Apa Kabar Sahabat POHON INSPIRASI

Blog Berbagi Cinta dan Inspirasi untuk Alam

Rabu, 21 Maret 2012

Rabu, 21 Maret 2012

Refleksi Hari Air Sedunia 2012 : Langka Dulu, Baru Sadar?

Ilustrasi  dokumen Kompasiana.com
“Saya mandi hanya bisa dua menit. ‘Shower’ sudah diatur hanya mengucur selama dua menit. Lewat dari itu ‘shower’ berhenti secara otomatis. Saat mandi, saya berdiri di dalam ember supaya air tidak tumpah dan terbuang percuma. Air bekas saya mandi bisa saya pakai untuk keperluan lain.”

Mark memperagakan gaya mandi cepat dua menit. Mark adalah salah satu Trainer Pria asal Australia yang mengisi Pelatihan Pendidikan Konservasi bagi Guru-Guru Sekolah di Kawasan Sekitar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Mark Seolah ingin ‘menyindir’ peserta karena Pelatihan dilaksanakan disebuah penginapan yang diapit oleh sungai besar yaitu Sungai Buluh dan Sungai Batang Serangan dimana orang bebas memakai air tanpa syarat.

Mark melanjutkan kisahnya,
“Di Australia, mobil kotor adalah hal yang biasa. Kami sangat jarang membersihkan mobil dengan air bersih. Tempat cuci mobil diatur airnya agar dapat didaur ulang dan dapat dipakai lagi. Jadi kalau mobil kita sering kelihatan bersih, kita malah dianggap pemboros air.”


Mencuci Mobil membutuhkan air yang banyak (Google Images)
Kembali peserta pelatihan tertawa. Mereka sungguh hampir tak percaya bahwa memakai air untuk mencuci mobil atau kendaraan dianggap pemborosan di Australia. Di lingkungan mereka, daerah Tangkahan, masyarakat dengan mudah memakai air tanpa batas untuk segala keperluan termasuk membuang sampah rumah tangga dan limbah industri kecil. Jangankan mobil, Bus-pun bisa“dimandikan” di pinggir sungai sepuas-puasnya tanpa membayar dan khawatir kekurangan air.

Semua peserta pelatihan manggut-manggut. Saya tidak paham betul, manggut-manggut tanda paham, bingung atau malah merasa aneh.

***

Pengalaman Mark dan Lian menyadarkan saya tentang begitu berharganya air. Di negara yang sangat kurang sumberdya airnya, masyarakatnya memiliki kesadaran yang tinggi untuk menggunakan air dengan bijaksana. Sampai-sampai mereka membatasi air untuk mandi, padahal mandi adalah kebutuhan dasar manusia sehat.

Gaya hidup bisa berubah karena air. Misalnya di Australia, mandi menjadi terbatas dan air bekas mandi pun sangat berharga. Orang Australia juga tidak risih membiarkan mobilnya kotor karena jarang dicuci. Mereka justru menganggap tidak pantas mencuci mobilnya setiap hari dengan air sementara air sangat dibatasi penggunaannya.

Bagaimana di negera kita? Air begitu bebas dipakai. Sebagian besar orang tidak perlu menghemat air untuk mandi karena air begitu melimpah. Jas pencucian motor dan mobil hampir tak pernah sepi, apalagi di musim hujan. Di rumah-rumah mewah juga kita sering saksikan sopir pribadi setiap pagi mencuci mobil dari air kran. Sungguh berbeda dengan gaya hidup orang Australia yang demikian cermat dan hemat dalam memakai air.

Sumberdaya yang berlimpah seringkali melenakan kita untuk membiarkannya tak terkelola dengan baik. Iaakan disadari kalau keadaannya mulai berkurang, rusak atau terancam hilang. Saat ini kelangkaan air bersih mulai terasa. Untuk dapat menikmati air layak minum kita harus merogoh kantong membeli air minum dalam kemasan. Untuk dapat belajar berenang kita perlu menyisihkan waktu dan uang ke kolam renang. Untuk sekedar menikmati sejuk dan jernihnya air kita perlu berlelah-lelah menuju tempat wisata yang jauh.

Air tidak hanya mengubah gaya hidup, namun bisa mengubah hidup kita secara keseluruhan. Air kotor dan sanitasi buruk menjadi penyebab mewabahnya penyakit Diare, Disentri, Thypoid dan penyakit akibat parasit. Di Afrika Tengah 80% penyakit yang timbul disebabkan oleh kondisi sanitasi buruk dan air kotor. Usia harapan hidup di negara tersebut sekitar 39 tahun. Sekitar 85% masyarakatnya hidup tanpa air bersih. Mereka terpaksa memanfaatkan air tadah hujan yang kotor dan tidak sehat untuk kebutuhan mereka. Bahkan untuk mendapatkan air seperti itu, ibu-ibu dan anak-anak harus menempuh perjalanan berjam-jam.

Di sebagian daerah di Indonesia juga kita temukan kondisi yang hampir serupa. Masyarakat terpaksa menjadikan sungai yang kotor dan tidak sehat untuk Mandi Cuci kakus (MCK). Mereka tak punya pilihan karena sulitnya akses terhadap air bersih. Air tanah semakin sulit karena berada di bawah permukaan tanah yang sangat dalam. Sumber mata air mengering karena rusaknya hutan sebagai areal tangkapan air dan biaya pembuatan sumur yang sangat mahal. Ketika hujan, air lolos begitu saja tanpa bisa “ditangkap” dan dimanfaatkan.


Air Minum Dalam Kemasan jadi kebutuhan dasar untuk minum masyarakat kota (Google Image)
Jangan menunggu air langka untuk kemudian kita sadar dan berubah. Selagi air masih melimpah kita perlu mengelolanya dengan bijak dan produktif. Memang tak harus kita merubah cara mandi kita dan cara mencuci kendaraan kita. Cukup, jagalah sumber air dengan mempertahankan permukaan tanah yang penuh dengan vegetasi agar air terserap dengan baik ke dalam tanah. Pakailah air dengan hemat agar persediaan air bersih cukup untuk orang lain. Jagalah air jangan tercemar dengan tidak membuang sampah di badan air. Lalu berilah air jalan ke tempat yang seharusnya dengan merawat saluran air dan membuat resapan air di lingkungan kita.

Memperingati Hari Air Sedunia 2012, yang setiap tahunnya diperingati tanggal 22 Maret, yuk kita dukung kampanye “Water and Food Security”, pengelolaan air yang bijak untuk menyelamatkan pangan dunia. Tindakan kecil yang bijak dalam memakai air akan ikut menyelamatkan saudara kita yang lain dari kekurangan air dan pangan.

Salam bijak memakai air!

Sumber : http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2012/03/20/refleksi-hari-air-sedunia-2012-2-langka-dulu-baru-sadar/

Jumat, 16 Maret 2012

Jumat, 16 Maret 2012

Belajar Kehidupan dari Benih

Benih dari Berbagai Jenis Pohon (dok. Dr. Irdika Mansur - Fahutan IPB)
Benih atau biji dari tumbuh-tumbuhan yang sepertinya sebuah benda mati karena tidak dapat berpindah tempat sendiri. Ternyata benih merupakan meruakan mahluk hidup yang mengemban tanggungjawab besar dalam kehidupan spesiesnya. Benih adalah simbol kehidupan dan eksistensi sebuah spesies. Meski harus menemuh jalan panjang benih tetap harus melanjutkan hidup dan pertumbuhannya agar spesiesnya tetap eksis dan berkembang di muka bumi.

Tuhan telah melengkapi benih dengan berbagai perangkat agar fungsinya sebagai penebar kebaikan di alam semesta ini bisa berlangsung. Berikut perlengakapan yang diberikan Tuhan pada Benih :


  1. Benih memiliki “bungkus” berserat supaya mengambang terbawa arus air dan terdampar jauh dari induknya. Pada saat itu sedang mengemban tugas untuk menyebarkan spesies dan manfaat yang terkandung padanya.
  2. Benih dikaruniai “baju” yang tebal dan keras supaya bisa tetap “beristirahat seperti mati suri”. Ini untuk melindungi dari udara terlanpau dingin untuk tumbuh. Bila dipaksa tumbuh pada suhu yang tidak sesuaiia kan mati dan generasi turunan berikutnya akan punah.
  3. Ada benih yang diberi pemanis yang menarik atau bau yang merangsang sehingga bisa menarik binatang untuk dibawa pindah ke berbagai tempat. Bahkan benih yang jatuh di pangkal cabang tumbuhan lain dimana ia bisa tumbuh di situ, karena terjamin makanannya.
  4. Ia diberi perlengkapan seperti sayap supaya bisa tertiup angin hingga “terbang” jauh menyebarkan spesiesnya.
  5. Benih ada yang berada di dalam buah lalu dimakan binatang yang menyukainya atau masuk ke dalam perut binatang dan dicerna hingga saatnya dikeluarkan sebagai tinja dan dijatuhkan dimana saja.
  6. Benih mempunyai alat pengait pada kulitnya sehingga bisa tersangkut pada bulu binatang atau celana manusia dan terbawa kemana-mana.


Mempelajari rahasia benih, kita akan memahami bagaimana Tuhan Sang Mahapencipta, memelihara dan memberi makan seluruh ciptaanNya. Tumbuhan memang bisa mati, namun cintanya sungguh masih ia tinggalkan untuk manusia dan makhluk-makhluk lainnya yang membutuhkan keberadaannya. Tumbuh-tumbuhan tetap memberi meski ia mati.

Benih yang ia titipkan pada angin akan bersemi di seluruh penjuru mata angin. Benih yang ia titipkan pada air, akan menyeruak tumbuh di tempat yang mungkin tidak kita bayangkan sebelumnya. Benih yang ia titipkan pada serangga, akan dibawa dengan setia lalu ditempatkan di tanah terbaik yang memungkinkannya untuk tumbuh. Mereka, benih-benih yang telah dititipkan, akan terus berkembang meneruskan cinta tumbuhan sebelumnya.

Inilah sebenranya ilmu yang diperlukan bagi mereka yang mempersiapkan diri menjadi pemimpin.

Minggu, 26 Februari 2012

Minggu, 26 Februari 2012

Pahlawan Penyelamat Umat Manusia dari Gunung Kidul

Kita adalah pahlawan penyelamat umat manusia.
Kita sebenarnya menjadi Pahlawan ‘Ora Rumongso’ 

Kata-kata motivatif diatas diungkapkan oleh Lurah Desa Ngeposari Kecamatan Semanu Kabupaten Gunung Kidul kepada masyarakat yang menjadi peserta ” Pelatihan Mengukur Cadangan Karbon dan Perubahannya Pada pengelolaan Hutan Komunitas” yang diadakan pada tangal 24-26 Pebruari 2012. Selama ini kita mengenal beberapa istilah pahlawan seperti Pahlawan Revolusi, Pahlawan Kemerdekaan atau setidaknya Pahlawan Tanda Jasa. Namun, kata Pahlawan ‘ora rumongso’ merupakan istilah baru yang unik dan terasa aneh.
Pahlawan ‘ora rumongso’ dikaitkan dengan orang yang tanpa kenal lelah melestarikan lingkungannya. Dalam konteks masyarakat Gunung Kidul, Pahlawan ‘Ora Rumongso’ ini disematkan pada masyarakat yang sangat gigih dan bersemangat menjadikan lingkungan sekitarnya menjadi hijau dengan menanam pohon. Mereka terus menghijaukan bukit yang gersang hingga tanpa disadari banyak mata air yang muncul, aliran air ke sawah menjadi lancar, erosi dan longsor berkurang dan tutupan hutan semakin bertambah luas.
Menisbatkan masyarakat Gunung Kidul yang menanam pohon sebagai pahlawan tidaklah berlebihan. Era tahun 1970-an Gunung Kidul merupakan daerah yang gersang. Daerah-daerah perbukitan yang berbatu dan berkapur terlihat coklat karena minimnya pepohonan yang tumbuh. Dari sisi kesuburan tanah, tidaklah mudah membudidayakan pohon di tanah yang gersang dan berbatu.
Seiring dengan kesadaran semua pihak, khususnya masyarakat yang memiliki budaya menanam pohon yang kuat, kini Gunung Kidul menjadi daerah ijo royo-royo dan sebagai daerah percontohan pengelolaah hutan berbasis komunitas. Banyak lembaga mauun kelompok masyarakat dari berbagai daerah datang ke daerah ini untuk belajar bagaimana masyarakat bisa mengelola hutan dengan baik.
1330096269630451209
Pepohonan Jati yang tumbuh dan terawat di lahan masyarakat (dok. pribadi)
Fakta hijaunya Gunung Kidul akan kita saksikan bila kita melakukan perjalanan dari Sleman menuju Gunung Kidul. Mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan pepohonan jati yang rimbun di kanan dan kiri jalan. Pepohonan Jati itu tumbuh dengan subur di lahan masyarakat yang dibawahnya juga ditanam tanaman semusim seperti padi dan palawija. Hampir tak ada lahan yang kosong dari pepohonan di daerah Gunung Kidul. Menurut M. Taufik, staf Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Gunung Kidul, budaya agraris disini adaah budaya menanam tanaman kayu atau pohon. Budaya ini sesuai dengan filosofi pada Gunungan wayang kulit dimana latarnya berupa pohon besar yang dihuni oleh berbagai satwa. Wajar, bila keberhasilan program reboisasi dan penghijauan di Gunung Kidul dijadikan model oleh daerah-daerah lain di Indonesia.
1330096180225911841
Gunungan Wayang mengandung filosofi pelestarian alam (dok. M Taufik)
Selama ini banyak orang berpikir bahwa hutan yang dikelola oleh masyarakat atau komunitas cenderung apa adanya atau asal-asalan. Asal menanam lalu dibiarkan tumbuh sendiri. Pandangan seperti itu sirna ketika melihat langsung bagaimana masyarakat di Gunung Kidul mengelola hutan komunitas. Mereka memiliki peta areal kerja, data potensi hutan, batas-batas hutan yang jelas dan pembagian pengelolaan yang jelas dan tertata. Dokumen-dokumen pengelolaan tersedia dan tata kelola lembaga komunitasnya juga berjalan sesuai kesepakatan.
Beberapa areal hutan yang dikelola oleh masyarakat di Gunung Kidul sudah dikelola dengan mengacu pada standar pengelolaan hutan lestari. Contohnya di Desa Ngeposari Kecamatan Semanu terdapat Hutan Kemasyarakatan yang dikelola oleh Kelompok Tani Sedyo Makmur telah mendapat Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Kemasyarakatan (IUPHHK HKm) dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Ada juga kelompok tani hutan di Hutan Rakyat di Kecamatan Kedung Keris yang telah mendapat Sertifikat Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat Lestari (PHBML) dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) dan VLK (Verifikasi Legalitas Kayu) dari Kemenhut.
13300963501149786794
Masyarakat mendapatkan pendampingan dan pelatihan pengelolaan hutan oleh LSM (dok. pribadi)
Saat ini, beberapa kelompok pengelola hutan komunitas di Gunung Kidul mendapat pendampingan dan pelatihan dari berbagai lembaga baik pemerintah maupun LSM untuk dipersiapkan mendapatkan imbal jasa karbon dalam skema Voluntary Carbon Market. Padahal, skema VCM ini tidak mudah dipenuhi karena beratnya persyaratan. Dengan modal sosial masyarakat yang bagus dan dukungan berbagai pihak, mereka bisa dibimbing oleh pendamping untuk memenuhi berbgai persyaratan tersebut.
1330096413662817999
Pendamping memberikan pemahaman tentang efek rumah kaca dalam sebuah pelatihan (dok. pribadi)
Kunci keberhasilan pengelolaah hutan berbasis komunitas di Gunung Kidul terletak pada kolaborasi yang sangat baik antara pemerintah daerah, LSM pendamping dan kelompok tani hutan. Pemerintah daerah memotivasi melalui program pembinaan dan pemberdayaan, LSM pendamping membantu masyarakat mengelola hutan sesuai standar professional dan kelompok masyarakat kompak dan satu langkah. Seperti yang tertera pada Dokumen Prinsip yang ditegakkan oleh KTH Sedyomakmur yaitu “Kompak, Terbuka dan Demokratis”
Semoga Pahlawan ‘Ora Rumongso’ ini semakin banyak lahir dan tumbuh di negeri kita agar hutan lestari dan masyarakat sejahtera.

Rabu, 01 Februari 2012

Rabu, 01 Februari 2012

Bagaimana Agar Terhindar dari Tertimpa Pohon

Pohon Tumbang di Jakarta (dok. Kompas.com)


Bagaimana Agar Terhindar dari Tertimpa Pohon
Oleh:  Achmad Siddik Thoha

Cuaca ekstrem semakin menunjukkan peningkatan kerugian, tidak hanya materiil tetapi juga nyawa manusia. Di beberapa tempat di Indonesia (mungkin juga di dunia) angin kencang sebagai bentuk gejala iklim dan cuaca ekstrem menimbulkan kerugian yang tak sedikit. Korban jiwa pun berjatuhan dan kejatuhan. Berjatuhan karena tertimpa oleh benda roboh salah satunya pohon.

Beberapa media mengabarkan tentang korban akibat pohon tumbang. Kompas.com melaporkan bahwa hujan deras yang disertai angin kencang menyebabkan banyak pohon tumbang yang kemudian menimpa sejumlah mobil di kawasan Pondok Indah dan Fatmawati. Sementara detik.com mengabarkan tentang lumpuhnya Jalur pantura Situbondo akibat pohon bertumbangan setelah hujan lebat yang disertai angin kencang. Adapun media Indonesia online memberitakan musibah angin putting beliung yang melanda enam keamatan di Situbondo Jawa Timur dan tewasnya empat warga Bali akibat tertimpa pohon tumbang.

Di Negeri kita, pohon-pohon banyak ditanam di berbagai tempat. Banyak pohon ditanam tanpa memperhatikan jenis, kegunaan dan peruntukan yang tepat untuk lokasi tertentu. Hanya pohon peninggalan colonial Belanda yang saya rasa sesuai dengan peruntukan dan lokasinya.
Sepanjang Jalan lintas propinsi, terutama pantai utara Jawa, kita lihat dulu Belanda menanam kanan kiri jalan dengan pohon asam. Pohon Asam sangat cocok karena memiliki akar yang tidak menjalar dipermukaan dan sampah daunnya relative mudah lapuk (karena ukurannya kecil dan lunak).  Buahnya juga kecil namun kaya manfaat. Pohon semacam asam tidak akan membahayakan pengguna jalan bahkan bisa jadi pagar yang kokoh kalau ada pengemudi mabuk seperti Pengemudi Xenia maut. Tabrak saja tuh asam, pasti penyok minimal 75 %.

Juga kita bisa melihat tanaman Trembesi (samanea saman) yang ditanam oleh Belanda di tempat-tempat umum seperti di Stasiun Kereta Api,, Rumah Sakit,Pabrik dan Kantor pemerintah. Trembesi sangat rindang tajuknya sehingga memberi suasana teduh dan sejuk. Trembsesi juga sangat berguna menyerap polusi udara, karenanya juga banyak ditanam di pabrik-pabrik.

Nah, pohon-pohon peninggalan Belanda itu kini sudah mulai tua dan lapuk. Sementara pemerintah banyak menanam jenis tanaman yang sangat rapuh atau mudah patah dan tumbang di area public. Sebut saja pohon Angsana, yang banyak ditana m di akanan kiri jalan kota besar. Pohon ini memang sangat cepat tumbuh dan mudah perawatannya, namun mudah patah dan tumbang. Dengan kondisi seperti itu, maka pengguna area public dengan pohon tua yang lapuk atau pohon besar muda yang mudah tumbang akan rawan tertimpa pohon.

Lalu bagaiman kita menghindarinya?
1.       Sebelum anda memutuskan berduaan atau sendirian di bawah pohon, tengoklah pohon yang menaungi Anda, apakah di sosoknya besar namun terlihat mulai mengering beberapa cabang dan kulitnya. Nah ini adalah  cirri-ciri pohon tua dan siap rebah bersama datangnya angin. Tidak percaya, silahkan Anda ajak bicara pohonnya, hehe
2.       Bila Anda parkir mobil, duduk santai atau berteduh, perhatikan pohon yang menaungi Anda. Jangan berteduh dibawah pohon yang bagian pohonnya bila jatuh sangat besar atau berbahaya kalau menimpa benda. Seperti Palem (pelepahnya gede kalau jatuh), Durian (buahnya bikin penyok kepala), Mahoni atau  Switenia macrophyla (buahnya gede dan keras, bisa bikin benjol kepala), Anbangnya mudah Angsana, cabangnya mudah patah dan berbahaya bila jatuh di atas motor yang sedang ngebut.
3.       Bila angin hujan dan angin kencang apalagi disertai petir, jangan sok berani berteduh di bawah pohon, karena Anda sama saja ingin masuk rumah sakit. Bila Anda lolos dari rebahan pohon, belum tentu lolos dari kilatan petir atau sabetan ranting dan cabang patah.
4.       Pohon-pohon yang sudah kelihatan miring, adalah tempat yang  harus Anda jauhi. Sekuat apapun Anda, takkan bisa menyangga badan pohon yang akan rebah dan mengembalikannya pada posisi tegak. Pohon itu harusnya sudah ditebang.
5.       Pohon yang dipasangi reklame di badannnya juga berbahaya kala hujan lebat disertai angin kencang. Papan reklame ini akan tumbang dan mungkin akan mendarat pada benda yang ada di bawahnya.
6.       Kalau ada petugas atau orang yang sedang menebang atau memangkas pohon di pinggir jalan, pastikan anda tidak sok pentimg untuk lewat begitu saja. Rebahan pohon saat ditebang bisa saja tidak trekontrol arah tumbangnya sehingga anda harus patuh dan taat pada komandan penebang pohon. OK!
7.       Jangan suka mencaci maki pohon ya. Pohon tidak punya mulut untuk membalasnya, tapi ia punya ranting, buah, cabang atau bahkan batang untuk membalas perbuatan Anda. So, sayangi pohon seperti Anda menyayangi diri sendiri.

Pasti masih banyak cara untuk tidak tertimpa pohon. Anda punya pengalaman, silahkan berbagi, agar kita selamat dari tertimpa pohon.

Salam cinta pohon.

Senin, 16 Januari 2012

Senin, 16 Januari 2012

Doa-doa menghadapi Cuaca Ekstrem

Achmad Siddik Thoha dan Ade Ichwan Ali

Cuaca ektrem melanda dunia. Korban sakit dan meninggal dunia mulai berjatuhan. Di kawsan Timur Tengah, aktifitas masyarakat lumpuh karena serangan badai, salju dan hujan terus menerus. Di China, sungai-sungai membeku. Di Bangladesh, puluhan orang meninggal akibat serangan badai dingin.Sebaliknya, di Australia, kebakaran hutan yang dipicu badai panas dan meningkatnya suhu telah menghanguskan hutan, belukar  dan lahan. Korban akibat kebakaran hutan mulai berjatuhan. 

Di seluruh penjuru negeri hujan mulai mengguyur. Semua orang  menghadapi hujan yang tak jarang diiringi angin kencang dan petir menggelegar. Banjir melanda hampir seluruh kawasan Nusantara. Di Sulawesi, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur dan juga Jakarta, mulai akhir tahun 2012 hingga saat ini (11/1/2013), kondisi banjir tak surut dieritakan. Pada daerah yang pengelolaan kawasannya tidak antisipatif terhadap curah hujan yang tinggi, banjir dan longsor  dengan kerugian yang besar tak lagi dapat dihindari..

Semua masyarakat mau tak mau harus beradaptasi dengan hujan, angin kencang dan petir segala dampaknya. Ada yang menyiapkan diri agar tetap bugar selama musim hujan yang cukup ekstrem. Ada yang membenahi lingkungan pemukiman agar air yang mengguyur tidak lama bertahan di permukaan tanah. Ada pula yang membenahi rumahnya agar lebih tahan dengan gelontoran tetes hujan yang makin kuat dan banyak.

Hujan dalam konteks agama adalah rahmat. Tuhan bahkan menitipkan turunnya hujan pada seorang malaikat yang bernama Mikail. Rahmat itu berarti rezeki dan manfaat tidak hanya untuk manusia, namun juga bagi alam semesta. Hadirnya hujan bermakna siraman rahmat dari-Nya. Ketika rahmat turun dari langit sepantasnya sebagai manusia, hamba Tuham, kita memohon kebaikan pada-Nya.  Kita juga memohon agar hujan yang turun tidak membawa bencana bagi kita.

Dalam agama Islam diajarkan beberapa doa ketika hujan mengguyur bumi  dan sesuatu yang mengiringinya. Doa ini saya tuliskan terjemahannya agar memudahkan untuk dipahami dan dipraktekkan.

1. Doa ketika ada angin ribut

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ. 
 "Ya Allah Sesungguhnya saya meminta kepada-Mu, kebaikannya, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang dibawanya. Dan Saya berlindung kepada-Mu dari keburukannya, dan keburukan yang ada di dalamnya dan keburukan yang dibawanya."
[Muslim (II/616) dan Al-Bukhari (IV/76)].


2. Doa ketika ada halilintar

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ. 
  168. “Mahasuci Allah yang halilintar bertasbih dengan memuji-Nya, begitu juga para Malaikat, karena takut kepada-Nya.”[ Al-Muwaththa` (II/992). Al-Albani berkata: “Hadits mauquf yang sanadnya shahih.”]


3.  Doa ketika turun hujan

اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا. 
  “Ya Allah! Turunkanlah hujan deras yang bermanfaat (untuk manusia, tanaman dan binatang).”[Al-Bukhari dengan Fat-hul Baari (II/518)].

4. Doa setelah turun hujan

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ. 
  “Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah.”[ Al-Bukhari  (I/205, Muslim  (I/83)].



5. Doa meminta agar hujan berhenti

اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ. 
“Ya Allah! Hujanilah di sekitar kami, jangan kepada (di atas) kami. Ya, Allah! Berilah hujan ke daratan tinggi, anak-anak bukit, perut-perut lembah dan tanah-tanah tempat pepohonan tumbuh.”[Al-Bukhari  (I/224) dan Muslim (II/614)].

Sahabat, Hujan itu kesejukan. Hujan itu menghapus udara kotor. Hujan itu menghanyutkan tanah subur dari atas ke bawah. Hujan itu melarutkan hara/nutrisi tanah hingga mudah diserap tanaman. Semoga hujan juga melunturkan dosa-dosa hamba yang bertaubat pada-Nya. 

Ingat sahabat, tak ada yang salah dengan hujan. Kitalah yang salah memperlakukan hujan saat ia turun ke bumi.

Sahabat, mari berdoa sebagai bagian usaha kita agar selamat dari terpaaan cuaca ekstrem. Kala hujan turun, disitulah waktu yang tepat untuk memohon kebaikan dan memohon ampun atas segala dosa pada-Nya.



Rabu, 14 Desember 2011

Rabu, 14 Desember 2011

Liputan Hari Pohon Sedunia dan Hari Menanam Pohon Indonesia POHON INSPIRASI

Menunggu “Malaikat Kecil” (Sebuah Kisah Indah di Acara PI)
Oleh Achmad Siddik Thoha


“Bu, dimana posisi?” Bolak-balik saya bertanya posisi salah seorang sahabat POHON INSPIRASI yang akan hadir pada acara Peringatan Hari Pohon Sedunia (HPS) dan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI), hari ini Minggu 11 Desember 2011.

Saya tidak bisa menyembunyikan keresahan saya. Betapa tidak, peserta yang saya tunggu ini sangat penting. Mereka adalah rombongan Taman Kanak-kanak (TK) Amanah Bandung yang sudah lama merencanakan akan hadir dan mengisi momen penting di acara yang diadakan PI bekerja sama dengan LATIN (Lembaga Alam Tropika) dan De Tara (LSM Lingkungan). Namun hingga 2 jam acara berlangsung sejak pukul 09.00, yang ditunggu juga belum hadir. Infrormasi yang saya terima, mereka mengalami kesulitan mencari jalan menuju lokasi acara.

Lomba yang akan mereka ikuti yaitu mewarnai gambar (untuk TK- SD Kelas I) akhirnya berakhir.
Semua peserta dengan atribut ala dayak, memakai topi yang ditempel selembar daun yang dilekat tegak, mulai berjalan menyusuri hutan. Sampailah anak-anak kecil, remaja dan orang tua peserta acara HSP dan HMPI di areal hutan yang berlantai serasah daun meranti. Lokasi ini merupakan tempat favorit untuk kegiatan permainan di alam.

Pukul 11.28 saya dapat Kabar, posisi “tamu” dari Bandung sudah masuk kawasan hutan CIFOR (Center of International Forestry Research), kawsan hutan penelitian dekat dengan tempat acara PI. Segera saya menggiring mereka ke kawasan hutan berlantai serasah meranti. Tampak di dalam mobil, tiga orang anak yang disebut “Malaikat Kecil” oleh salah satu anggota PI dan tiga orang ibu-ibu yang saya ketahui adalah guru TK Amanah Bandung.

Sampailah acara yang ditunggu-tunggu peserta dan terutama saya, yaitu membacakan dongeng pohon. Dongeng ini saya karang dari adaptasi cerita yang pernah saya baca di beberapa situs dan sudah pernah di posting di grup PI, berjudul “Kasih Tak Berbalas”. Salah satu guru TK Amanah, sebut saja namanya “Bunda”, sudah menyiapkan diri dengan matang untuk membawakan dongeng. Mereka membentuk tim dan melibatkan “malaikat kecilnya” untuk ikut mendongeng. Hebatnya lagi mereka membawa alat peraga berupa pohon yang terbuat dari kertas serta boneka. Mereka juga memakai topi berbentuk lingkaran penuh bunga. Sungguh tim yang hebat.

Mulailah “Bunda” mendongeng dengan ekspresi yang sangat tepat dan mengharukan. Hampir 100 peserta yang terdiri dri anak-anak, remaja dan orang tua terpukau mendengar dongeng pohon. Menjelang akhir cerita, saya melihat beberapa peserta larut dalam cerita yang mengharukan. Ada tetes air mata haru di akhir sesi dongeng ini. Sungguh momen yang sangat berkesan bagi saya.

Dongeng yang mengharukan itu akhirnya berubah ceria setelah lagu pohon dikumandangkan bersama “Bunda” dan “Para Malaikat Kecil” penyelamat bumi.

Akulah pohon
tempat berteduh.
Ini batangku dan ini dahanku.
Ini rantingku & ini daunku.
Jika aku tumbang ke kanan..krek krek krek.
Jika tumbang ke kiri..krek krek krek.
Jika tumbang k blakang..krek krek krek.
Jika tumbang k depan..krek krek krek

Tepuk tangan menggema. Saya rasa pohon-pohon meranti di sekeliling kami juga tersenyum pada kami saat itu. Seandainya pohon punya tangan yang bisa digerakkan, mereka juga akan bertepuk tangan J

Saya yakin peserta sudah mulai letih, karena waktu sudah melewati tengah hari. Setiba di pendopo LATIN mereka saya putarkan film kartun tentang pohon. Mereka tampak serius menyimak.

Ada satu agenda yang sebenarnya berat dilakukan saat letih seperti ini tapi inilah acara inti sebenarnya yaitu menanam bibit pohon. Tadinya acara ini adalah wajib bagi anak-anak pesera lomba menwarnai dan menggambar. Saya berpikr inilah saatnya saya mendapatkan “buah” dari rangkaian acara untuk mendekatkan peserta pada pohon.

“Siapa yang mau menanam pohon?” saya melontarkan tawaran yang kurang popular saat waktunya harus menerima hadiah dan segera pulang.

“Saya, Aku…” banyak tangan terangkat. Saya merasa mendapat kejutan.
“Baik, bagi yang mau menanam, silahkan ikuti saya, dan yang tidak mau silahkan duduk di pendopo.”

Ternyata yang mau menanam adalah sebagian besar peserta dan orang tuanya. Saya lega dan merasa bahwa ini sesuatu yang sangat saya dambakan. Menanam bukan lagi program yang dipaksakan. Menanam muncul dari kesadaran dan kebutuhan. Momen inilah yang berbeda dan sangat berkesan dibanding acara PI sebelumnya.

Acara demi acara berjalan dengan lancar. Semua pemenang lomba dan peserta mendapat hadiah dandoorprize. Panitia takkan membiarkan mereka pulang dengan tangan kosonng. Mereka harus bergembira sepulang acara PI. Menjelang paling akhir acara, kejutan kembali datang. Ibu Guru dari TK Amanah meminta sedikit waktu untuk momen penyampaian donasi pohon dari anak muridnya. Beliau menjelaskan bahwa dana ini dikumpulkan dari usaha mereka sendiri menjual tempe. Keuntungan menjual tempe itu kemudian disumbangkan melalui PI untuk kegiatan menanam dan merawat pohon.

Bersama Ibu Guru, tiga “malaikat kecil” cantik menyerahkan sebuah kotak cantik berisi donasi untuk PI. Saya rasa inilah puncak kesan indah yang saya rasakan dalam acara PI hari ini. Saya yakin teman-teman lain dari panitia merasakan hal yang sama. Terbukti setelah itu beberapa panitia ingin berfoto dengan tiga gadis cilik “malaikat kecil”, tentunya termasuk saya, hehe.

Di akhir tulisan ini, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada LATIN yang tetap percaya pada saya untuk berkolaborasi dalam program gerakan moral mencintai pohon. Juga kepada Abang dan Kakak senior saya dari Fahutan IPB yang mendukung kegiatan ini dengan Launching Puisi dari Pak Dwi R. Muhtaman dan Bang Mirza Saburo yang mengedarkan “Kencleng donasi” untuk mendukung kegiatan ini. Lewat launching dan lomba baca puisi, kegiatan PI menjadi makin kaya dan menarik. Ada juga peran besar dari LSM De Tara (Mbak Ika, dkk) yang telah memberi nuansa kreatif dengan adanya lomba kreatifitas alam bagi orang tua. Juga kepada Sahabat PI di Bogor, adik-adik MNH Fahutan Angkatan 47, teman-teman Lawalata IPB, dan para pembaca buku “Ketika Pohon Bersujud”. Yang ikut membantu secara teknis acara sehingga semua beban bisa dirasakan ringan. Takkan lupa keluarga saya yang selalu menjadi tim inti setiap ada acara PI (istri, anak-anak, Ibu dan Paman). Tidak ketinggalan kepada para anggota grup yang telah menyumbangkan dana, dukungan dan doa sehingga acara ini bisa berlangsung aman dan sukse, tanpa sahabat semua PI tidak bisa berpean bayak. Ini sebuah bentuk kolaborasi yang inspiratif

Semoga tulisan kilat ini bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kami berharap sahabat PI di tempat lain bisa terinspirasi dengan acara PI di Bogor dengan membuat acara dalam rangka memberi penyadaran pada masyarakat akan begitu berharganya pohon.

Rabu, 19 Oktober 2011

Rabu, 19 Oktober 2011

Keajaiban Air

Sungai Cisadane Di Kota Bogor
Keajaiban Air
Oleh Tyas Effendi


Tak pernah terlupa olehku tentang keajaiban air yang kutemukan saat itu. Kebaikan air telah membantuku di masa sulit. Saat itu, ketika aku masih menjadi seorang pelajar, aku dan lima orang temanku dari klub Pecinta Alam mengadakan pendakian ke gunung. Entah, aku lupa apa gunung yang kami kunjungi ketika itu. Kisah ini sudah tua memang.

Kami berenam punya keinginan besar untuk sampai di puncak, apa pun yang terjadi. Aku adalah salah satu dari dua orang perempuan dalam kelompok pendaki itu. Empat orang yang lain adalah laki-laki tangguh. Sudah menjadi hukum alam bahwa perempuan selalu menjadi lebih lemah dari laki-laki. Begitupun juga saat itu. Teman perempuanku hampir tidak kuat melanjutkan pendakian.

Keadaan kami saat itu benar-benar buruk. Kami tersesat, tak tahu arah. Persediaan makanan dan minuman kami pun juga habis. Seorang teman perempuanku sakit dan sudah benar-benar tidak bisa melanjutkan perjalanan. Belum lagi, tas kecil yang kami pergunakan untuk menyimpan obat hilang. Kami tersiksa karena kelaparan dan kehausan. Kami makan buah-buahan dari tanaman liar yang kami temukan, tapi tak begitu membantu. Parahnya, kami tidak menemukan jalan menuju sungai. Tanaman liana yang bisa memberikan tetes air pun tidak ada.

Beberapa jam kemudian, hujan deras turun. Kami hampir putus asa karena kehujanan dan kedinginan, tapi di sisi lain senang karena bisa merasakan air. Dahaga kami terbayar sudah.

Seorang teman laki-laki kami melepas bajunya, lalu menggunakannya untuk menyaring air hujan yang keruh itu. Kami menadahinya. Kami tahu benar kalau air itu kotor, bahkan juga tercampur potongan dedaunan kering yang ada di sekeliling kami. Aku membacakan doa singkat dan tulus sambil memegang gelas berisi air hujan itu. Lalu, kami memberikannya pada teman perempuan kami yang demam. Keajaiban terjadi. Hanya dengan meminum segelas air hujan itu, kawan kami akhirnya sembuh walaupun belum begitu kuat berjalan sendiri. Air itu menjadi obat alami yang sangat mujarab hanya dengan dibacakan doa dengan tulus.

***

Sahabat, kata-kata akan menjadi "mantra" yang ampuh jika diucapkan dengan tulus. Kata-kata adalah bahasa yang menjembatani kita dan dunia. Bagaimana dunia bisa mengerti kita jika kita tidak mengekspresikannya? Salah satunya adalah dengan kata-kata. Kata-kata bisa merangkai kehidupan yang kita jalani.

Jika kita mengingat lagi percobaan yang sudah dilakukan oleh Dr. Masaru Emoto, kita akan menemukan keajaiban yang sangat mempesona dari air. Ternyata air bisa merespon apa yang diucapkan manusia. Air tidak sepenuhnya mati.

Ucapan biasa saja sudah direspon baik oleh air dengan menunjukkan gambar kristal indah dibawah mikroskop. Apalagi jika kata-kata yang kita ucapkan adalah doa yang tulus, tentu air juga akan meresponnya dengan kebaikan yang besar.

Air, dari manapun asalnya, jika kita membisikkan padanya kata-kata yang baik, maka ia akan menjadikan kebaikan dari setiap tetesnya. Air, bagaimanapun keadaannya, jika kita membisikkan padanya doa yang tulus, maka ia akan menjadi penyembuh yang mujarab untuk jiwa-jiwa yang sakit.

Sahabat, bisikkanlah selalu doa-doa yang tulus sebelum kita meminum air. Bisikkanlah selalu kata-kata yang indah sebelum kita menjadikannya minuman untuk tanaman kita. Dan karena diri kita sebagian besar tersusun atas zat ini, maka berlakulah baik agar air dalam diri kita juga meresponnya dengan selalu menampilkan aura yang menyenangkan dari diri kita.

Air, anugerah yang tiada akan habis.

-Kisah di atas berdasarkan kisah nyata dari seorang guru Kimia

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates