Apa Kabar Sahabat POHON INSPIRASI

Blog Berbagi Cinta dan Inspirasi untuk Alam

Rabu, 19 Oktober 2011

Rabu, 19 Oktober 2011

Keajaiban Air

Sungai Cisadane Di Kota Bogor
Keajaiban Air
Oleh Tyas Effendi


Tak pernah terlupa olehku tentang keajaiban air yang kutemukan saat itu. Kebaikan air telah membantuku di masa sulit. Saat itu, ketika aku masih menjadi seorang pelajar, aku dan lima orang temanku dari klub Pecinta Alam mengadakan pendakian ke gunung. Entah, aku lupa apa gunung yang kami kunjungi ketika itu. Kisah ini sudah tua memang.

Kami berenam punya keinginan besar untuk sampai di puncak, apa pun yang terjadi. Aku adalah salah satu dari dua orang perempuan dalam kelompok pendaki itu. Empat orang yang lain adalah laki-laki tangguh. Sudah menjadi hukum alam bahwa perempuan selalu menjadi lebih lemah dari laki-laki. Begitupun juga saat itu. Teman perempuanku hampir tidak kuat melanjutkan pendakian.

Keadaan kami saat itu benar-benar buruk. Kami tersesat, tak tahu arah. Persediaan makanan dan minuman kami pun juga habis. Seorang teman perempuanku sakit dan sudah benar-benar tidak bisa melanjutkan perjalanan. Belum lagi, tas kecil yang kami pergunakan untuk menyimpan obat hilang. Kami tersiksa karena kelaparan dan kehausan. Kami makan buah-buahan dari tanaman liar yang kami temukan, tapi tak begitu membantu. Parahnya, kami tidak menemukan jalan menuju sungai. Tanaman liana yang bisa memberikan tetes air pun tidak ada.

Beberapa jam kemudian, hujan deras turun. Kami hampir putus asa karena kehujanan dan kedinginan, tapi di sisi lain senang karena bisa merasakan air. Dahaga kami terbayar sudah.

Seorang teman laki-laki kami melepas bajunya, lalu menggunakannya untuk menyaring air hujan yang keruh itu. Kami menadahinya. Kami tahu benar kalau air itu kotor, bahkan juga tercampur potongan dedaunan kering yang ada di sekeliling kami. Aku membacakan doa singkat dan tulus sambil memegang gelas berisi air hujan itu. Lalu, kami memberikannya pada teman perempuan kami yang demam. Keajaiban terjadi. Hanya dengan meminum segelas air hujan itu, kawan kami akhirnya sembuh walaupun belum begitu kuat berjalan sendiri. Air itu menjadi obat alami yang sangat mujarab hanya dengan dibacakan doa dengan tulus.

***

Sahabat, kata-kata akan menjadi "mantra" yang ampuh jika diucapkan dengan tulus. Kata-kata adalah bahasa yang menjembatani kita dan dunia. Bagaimana dunia bisa mengerti kita jika kita tidak mengekspresikannya? Salah satunya adalah dengan kata-kata. Kata-kata bisa merangkai kehidupan yang kita jalani.

Jika kita mengingat lagi percobaan yang sudah dilakukan oleh Dr. Masaru Emoto, kita akan menemukan keajaiban yang sangat mempesona dari air. Ternyata air bisa merespon apa yang diucapkan manusia. Air tidak sepenuhnya mati.

Ucapan biasa saja sudah direspon baik oleh air dengan menunjukkan gambar kristal indah dibawah mikroskop. Apalagi jika kata-kata yang kita ucapkan adalah doa yang tulus, tentu air juga akan meresponnya dengan kebaikan yang besar.

Air, dari manapun asalnya, jika kita membisikkan padanya kata-kata yang baik, maka ia akan menjadikan kebaikan dari setiap tetesnya. Air, bagaimanapun keadaannya, jika kita membisikkan padanya doa yang tulus, maka ia akan menjadi penyembuh yang mujarab untuk jiwa-jiwa yang sakit.

Sahabat, bisikkanlah selalu doa-doa yang tulus sebelum kita meminum air. Bisikkanlah selalu kata-kata yang indah sebelum kita menjadikannya minuman untuk tanaman kita. Dan karena diri kita sebagian besar tersusun atas zat ini, maka berlakulah baik agar air dalam diri kita juga meresponnya dengan selalu menampilkan aura yang menyenangkan dari diri kita.

Air, anugerah yang tiada akan habis.

-Kisah di atas berdasarkan kisah nyata dari seorang guru Kimia

Jumat, 16 September 2011

Jumat, 16 September 2011

Mandi Hanya Dua Menit

Mandi Hanya Dua Menit
Oleh : Achmad Siddik Thoha

“Saya mandi hanya bisa dua menit saja. ‘Shower’ sudah diatur hanya mengucur selama dua menit. Lewat dari itu ‘shower’ berhenti secara otomatis. Saat mandi, saya berdiri di dalam ember supaya air tidak tumpah dan terbuang percuma. Air bekas saya mandi bisa saya pakai untuk keperluan lain.”

Peserta pelatihan tersenyum, sebagian malah tertawa melihat ekspresi Mark memperagakan gaya mandi cepat dua menit. Mark adalah salah satu Trainer Pria asal Australia yang mengisi Pelatihan Pendidikan Konservasi bagi Guru-Guru Sekolah di Kawasan Sekitar Taman Nasional Gunung Leuser Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat Agustus 2008. Pelatihan dilaksanakan disebuah penginapan yang diapit oleh sungai besar yaitu Sungai Buluh dan Sungai Batang Serangan di Kawasan Ekowisata terkenal di Sumatera Utara, Tangkahan.

Mark melanjutkan kisahnya,
“Di Australia, mobil kotor adalah hal yang biasa. Kami sangat jarang membersihkan mobil dengan air bersih. Tempat cuci mobil diatur airnya agar dapat didaur ulang dan dapat dipakai lagi. Jadi kalau mobil kita sering kelihatan bersih, kita malah dianggap pemboros air.”

Kembali peserta pelatihan tertawa. Mereka sungguh hampir tak percaya bahwa memakai air untuk mencuci mobil atau kendaraan dianggap pemborosan di Australia. Di lingkungan mereka, daerah Tangkahan, masyarakat dengan mudah memakai air tanpa batas untuk segala keperluan termasuk membuang sampah rumah tangga dan limbah industri kecil. Jangankan mobil, Bus-pun bisa“dimandikan” di pinggir sungai sepuas-puasnya tanpa membayar dan khawatir kekurangan air.

Lian, Trainer lain, wanita asing yang energik rekan Mark, asal Australia menambahkan :
”Pernah pemerintah kami memerintahkan untuk mencabut jenis bunga impor yang ditanam d ipekarangan karena boros air dan diganti denga jenis bunga lokal yang hemat air. Jadi di tempat kami, masalah air sangat serius sehingga kami sangat behati-hati menggunakannya.”

Semua peserta pelatihan manggut-manggut. Saya tidak paham betul, manggut-manggut tanda paham, bingung atau malah merasa aneh.

***

Kita menyadari bahwa sumberdaya air semakin hari semakin berkurang kualitasnya. Jumlah air memang tidak berkurang, namun air yang bisa dimanfaatkan langsung dengan mudah, bebas dan aman sudah sangat sulit ditemui. Ini memang kurang disadari oleh sebagian besar masyrakat di negeri Khatulistiwa. Sumberdaya yang berlimpah seringkali melenakan kita untuk membiarkannya tak terkelola dengan baik. Ia, akan disadari kalau keadaannya mulai berkurang, rusak atau terancam hilang.

Saat ini kelangkaan air bersih mulai terasa. Untuk dapat menikmati air layak minum kita harus merogoh kantong. Untuk dapat belajar berenang kita perlu menyisihkan waktu dan uang ke kolam renang. Untuk sekedar menikmati sejuk dan jernihnya air kita perlu berlelah-lelah menuju tempat wisata yang jauh.

Sahabat, air bisa mengubah hidup kita. Air kotor dan sanitasi buruk menjadi penyebab mewabahnya penyakit Diare, Disentri, Thypoid dan penyakit akibat parasit. Di Afrika Tengah 80% penyakit yang timbul disebabkan oleh kondisi sanitasi buruk dan air kotor. Usia harapan hidup di negara tersebut sekitar 39 tahun. Sekitar 85% masyarakatnya hidup tanpa air bersih. Mereka terpaksa memanfaatkan air tadah hujan yang kotor dan tidak sehat untuk kebutuhan mereka. Bahkan untuk mendapatkan air seperti itu, ibu-ibu dan anak-anak harus menempuh perjalanan berjam-jam.

Di sebagian daerah di Indonesia juga kita temukan kondisi yang hampir serupa. Masyarakat terpaksa menjadikan sungai yang kotor dan tidak sehat untuk Mandi Cuci kakus (MCK). Mereka tak punya pilihan karena sulitnya akses terhadap air bersih. Air tanah semakin sulit karena berada di bawah tanah yang sangat dalam. Sumber mata air mengering karena rusaknya hutan sebagai areal tangkapan air dan biaya pembuatan sumur yang sangat mahal. Ketika hujan, air lolos begitu saja tanpa bisa “ditangkap” dan dimanfaatkan.

Sahabat, air adalah amanah-Nya untuk kita kelola dengan baik. Melestarikan air adalah salah satu bentuk kita melaksanakan amanah-Nya. Dunia ini takkan indah tanpa air jernih, sejuk dan mengalir. Dunia ini sangat menakutkan bila kita hidup dalam cekaman kelangkaan air, banjir dan kungkungan air kotor. Bukankah surga dihiasi oleh sungai mengalir yang tak terbayang keindahannya. Tidakkah kita ingin menghuni tempat terindah yang dihadiahkan oleh-Nya kelak.

Sahabat, mari kita lestarikan air dengan kemampuan yang kita miiki. Tindakan kecil seperti menanam pohon di halaman dan merawatnya, membuat sumur resapan, menghemat pemakaian air, tidak membuang sampah di perairan serta membersihkan saluran air bisa kita lakukan.

Sabtu, 10 September 2011

Sabtu, 10 September 2011

Buku Inspirasi dari Pohon : KETIKA POHON BERSUJUD

Telah tebit buku "Ketika Pohon Bersujud : Inspirasi Hidup dari Pohon"

Buku berisi renungan dan penggalian hikmah hidup yag terinspirasi dai keberadaan, "perilaku" dan manfaat dari makhluk luar biasa bernama pohon. Perpaduan pengamatan ilmiah dan nilai filosofis terhadap kehidupan pohon dengan bahasa yang mudah akan menambah wawasan dan kecintaan pembaca pada lingkungan hidup, terutama pohon.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan hasil perenungan penulis dari alam sekitar khususnya pepohonan yang menyimpan banyak rahasia, inspirasi dan hikmah. Disamping juga keprihatinan penulis akan banyaknya pohon yang ditebang untuk kepentingan jangka pendek. Penebangan pohon yang serampangan membuahkan bencana yang akrab dengan kita seperti banjir, kekeringan dan tanah longsor. Lebih lanjut kurangnya pepohonan berdampak tidak mampunya bumi ini menyerap gas-gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global.

Dari kekaguman pada pepohonan yang luar biasa hikmahnya ditambah keprihatinan rusaknya pepohonan dan hutan, penulis berharap kumpulan tulisan ini dapat menggugah pembaca. Penulis berharap pembaca menjadi lebih banyak memamami bahwa pohon itu merupakan inspirasi tiada batas yang bisa memotivasi untuk hidup lebih baik dan melestarikan alam.

Harapan penulis, buku ini bisa berkontribusi pada peningkatan semangat hidup masyarakat yang bisa dipetik dari inspirasi pepohonan sekaligus meningkatkan kesadaran melestarikan pohon dan alam. Dari inspirasi muncul motivasi, dari motivasi akan lahir sikap hidup. Dari pohon kita menemukan begitu banyak inspirasi untuk hidup yang lebih baik dan lestarinya alam.

Salam Lestari
Achmad Siddik Thoha
Penulis

Tanggapan Salah Satu Pembaca

Evyta Ar dari Medan :

Alhamdulillah buku "Ketika Pohon Bersujud" karya pak Achmad Siddik Thoha sudah sampai....kesan pertama begitu takjub.

Cover bukunya yang eksklusif dengan cetakan "timbul", saya suka sekali.
Ilustrasi gambar-gambar di dalamnya juga bagus, membuat saya rindu dengan alam. Dan saya suka sekali jenis font isinya.

Isinya? Jangan ditanya, berisi 51 kisah inspiratif dari pohon-pohon, ringan dan mudah dipahami, ga 'ribet'. Ada "Pohon Cinta", ada "Kungfu Panda", ada "Pohon yang Membuat Kaya", baru sebagian yang saya baca, sudah menggugah gelora ingin melanjutkan sampai habis, seraya bersyukur tiada tara kepada Sang Pencipta pohon.

Buku ini layak menjadi salah satu koleksi buku eksklusif evergreen! :) terima kasih Komunitas Pohon Inspirasi

Pemesanan bisa Menghubungi Ibu Popie Susanty
Kontak 0815 8446 1115

Minggu, 07 Agustus 2011

Minggu, 07 Agustus 2011

Pelajaran Puasa dari Pohon Jati

Pelajaran Puasa dari Pohon Jati
Oleh Achmad Siddik Thoha

Pohon-pohon jati itu melepaskan dedaunannya. Daun-daun kecoklatan terbang dan terhempas ringan di atas tanah. Lantai hutan jati terlihat penuh dengan daun lebar kering berwarna coklat muda yang berserakan. Hutan jati dalam keadaan meranggas saat itu.

Dua orang melintas pelan di hutan itu. Seorang pria dengan janggut panjang dan pria satunya masih sangat belia. Dua orang ini adalah murid dan guru yang berkelana mencari kearifan hidup.

”Guru, dua bulan lalu, kita pernah melintasi hutan jati di tempat lain. Waktu itu kita merasakan kesejukan dibawah naungan pepohonan jati dengan daun hijaunya yang segar dan bunga-bunganya yang sedang mekar. Kali ini, hampir tak ada daun yang melekat di ranting pepohonan ini. Apa jati ini harus menggugurkan daunnya setiap tahun guru?” Tanya sang murid.

” Kemarau dengan panas yang terik dan air dari langit yang tertahan, mengharuskan jati melewati hari harinya dengan melepas dedaunannya. Begitulah jati menempa dirinya muridku.” Jawab sang guru singkat.

”Bagaimana caranya jati bisa tumbuh dan berkembang tanpa daun. Bukankah daun sangat penting untuk menyerap matahari dan menguapkan air bagi tumbuhan. Mereka bisa mati kalau begitu terus, Guru?” Sang murid mendesak gurunya menjelaskan.

Sang guru kemudian menjawab rasa penasaran muridnya.
”Itulah hikmah yang Tuhan berikan melalui pohon jati. Meski tanpa daun, pohon jati justru sedang menempa dirinya menjadi salah satu pohon terbaik di bumi ini. Dia takkan mati. Ia bahkan sedang ”berpuasa” untuk tidak berkembang secara kasat mata. Ia sedang menempa dirinya untuk sanggup bertahan dengan ujian kekurangan air dan panasnya cuaca. Ia melewati ujian itu sambil mengugurkan masalah yang ada di daun dan memperbaiki kulitas kayu di batangnya.”

”Menggugurkan masalah...?Artinya daun-daun itu kalau terus ada dan bekerja di musim kemarau bisa mengganggu pertumbuhan pohon karena boros air. Nantinya bagian pohon lain seperti batang dan akar bisa terganggu ya, Guru?” Sang murid mencoba menganalisis penjelasan gurunya.”

”Benar sekali muridku. Sama halnya dengan tubuh kita. Pada saatnya kita harus mengistirahatkan anggota badan kita seperti perut untuk mengurangi kerjanya. Itu sangat diperlukan agar bagian lain dari diri kita berfungsi lebih optimal. Misalnya, saat perut beristirahat mengolah makanan, bagian tubuh lain khususnya pikiran dan jiwa kita bisa lebih optimal bekerja. Bukankah perut kita adalah salah satu sumber munculnya penyakit.” Sang guru mulai menjelaskan kearifan alam yang diamatinya

”Mungkin daun-daun itu bisa kita andaikan sebagai dosa-dosa kita. Saat kita mau berkorban untuk menahan diri dan bertahan dari ujian, Tuhan akan memberi kita karunia-Nya berupa bergugurannya dosa-dosa kita. Pada saat dosa-dosa itu berlepasan dalam diri kita, kita merasakan hidup ini lebih tenang dan bahagia. Bahagia itulah kualitas tertinggi yang diraih manusia dan sekaligus karunia dari-Nya. Kamu ingin hidup bahagia kan muridku? Sang guru menepuk punggung muridnya.

”Eh iya guru, pasti. Makanya kita harus segera sampai di kampung agar tenang, gak kepanasan begini Guru”

”Kamu masih puasa, kan? Jangan kalah sama pohon Jati yang puasanya lebih panjang dari kita,” canda Sang Guru

”Hahaha...” Guru dan murid tertawa. Mereka mendapatkan kearifan hidup dari bergugurannya dedaunan pohon Jati.

Memenangkan Peperangan dalam Jiwa

Memenangkan Peperangan dalam Jiwa
Oleh Achmad Siddik Thoha

“Pak, kita bawa bekal makan siang di hutan nanti?”
Pertanyaan Pak Bai, warga desa Bandar Agung Kecamatan Topos Kabupaten Lebong Propinsi Bengkulu, pekerja Pengukuran Kawasan Hutan untuk Rehabilitasi Hutan, membuat saya bimbang.

“Bagaimana ya, Pak? Bawa saja, Pak. Mungkin saya tidak kuat puasa sambil naik bukit, jadi saya bisa langsung batalkan. Kalau Bapak dan yang lain bagaimana?”

“Kami puaso (puasa).” Suara mantap keluar dari mulut Pak Bai.

Pak Anshori, pekerja lain yang akan membantu kami menimpali,”Saya tetap puasa, ini kan latihan menahan hawa nafsu.”

Aku terhenyak mendengar jawaban sederhana mereka namun sangat dalam maknanya. Aku bimbang karena pekerjaan pengukuran hutan untuk kegiatan rehabilitasi ini sangat berat. Aku dan tim harus naik turun bukit yang terjal, menuruni lembah yang curam dan berjalan melintasi hutan dan semak belukar rata-rata 10 km per hari. Dalam kondisi tidak berpuasa saja, kami sangat kelelahan. Warga desa sekitar hutan yang menjadi pekerja kami juga mengeluhkan pekerjaan pengukuran luas dan pemancangan patok batas yang sungguh melelahkan. Mengukur kawasan hutan seluas 2000 Ha bukan pekerjaan yang mudah. Belum lagi yang dimasuki adalah hutan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat Bengkulu (TNKS) yang terkenal dengan bukit-bukitnya yang terjal.

Pukul 08.00 kami mulai berangkat menuju patok batas kawasan TNKS di Desa Bandar Agung Kecamatan Topos Kabupaten Lebong Propinsi Bengkulu. Jauh nian perjalanan menuju patok batas kawasan hutan ini. Kami baru mulai bekerja apabila sudah menemukan patok batas kawasan yang akan dijadikan titik awal menentukan luasan hutan. Aku perkirakan perjalanan menuju batas hutan ini sudah menempuh jarak 3 km dengan medan mendaki yang sangat melelahkan.

Sampai di batas kawasan hutan TNKS, badanku mulai lemas. Untungnya ada sungai dekat batas hutan. Langsung aku mengguyur kepala yang mulai kepanasan akibat terik mataharari yang sangat menyengat. Tak lupa aku berwudlu agar muka dan anggota badan lain menjadi segar.
Pekerjaan mengukur dimulai. Aku bersama seorang Polisi Hutan (Polhut) bernama Pak Herwansyah dan dua pekerja, Pak Anshori dan Pak Supen, mulai berjalan menyusuri hutan yang sudah mulai rusak akibat kebakaran dan perambahan. Pak Anshori dan Pak Supen berjalan tenang dimana masing-masing memanggul 10 patok yang cukup berat.

Jalan semakin menanjak dan panas matahari mulai terik. Kami berusaha menghindari jalan yang terlalu terjal dengan mencari punggunggan bukit dan jalan setapak. Ternyata jalur yang kami lewati tidak sesuai dengan rencana awal. Kami harus bolak-balik untuk menuju lokasi sesuai arah namun tidak sampai mendaki bukit. Akhirnya kami terhenti di depan sebuah bukit tinggi berbatu. Bukit ini seperti dinding batu yang sangat tinggi.

Kami mulai kelelahan. Aku lihat Pak Anshori menemukan pondok masyarakat yang membuka lahan kopi di dalam hutan. Beliau lalu memanggilku.

“Pak, kalau puasanya batal, saya buatkan kopi, ya?”
“Tunggu dulu, Pak. Saya istirahat dulu.” Jawabku.
“Bagaimana Pak Herwansyah, kalau kita harus mendaki bukit itu, saya akan batalkan puasa saya. Saya sudah lemas nih, Pak.”
Pak Herwansyah terdiam. Dia juga sangat kelelahan. Bibirnya mulai memutih pertanda mulutya sangat kering dan kehausan.

“Kita istirahat dulu, Pak. Nanti kita lanjut lagi.” Pak Herwansyah mencoba menahan niatku membatalkan puasa.

Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat di pondok. Aku tertidur sejenak. Suara Pak Anshori, Pak Supen dan pemilik pondok mengobrol ,sayup-sayup terdengar. Aku kesluitan tidur karena terlalu kelelahan menahan haus, penat dan lapar.

Setelah sekitar 40 menit aku berbaring, tubuhku mulai segar. Niatku membatalkan puasa kuurungkan saja. Kulihat wajah Pak Anshori sangat segar. Meski tubuhnya kurus dan umurnya sudah di atas lima puluh tahun beliau tidak menunjukkan kelelahan meskipun berpuasa sambil bekerja berat. Aku mulai menemukan semangat setelah melihat senyum Pak Anshori.

“Ayo kita guyur (jalan)” Aku mengajak mereka beranjak dari istirahat.

Perjalanan dilanjutkan. Aku dan Pak Herwansyah tak pernah melewatkan untuk mengguyur kepala setiap menemukan sungai kecil di dalam hutan. Dengan begitu, kami berdua bisa bertahan. Aku juga terus mengingat bahwa apa yang sedang kujalani tidak ada apa-apanya dengan para pejuang kemerdekaan dulu yang berperang menaklukkan penjajah sambil berpuasa. Aku juga berusaha memotivasi diri dengan kisah-kisah para pejuang hebat yang meraih kemuliaan karena mereka tetap berpuasa meski harus menempuh perjalanan dengan berselimut badai pasir dan bersiram panas terik matahari.

Dengan langkah yang mulai gontai, kami tetap meneruskan pekerjaan sampai selesai. Pukul 15.30 akhirnya kami sampai Desa Bandar agung kembali setelah berjalan sekitar 10 km melintasi hutan, padang alang-alang, kebun kopi dan semak belukar di bawah terik matahari.

Saat yang ditunggu telah tiba. Segelas air telah menutup puasa yang sangat berkesan dalam hidupku hari ini. Aku menemukan makna kesabaran dan pelajaran menahan nafsu dari perjalananku hari ini.

Sesungguhnya kemenangan sejati adalah saat kita bisa mengalahkan hawa nafsu. Pertarungan jiwa harus terlebih dulu dimenangkan sebelum kita memenangkan pertarungan fisik. Betapa banyak peristiwa besar yang terjadi dalam sejarah dimana saat kemenangan dalam pertarungan jiwa dicapai maka kesuksesan besar akan diraih pula.

Selasa, 12 Juli 2011

Selasa, 12 Juli 2011

Fakta Bagaimana Pohon dapat Menyelamatkan Lingkungan

Fakta Bagaimana Pohon dapat Menyelamatkan Lingkungan
Achmad Siddik Thoha

  1. Sebuah pohon ukuran rata-rata menghasilkan cukup oksigen dalam satu tahun untuk menjaga keluarga beranggotakan empat orang untuk bernapas dengan nyaman.
  2. Tiga pohon yang ditanam di tempat yang tepat di sekitar bangunan dapat menghemat biaya AC sampai 50 persen
  3. Pohon meningkatkan nilai properti. Rumah dikelilingi oleh pohon bisa terjual 18-25 persen lebih tinggi dari rumah tanpa pepohonan.
  4. Pohon menghasilkan pekerjaan dan memberi kontribusi bahan baku untuk bangunan, surat kabar, buku dan lebih dari 15.000 produk hutan lainnya. Pohon dapat diperbaharui, dapat terurai secara biologi dan dapat didaur ulang. Kayu bisa diolah lebih lanjut menjadi produk seperti vitamin, plastik, rasa vanila, film fotografi, pasta gigi dan obat-obatan.
  5. Dengan penanaman 20.000.000 pohon, akan tersedia 260.000.000 ton lebih oksigen bagi bumi dan penduduknya. Pohon sebanyak itu akan menghapus 10 juta ton CO2.
  6. Pohon menyediakan tempat berlindung dan makanan bagi satwa liar seperti burung, tupai, dan serangga. Pohon-pohon berukuran pendek menyediakan makanan dan pelindung untuk mamalia yang lebih besar, seperti musang dan rusa.
  7. Pohon membuat orang merasa lebih baik. Pekerja lebih produktif ketika mereka melihat pohon-pohon di sepanjang rute perjalanan mereka dan dari jendela kantor mereka.
  8. Pasien di Rumah Sakit yang memiliki pemandangan pohon akan lebih cepat sembuh, menggunakan obat nyeri lebih sedikit, dan meninggalkan rumah sakit lebih cepat dibandingkan pasien dengan pemandangan dinding bata. Pasien dengan pemandangan pohon menghabiskan hari 8 persen lebih sedikit di rumah sakit.
  9. Konsumen bersedia untuk menghabiskan lebih banyak uang di komplek perbelanjaan yang terdapat banyak pohon. Mereka bersedia membayar lebih untuk produk yang dibeli di sebuah komplek perbelanjaan dengan pepohonan. Mereka pembeli yang sama juga mengatakan mereka bersedia untuk tinggal lebih lama di sebuah komplek perbelanjaan dengan pepohonan.
  10. Pohon yang berada di lingkungan kita akan membuat kita santai, denyut jantung yang lebih rendah, dan mengurangi stres.

Diadaptasi dari http://www.zapworld.com/10-facts-trees-help-save-evironment

Sabtu, 02 Juli 2011

Sabtu, 02 Juli 2011

Pohon Membuat Kita Kaya

Mengambil Hikmah dari Berlibur : Pohon Membuat Kita Kaya
Achmad Siddik Thoha

Musim liburan akan berakhir. Seorang keluarga kaya sudah menghabiskan waktu berkeliling tempat wisata terkenal. Namun mereka sepertinya tidak mendapatkan kepuasan batin dengan kegiatan rekreasinya.

Suatu ketika, mobil mereka terhenti di sebuah desa yang jauh dari keramaian. Mereka tertarik dengan pemandangan alami desa itu. Sawah terhampar menghijau. Burung berkicau sangat indah. Para petani menabur pupuk dan menjaga padinya. Dari jauh terlihat perkampungan di tengah sawah yang dikelilingi pepohonan.

Sang Ayah mengajak anak satu-satunya berjalan menuju kampung untuk meilhat lebih dekat kehidupan masyarakat desa. Mereka melihat-lihat pemandangan dan aktifitas masyarakat tanpa mengganggunya. Ayah dan anak itu sangat menikmati kegiatan ini sampai terlupa mobil yang ditinggalkannya.

Tibalah mereka di sebuah gubuk di tengah sawah. Ayah dan anak ini duduk melepas lelah sambil menikmati hamparan padi muda dan semilir angin sore. Sang Ayah kemudian memulai pembicaraannya.
”Anakku, apakah kamu senang dengan perjalanan barusan?”
”Sungguh menakjubkan Ayahku...baru kali ini aku merasakan perjalanan rekreasi yang berkesan.” Jawab Sang Anak.

”Apa yag membuatmu sangat terkesan sayang?” Sang Ayah penasaran
”Ternyata mereka lebih kaya daripada kita Ayah” Anak itu menjawab perlahan. Ayahnya mengangguk pelan. Dia yakin anaknya punya alasan yang akan membuatnya kagum. ”Coba terangkan alasanmu, Nak, mengapa mereka lebih kaya?”

Sang anak menghela nafas sejenak.
” Ayah...kita memiliki kendaraan mewah yang bisa mengantar kita tanpa terkena panas dan hujan. Tapi mereka punya kaki yang kuat dan tubuh yang bersahabat dengan panas dan hujan.”
” Kita punya seekor kucing dan tiga ekor burung yang dibeli sangat mahal. Mereka memiliki banyak sekali hewan peliharaan yang datang sendiri kerumah mereka.”
” Kita membeli AC dan kipas angin untuk mengusir panas. Mereka memiliki udara yang segar dan bersih dimana pun mereka bekerja dan beristirahat.”
” Kita mempekerjakan pembantu untuk melayani kita. Mereka hidup saling melayani satu sama lain tanpa ada yang meminta upah.”
” Kita harus membeli makanan dan dilayani saat waktu makan. Mereka bisa menyediakan makanannya, memasak dan menghidangkannya sendiri.”
”Kita hanya punya tanah yang sempit di depan rumah kita. Mereka memiliki halaman sebatas mata memandang.”
”Kita punya rumah yang tidak luas dan kamar yang sempit. Rumah mereka beratap langit dan mereka tidur dimanapun berselimut embun.”
” Kita memagari rumah dan membuat dinding tinggi agar aman. Mereka mempunyai banyak tetangga dan sahabat yang saling melindungi dan membuatnya aman.”
” Kita minum dan mandi dengan batasan biaya. Mereka bebas mandi, mencuci dan minum air tanpa membayar.”
” Kita kesini dengan menyisihkan tabungan berbulan-bulan. Mereka tiap saat menikmati pemandangan dan suasana alami dan memetik hasil darinya.”

Sang Ayah memeluk tubuh anaknya. Semilir angin mengiringi langkah merka menembus persawahan menuju mobil yang ditinggalkannya sejak tadi pagi. Mentari sore mengiringi perjalanan pulang mereka. Mereka telah mendapatkan hikmah dari perjalanannya.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates