laut tetap jernih di pesisir pantai yang memiliki hutan mangrove yang masih bagus. Hutan mangrove juga menahan gelombang besar yang menghantam pesisir hingga warga sekitar merasa aman. Keberadaan pepohonan mangrove, membuat air asin dari laut tertahan cukup disekitar pesisir dan pantai saja. Ini membuat sumur-sumur masyarakat tetap dalam kondisi tawar dan layak dikonsumsi. Akar-akar mangrove yang muncul ke permukaan dengan berbagai bentuknya tidak hanya berguna bagi dirinya. Akar-akar ini menyediakan ruang bermain, bersembunyi, mencari makan dan bertelur bagi hewan laut seperti ikan, udang, kepiting dan lainnya. Ikan dan hewan laut sangat terbantu dari guguran daun, ranting, bunga dan buah mangrove yang telah membusuk. Plankton, sumber makanan ikan dan hewan laut menjadi subur karena banyak persediaan makanan di sana. Bakau menjadi pelindung, penyirna bahaya, pelayan dan perjernih. Bakau Sang Pelindung, ia sanggup menghadang ombak yang tinggi dan badai yang ganas, mempertahankan tubuhnya agar pantai tak terkikis dan manusia selamat dari badai dan bahkan tsunami. Ia menghalau badai agar tidak merusak pesisir dan sekitarnya. Ia meredam ombak dan meniadakan bahayanya. Bakau sang Pelindung, melindungi kejernihan air dari lumpur-lumpur. Ia tak kenal lelah menambat racun agar tidak berbahaya bagi yang lain. Ia siang malam melindungi hewan air agar tetap hidup, tumbuh dan berkemban biak. Ia begitu tulus memberi perlindungan sekaligus pelayanan dengan guguran daun, ranting, bunga dan buah yang jadi sumber makanan. Bakau Sang Penjernih, rela menangkap kotoran lalu menyerapnya agar lumpur-lumpur tak merusak beningnya laut. Ia menjernihkan agar lumpur dari sungai tak mengganggu asyiknya ikan-ikan bermain dan mencari makan. serta hewan laut mendapat kenyamanan ketika bertelur. Sungguh indah pelajaran dari pepohonan di hutan bakau atau mangrove. Perbedaan jenis pohon, bentuk batang dan daun serta karakter yang unik dapat menyatu dalam satu tujuan. Akar mangrove yang rela keluar persembunyiannya demi untuk menyediakan perlindungan bagi lingkungan sekitarnya. Akar yang menyembul dari tanah bukan simbol kesombongan, namun lebih pada tuntutan adaptasi dan misi yang lebih besar. Bila kita terus bersembunyi dalam beramal, tentulah sangat terbatas peran dan manfaat yang dapat diberikan. Dengan muncul, tegak dan adaptif, maka eksistensi diri makin kokoh dan karya kita akan membawa dampak manfaat yang lebih luas. Tentu saja menampilkan amal tetap harus dilandasi dengan keikhlasan. Lingkungan dengan ombak ujian yang besar, angin badai masalah yang tiba-tiba datang dan lumpur cobaan dari diri dan lingkungan luar, seyogyanya dihadapi dengan meningkatkan daya adaptasi tinggi. Akar-akar iman yang makin kokoh akan menopang amal atau karya sehingga melahirkan amal yang melindungi, melayani dan menjernihkan.

Penulis : Achmad Siddik Thoha
Penulis Buku KETIKA POHON BERSUJUD

Sabtu, 09 Maret 2013

Sabtu, 09 Maret 2013

Pohon-pohon yang Berjamaah


Sebatang pohon bisa tumbuh sendiri bila di tempat tumbuhnya terdapat cukup cahaya, air, dan tanah yang subur. Benih yang jatuh di atas tanah subur, kemudian hujan menyiraminya dan matahari menghangatinya, maka tumbuhlah pohon. Pohon yang menyendiri ini bisa terus tumbuh dan memberi manfaat. Pohon yang tumbuh sendiri akan sendiri pula menghadapai tantangan dari luar. Ia harus menangkap hujan sendiri untuk meresapkan air ke dalam bumi. Pohon akan sendirian menatap matahari yang terik. Saat hujan mulai jarang berkunjung, ia semakin berat menjalani hidup dalam kesendirian. Kekeringan begitu memilukan bagi pohon sendiri. Saat badai menerjang, pohon mengalami tekanan makin berat. Ia harus menahan sendiri tubuhnya agar tidak terlempar dan tumbang.

Pohon menyendiri memberi manfaat tak sebesar manfaat kumpulan pohon. Ia, pohon menyendiri, menangkap air yang sedikit dari curahan hujan. Ia hanya menaungi wilayah yang sempit dari tajuk tunggalnya. Ia juga hanya menghasilkan biji-bijian yang terbatas untuk makanan hewan. Ia membantu meresapkan air sedikit saja di tanah-tanah dekat ia tumbuh. Ia juga hanya mencengkeram tanah yang sempit untuk terlindung dari erosi dan longsor.

Kumpulan pohon akan memberi banyak hasil dan manfaat bagi diri mereka dan lingkungan. Mereka, kumpulan pohon, akan mempunyai kekuatan lebih besar menghadapi tantangan luar daripada pohon menyendiri. Mereka lebih kuat menantang badai. Mereka sangat siap menghadapi kemarau panjang. Ketika curah hujan sangat tinggi, mereka sanggup menangkap, meneteskan perlahan, dan menampung air di bawah tanah. Saat ada serangan dari hama penyakit, mereka sanggup bertahan. Ya, kumpulan pohon itu bisa kita sebut sebagai pohon yang berjamaah.

Pohon-pohon yang berjamaah akan memberi manfaat yang banyak bagi mereka sendiri dan lingkungannya. Mereka mendapat sangat cukup air dari tanah-tanah yang basah karena banyak air yang bisa diserap akar. Mereka bisa menaungi sangat luas lahan disekitarnya. Mereka menghasilkan biji yang melimpah hingga lebih banyak makhluk yang memanfaatkannya. Mereka menangkap banyak air hingga mampu memenuhi sumur-sumur dan mengalirkan air ke sungai. Dengan perlindungan daun dan ranting yang lebat serta cengkraman akar yang kuat, mereka bisa melindungi tanah dari kerusakan akibat erosi dan longsor. Mereka juga mencegah banjir dengan kemampuan memperlambat aliran air, menyerap lebih banyak air ke dalam tanah dan melepaskan air perlahan ke sungai.

Bila pohon berjamaah memberi kekuatan lebih menghadapi tantangan dan memberi banyak manfaat, begitu pula kita. Saat tantangan, cobaan dan ujian hidup menimpa, hidup dalam kesendirian sagatlah berat dirasa. Hidup sendirian lebih rapuh dan sulit menhadapi tantangan. Tanpa ada orang-orang yang menguatkan, meneduhkan dan melindungi, hidup sendirian dengan banyak masalah bisa membuat kita terpental dan gagal dalam kehidupan.

Hidup berjamaah tidak hanya dimaknai sebagai hidup dalam kumpulan orang tanpa tujuan dan aturan. Hidup berjamaah adalah hidup dalam komunitas dengan beragam karakter dan latar belakang yang kemudian mengorganisir diri dalam mencapai tujuan bersama. Seperti pohon-pohn yang ada di dalam hutan, mereka berbeda jenis dan karakter namun membentuk sistem untuk bersama-sama menjadi penyangga kehidupan.
Hidup berjamaah akan memberikan kekuatan lebih dalam menghadapi ujian hidup. Berjamaah akan menciptakan pertahanan yang kuat dalam melawan guncangan hidup. Berjamaah melahirkan tanggung jawab bersama menjalani hidup untuk berbagi, memikul beban bersama dan menuju tempat tujuan secara bersama pula. Bahaya apapun yang mengancam kehidupan kumpulan orang yang berada dalam kebersamaan akan lebih ringan dihadapi.

Hidup sendiri dan menjadi baik akan memberi manfaat, namun sangat terbatas. Hidup bersama orang-orang yang baik akan meningkatkan kualitas kebaikan kita. Kebaikan yang diberikan banyak orang secara terorganisir akan memberikan manfaat yang luas jangkauannya, tinggi kualitasnya dan banyak cakupannya. Kumpulan orang dengan tujuan dan organisasi yang baik akan memberikan keteduhan yang lebar jangkauanya, kejernihan amal atau karya yang mengalir jauh, perlindungan bagi sesamanya yang lebih kokoh dan kesejahteraan yang luas.
Indahnya hidup berjamaah laksana harmoni yang menakjubkan dari kumpulan pohon-pohon. Sulitnya hidup sendiri laksana pohon merana hidupnya tanpa pendamping pohon lainnya.

Dikutip dari Buku : KETIKA POHON BERSUJUD Karya Achmad Siddik Thoha

Selasa, 05 Maret 2013

Selasa, 05 Maret 2013

Nasehat dari Air



Duduk terpaku di tepian sungai. Mematung diri dengan pandangan terarah tajam pada riak air. Sesekali ia melentingkan tangannya melesatkan sekeping batu dari telapak tangannya. Ya, itulah yang dilakukan Andi setiap hari.  Semenjak diberhentikan dari tempat kerjanya dan pernikahannya gagal, Andi membuat dirinya menyiksa diri dalam kesendirian dan menyepi di tepi sungai.

Ayah Andi hampir tak bisa membujuknya untuk berhenti membuang-buang waktu seperti itu. Setiap kali dinasehati, Andi selalu menjawab,

“Biarkan Andi menyatu dengan alam, Ayah. Ayah juga tak bisa memberikan solusi buatku.” Jawab Andi dengan muka sinis. Sebuah perlakuan yang tak pantas diperlihatkan kepada orang tuanya.

“Andi, kalau nasehat Ayah tak kau hiraukan lagi, lalu apa yang kau dapat dengan mematung diri setiap hari disini?”

“Biarlah aku mencariya sendiri, Ayah. Maafkan aku.”

“Baiklah, semoga air sungai itu memberimu sebuah nasehat. Kau akan mendapatkannya bila kau membuka pikiran, berdiri dan melangkahkan kakimu, bergerak seperti air. Air sungai itu tak pernah berhenti sedetik pun bergerak.”

Setelah ayahnya menjauh dari dirinya, Andi merasakan ada energi baru menemukan celah-celah solusi dari keterpurukan hidupnya. Ia beranjak dari tempatnya mematung. Dilangkahkan kakinya ke pinggiran sungai yang menurun menuju ke percabangan sungai yang tak jauh dari tempatnya duduk. Ia melihat riak air semakin besar di salah satu cabang sungai . Di tempat yang dangkal dan terlihat dasar sungainya terlihat beberapa batu bergerak meluncur bersama air. Air yang melintas di sungai yang mengecil dan dangkal memiliki kekuatan lebih dibandingkan dengan air di sungai yang lebar dan dalam.

Air di percabangan sungai itu terlihat lebih jernih dan dasar sungainya nampak jelas. Air yang cukup deras ini menjernihkan air dari lumpur-lumpur yang dibawa dari hulu sungai. Batu-batu kecil pun ikut berpindah menggelinding pelan namun pasti di dasar sungai.  Terkadang batu yang lebih besar juga bergeser sedikit akibat dorongan arus yang lebih bertenaga dibandingkan di tempat dia mematung sejak sepekan lalu.

“Aku tahu sekarang. Tak sepatutnya aku berdiam diri dengan beban hidup yang menghimpitku. Tak seharusnya aku menghentikan langkah dan berhenti berpikir. Pasti ada celah dan kekuatan baru bila aku bergerak. Pasti ada jalan keluar yang lebih jernih dan tambahan energi semangat bila aku melakukan sesuatu. Ya, sungai ini telah memberiku petunjuk. Aku perlu orang lain untuk menambah energi bangkit seperti air sungai ini yang mampu menggeser batu di dasar sungai” Kata Andi di dalam hatinya.”

“Air ini…sungguh membuat pikiran dan hatiku semakin bening.” Andi membasuh mukanya dengan air sungai yang jernih itu.

Andi pun memutuskan pulang untuk menemui Ayahnya. Ia merasa berdosa sudah mengabaikan orang tuanya. Sebelum ini ia merasa hidupnya adalah urusannya sendiri, padahal tak seoarang pun yang mampu hidup sendiri. Ia merasa telah membuang-buang waktu dengan keegoisan dirinya yang kemudian jatuh pada kotak keputusasaan. Ternyata putus asa itulah tabir yang bisa memisahkan dirinya dengan solusi dan kesuksesan.

“Ayaaaah…Andi minta maaf.” Air bening menetes pelan dari dua sudut mata Andi.

Jalan lain itu selalu ada dan terhampar di depan kita. Itu bisa dan niscaya bisa mengalihkan segala kebuntuan. Kita hanya perlu rajin menemukannya. Dan nasehat air membuka jalan buntu itu.
*Tulisan menyambut Hari Air Sedunia 22 Maret 2013 (Tahun Kerjasama Air Internasional)

Jumat, 15 Februari 2013

Jumat, 15 Februari 2013

Liputan Hari Pohon Sedunia 2012


“Save the tree. Stop penebangan liar!” 
“Mulai menanam pohon saat ini juga. Satu pohon untuk selamatkan bumi.” 
“Lestarikan pohon, jangan tebang pohon. Tebang orang-orang yang tidak betanggungjawab. Terima kasih”
“Selamat Hari Pohon. Pohon adalah kehidupan. Much love for our trees. Tanam, tanam, tanam. Yuk nanem.” 

Demikian sebagian dari kalimat-kalimat yang menggantung bak dedaunan di “Pohon Termahal” di dunia. Disebut pohon termahal karena di pohon yang terbuat dari ranting kering dan kertas-kertas hijau muda menggelantung berisi harapan dan inspirasi warga tentang pohon. Bukankah harapan dan inspirasi itu sesuatu yang tak ternilai harganya? 

“Pohon Termahal” itu pagi itu (21/11/2012) terpasang di halaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dramaga Kabupaten Bogor. Ratusan mahasiswa dan warga yang lewat nampak berkerumun di depan “Pohon Termahal” itu. Ratusan warga menuliskan harapan dan inspirasinya di kertas hijau berbentuk daun kemudian memasangnya dengan tali di replika pohon yang terbuat dari ranting kering. Jadilah sebuah Replika Pohon yang saya sebut sebagai “Pohon Termahal” di dunia dengan “dedaunan” yang penuh harapan dan inspirasi. 

Itulah sebagian cuplikan peristiwa peringatan Hari Pohon Sedunia 2012 di Kampus IPB Bogor. Acara ini digagas oleh organisasi kemahasiswaan Tree Grower Community (TGC) Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB dan komunitas online Komunitas Pohon Inspirasi (KPI). Selain menggali harapan dan inspirasi di Replika Pohon, Peringatan Hari Pohon Sedunia ini juga diisi dengan pembagian bibit pohon Tanjung (Mimusop elengii) dan Damar (Agathis dammara) kepada masyarakat yang berminat. 

Menurut Arya Panji Wicaksono ketua TGC, Peringatan Hari Pohon Sedunia ini dimaksudkan untuk menarik kepedulian warga Kampus terhadap keberadaan pohon-pohon yang ada di kampus dan sekitarnya. Di Kampus IPB Dramaga sendiri, pendirian kampus ditandai oleh penanaman pohon pinus oleh Presiden Soekarno pada tahun 1963. Pohon pinus tersebut sering disebut sebagai Pohon Soekarno oleh warga kampus. Pohon yang berada di halaman di depan Gedung Koridor Fakultas Pertanian IPB hingga kini masih berdiri kokoh. 

Panji berharap dengan diperingatinya Hari Pohon Sedunia ini, masyarakat bisa lebih peduli dengan keberadaan pohon dengan cara menanam dan merawatnya. Di waktu mendatang TGC akan membuat buku panduan lapangan tentang pengenalan jenis pohon di Kampus IPB. Sebagaimana diketahui di Kampus IPB banyak sekali pohon-pohon dari berbagai jenis tumbuh dan menjadi sarana pendidikan bagi baik bagi civitas akademika IPB maupun masyarakat umum. 

Sementara Komunitas Pohon Inspirasi (KPI) yang lahir dari komunitas online di Facebook, telah banyak melakukan aktivitas edukasi dan pemberian bantuan kepada masyarakat khususnya yang berada di lingkar kampus IPB.. Dengan menggali inspirasi-inspirasi hidup dari pohon dan menerbitkan melalui tulisan dan buku diharapkan masyarakat tergerak kesadarannya melestarikan pohon langsung dari hati nuraninya. 


Acara ini banyak mendapat perhatian warga kampus dan masyarakat yang lewat di depan Faperta IPB. Ada juga mahasiswa asal Timor Leste yang sangat antusias mengikuti acara ini. Ada pula anak-anak yang ikut memasang daun harapan dan inspirasi yang dipandu oleh anggota TGC. Terlihat pula salah satu stasiun televisi swasta nasional meliput secara live acara ini. 

Ya, pohon memang menyimpan inspirasi dan harapan bagi masa depan umat manusia di bumi. Pohon layak untuk diperingati agar manusia ramah dapat memanfaatkannya. Selamat Hari Pohon Sedunia 2012 

Salam Lestari!

Rabu, 09 Januari 2013

Rabu, 09 Januari 2013

Memaknai Sejarah Seperti Pohon



Asal kata sejarah itu adalah “Syajarah” yang dalam bahasa Arab berarti pohon. Makna pohon sangat dekat dengan sejarah yang kita pahami selama ini. Pohon memiliki tiga bagian utama yaitu akar, batang dan tajuk. Tajuk terdiri dari kesatuan cabang, ranting dan dedaunan. Tiga bagian pohon tersebut saling berhubungan satu sama lain. Satu bagian terganggu maka akan mengganggu bagian lainnya.

Misalnya, dedaunan terserang hama sehingga banyak daun menguning atau rontok. Kehidupan pohon dengan dedaunan yang rusak akan terganggu karena fungsi fotosintesis yang membutuhkan peran daun, tidak berjalan. Akhirnya, proses pembentukan makanan yang diperlukan pohon untuk pertumbuhannya tidak berlangsung dan pohon lama kelamaan akan mati.

Begitupula dengan kerusakan atau gangguan pada batang. Batang pohon yang diserang hama atau penyakit misalnya, akan mengalami kerusakan bagian penting penyalur makanan dari daun ke seluruh bagian tanaman. Batang sebagai penyangga berdirinya pohon akan rapuh atau melapuk akibat serangan penyakit. Akibatnya, penyakit bisa menjalar ke seluruh bagian pohon sehingga pohon mudah tumbang dan kemudian mati.

Bagian terpenting dari pohon adalah akar. Seringkali kita melihat batang pohon yang gagah dan kokoh serta tajuk yang menjulang tinggi tiba-tiba ambruk menimpa permukaan tanah. Ternyata, akar pohon yang tumbang tersebut sudah rapuh atau melapuk  akibat terserang penyakit. Akar yang lemah dan tak lagi mampu mengikat kuat dipermukaan tanah akan meruntuhkan pohon yang tadinya berdiri tegak dan kokoh.

Sejarah merupakan urutan peristiwa yang saling terkait. Satu peristiwa pada masa kini tak lepas dari peristiwa waktu sebelumnya. Perjalanan seseorang yang mencapai sukses saat ini tidak lepas dari sejarah masa lalunya. Masa lalu yang menyimpan  kegetiran, kepahitan dan kepedihan merupakan bagian dari proses yang harus dilalui seorang yang menggapai kesuksesan masa kini.

Karenanya, ada istilah yang sering disebutkan bila mengaitkan peristiwa saat ini dengan masa lalu yaitu akar sejarah. Ya, sejarah erat dengan akar yang secara mudah bisa dilihat dari fungsi akar pada pohon. Akarlah pertama kali tumbuh dan kemudian perlahan-lahan memunculkan tunas dan menumbuhkan batang. Melalui akar yang makin kokoh, pohon kemudian tumbuh dan berkembang menjadi tumbuhan besar dan memberi banyak manfaat.

Merunut sejarah seseorang atau peristiwa laksana merenungi keberadaan dan kehidupan pohon. Sejarah manusia yang diberi kesuksesan di masa lalu selalu menjadi inspirasi bagi manusia masa kini untuk meniru kesuksesan mereka. Sebaliknya, manusia atau komunitas yang di masa dulu terkena musibah atau bencana besar menjadi renungan manusia zaman sekarang untuk tidak mengikuti jejak mereka agar terhidar dari kecelakaan. Dan pada pohon, sosok pohon yang kokoh berasal dari kuat dan kokohnya akarnya. Sebaliknya, pohon yang tumbuh dengan kerontang dan kerdil karena akar-akarnya tidak berfungsi atau bahkan rusak.

Sangatlah perlu kita menyimak Sabda Tuhan dalam kitab Suci, betapa DIA member kunci-kunci tentang meraih kebahagiaan dan keberhasilan dengan menggambarkan kejayaan kaum yang pernah ada di masa lalu. Sebaliknya, Tuhan mengingatkan pada kita bahwa manusia ini akan hancur dan mendapat siksaan apabila mengikuti jejak dan perilaku bangsa atau kaum yang dulunya pernah dimusnahkan atau dihukum oleh-Nya. Semua sangat gambalang dan mudah dicerna apabila kita serius merenungi ayat-ayat yang kit abaca dari kumpulan firman-Nya di Kitab Suci.

Tuhan membeberkan bagaimana bangsa-bangsa yang dulu Berjaya karena memiliki tingkat kedekatan yang tinggi pada Tuhan-Nya serta berkarakter kuat penuh teladan kebaikan. Tuhan juga menghamparkan perjalanan sejarah kaum-kaum yang durhaka, memperturutkan hawa nafsu dan penuh kesombongan yang akhirnya menjadi pelajaran berharga untuk tidak dijadikan contoh hidup bagi manusia kini. Bangsa-bangsa yang tertinggal dan berada pada titik nadir di zaman kini memiliki karakter yang tak berbeda dengan kisah-kisah abadi dari kaum-kaum terhina di masa lalu.

Maka DIA selalu mengingatkan manusia, “Renungilah, hai orang-orang yang berakal!”

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates