Apa Kabar Sahabat POHON INSPIRASI

Blog Berbagi Cinta dan Inspirasi untuk Alam

Sabtu, 11 Juni 2011

Sabtu, 11 Juni 2011

Pelatihan Pengolahan Sampah Rumah Tangga

Komunitas Pohon Inspirasi berkolaborasi dengan LATIN dan Salimah (Persaudaraan Muslimah) PC Ciampea Kabupaten Bogor mengadakana cara Pelatihan Pemanfaatan Sampah Rumah Tangga. Sampah rumah tangga dari plastik bungkus kopi, geas air minera. detergen, dll diolah menjadi barang bernilai ekonomi seperti dompet, tas, tempat buah, dll. Acara diikuti 30 peserta yang berlangsung tanggal 27 Maret 2011 di Situgede Kota Bogor. Juga disajikan cara mengolah  kantong keresek dan kertas koran bekas menjadi Vas Bunga, Tempat Pensil, Pigura, dll yang dibawakan oleh Trainer darii Dewan Kerajinan Daerah Kota Bogor










Liputan Pohonku Istanaku

Pada bulan Desember kembali PI mengadakan acara berupa Pendidikan Lingkungan bertajuk “POHON ISTANAKU : bermain, belajar dan menanam bersama Pohon” yang diadakan pada 19 Desember 2011 yang diikuti oleh 30 peserta anak-anak dan Ibu-ibu dari Kelurahan Situgede Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor. Acara ini berisi permainan di alam, jelajah hutan, mewarnai gambar dengan bahan alami dan menanam bibit pohon.






Liputan Peringatan Hari Air Sedunia POHON INSPIRASI

LATIN dan Komunitas POHON INSPIRASI Menanam Bibit Pohon dan Berlatih Membuat Biopori di Peringatan Hari AIR SEDUNIA 2011

Pagi yang cerah di Hari Minggu, 20 Maret 2011 diiringi kicauan burung dan suara aliran sungai Cisadane di Kelurahan Situgede Bogor Barat Kota Bogor. Dua puluhan orang berkumpul di Pendopo Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) dengan penuh semangat. Nyanyian dan yel-yel semangat mengawali acara Peringatan Hari Air Sedunia diadakan oleh POHON INSPIRASI dan LATIN yang mengambil tema “Menanam  dan Merawat Pohon serta Memanfaatkan Limbah Untuk Kelestarian Air“ berlangsung semarak. Acara ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk memelihara dan memperbaiki kondisi sumberdaya air.

Para peserta kemudian mendengarkan dengan antusias tanyangan Slide tentang Air dan Kehidupan serta Film tentang Kondisi Air di Dunia yang dipandu oleh Pendiri Grup FacebookPOHON INSPIRASI, Achmad Siddik Thoha. Mereka terhenyak melihat tayangan yang mengungkapkan keprihatinan masyarakat dunia tentang kelangkaan air dan meluasnya penyakit akibat kondisi sanitasi buruk dan air kotor.

Acara berikutnya adalah Presentasi dan Demonstrasi pembuatan Lubang Biopori (LBP) yang dibawakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah Institut Pertanian Bogor (IPB). Peserta sangat antusias mempraktekkan alat LBP di tanah terbuka di komplek LATIN. Banyak pertanyaan yang terlontar karena LBP sangat menjanjikan untuk berperan dalam mengurangi sampah dan genangan air khususnya di daerah perkotaan.

Hari semakin siang, namun para peserta semakin semangat karena mereka akan segera menjelajahi hutan dan melihat keindahan Sungai Cisadane. Penjelajahan hutan melintasi jalur yang tidak mudah. Jalanan menurun dan licin harus dilewati oleh para peserta. Jalanan semakin menantang ketika peserta harus melewati pinggiran Sungai Cisadane untuk menuju Jeram sungai yang memiliki pemandangan sangat indah. Ada peserta berusia dua tahun yang tadinya takut meniti pinggiran sungai yang licin akhirnya melonjak gembira ketika sampai di pinggiran Jeram. Memang air Sungai Cisadane tidak lagi jernih, namun keindahan hutan yang ada disisi kanan-kiri sungai bisa mempertahankan keindahan sungai yang terkenal untuk kegiatan Arung Jeram ini. Setelah menikmati keindahan dan kesejukan air Sungai Cisadane peserta melanjutkan perjalanan melintasi areal tanaman Murbei yang merupakan tanaman makanan ulat sutera.

Penjelajahan hutan dan sungai akhirnya mencapai tempat yang dijanjikan panitia yaitu area penanaman bibit. Peserta menanam di areal lahan milik masyarakat yang pada Bulan Nopember Lalu juga ditanam oleh sahabat POHON dan LATIN . Sebanyak 80 bibit yakni Alpukat, Nangka, Mahoni dan Sengon di tanam di areal seluas 400 m. Total tanaman yang akan dirawat kemudian oleh POHON INSPIRASI dan LATIN sebanyak 150 bibit yang akan ditawarkan pada masyarakat umum dalam bentuk Donasi Pohon. Adapun sisa Bibit yang tersedia yakni 400 Bibit akan dibagikan kepada masyarakat sekitar untuk bisa ditanam di pekarangan mereka.
Setelah menanam, peserta masih harus menjalani kegiatan lain. Kegiatan ini sangat menyenangkan karena akan memanfaatkan bahan alam yang ada di sekitar hutan untuk membuat Terarium. Terarium yang sudah dibuat masing-masing kelompok kemudian mendapat penilaian dari panitia. Pada akhirnya, dua pemenang mendapat hadiah atas kratifitas mereka dalam membuat Terarium yang indah dan unik.

Pada akhir acara, Ketua Yayasan LATIN, Rudy Novira mengajak peserta dan generasi muda umumnya untuk terus menanam pohon dan melanjutkannya dengan perawatan. Acara Peringatan Hari Air Sedunia ni akan dilanjutkan dengan Pelatihan Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga untuk Produk Bernilai Ekonomisanggal 27 Maret 2011. Dalam waktu dekat, even menanam pohon akan terus dilanjutkan yaitu pada peringatan Hari Bumi 22 April dan Hari Lingkungan Hidup 6 Juni. Semoga acara Peringatan Hari Air yang diadakan oleh POHON INSPIRASI dan LATIN bisa menginspirasi banyak orang untuk berbuat untuk perbaikan alam.









Mencari Pahlawan Lingkungan Indonesia

Mencari Pahlawan Lingkungan Indonesia
Oleh Achmad Siddik Thoha

Kakinya terus tak henti melangkah meski berat. Lumpur di muara sungai yang berbatasan dengan pantai tak mudah untuk dilalui. Sambil melangkah tangannya terus menancapkan propagul (buah bakau dari pohon Bakau atau Rhizopora spp). Beberapa propagul yang langsung berhadapan dengan gelombang pasang, ia ikatkan pada bambu yang ditancap. Lelaki itu tiap hari melakukannya. Ia tak peduli apakah ada yang melihat atau tidak usahanya untuk menanami tepian pantai dengan bakau. Lelaki penanam bakau tak peduli dengan pendapat orang lain.

”Gila kau...ngapain menancap biji itu, paling nanti juga hanyut terbawa arus laut.” ”Capek-capek saja kau menanam, tak ada uangnya.” ”Pikirkan keluargamu....sekarang sedang krisis, kok malah buang-buang tenaga gak dapat duit.” ”Sudahlah, kita tunggu program pemerintah saja, kan gak capek-capek buang uang, malah kita dapat uang dari proyek.”

Namun lelaki itu acuh. Kaki dan tangannya terus bergerak. Hatinya penuh dengan harapan yang meluap-luap. Lima tahun bergulir. Propagul kini berubah menjadi pohon bakau. Akar-akarnya mulai kokoh mencengkaram tanah lumpur. Batang-batagnya yang dihiasi akar tunjang (akar yang muncul dari batang atas dan menghunjam ke dalam tanah) yang mampu menahan gelombang dan menambat lumpur.

Lelaki itu kini semakin tua. Sosok tua penanam bakau itu tak berhenti menanam. Dia lanjutkan usahanya. Dia memanen propagul, lalu terus menancapkannya di tanah kosong di tepian pantai. Dia tak peduli bahwa kini ikan, udang, kerang mulai bermunculan kembali di tepian pantai. Dari sela-sela hutan bakau yang telah pulih, harapan masyarakat mulai muncul kembali.

Sepuluh tahun waktu berlalu. Hutan bakau itu terlihat makin lebat. Beragam satwa seperti burung, monyet, ular dan satwa laut mulai menjadi tambahan penghuni pantai. Air asin tak lagi menembus sumur-sumur masyarakat. Sabuk hijau dipinggiran pantai terlihat sangat indah. Lelaki itu telah melukis alam dengan hijaunya hutan bakau dan mengikatkan sabuk hijau sebagai pelindung bencana masyarakat sekitar pantai.

Apa, bagaimana dan mengapa lukisan alam dan sabuk hijau itu bisa terjadi dipinggiran pantai. Pertama, seorang lelaki tua, dengan dua tangan dan dua kaki dan sedikit pendidikan. Kedua, satu persatu atau setahap demi setahap. Ketiga dimulai sejak sepuluh tahun lalu.

Lelaki tua itu telah ”mengubah” dunia. Dimulai dari biji demi biji. Dia memulainya lebih dari sepuluh tahun lalu, mungkin awalnya hanya ide, tapi dia terus melestarikannya. Dia punya visi dan mewujudkannya hari demi hari. Dia terus mengobarkan harapan dalam hatinya

Sahabat....kita butuh sosok seperti lelaki tua penanam bakau. Krisis diubahnya menjadi berkah. Dia mengubah tantangan menjadi peluang, kecemasan menjadi harapan dan celaan menjadi kekuatan. Dia mengubah dirinya dari sosok biasa menjadi pahlawan bagi lingkungannya. Dia tidak menunggu datangnya ”ratu adil” penyelamat pantai, namun dia merebut takdir kepahlawan itu.

Sahabat...pahlawan sudah ada di sekitar kita. Bahkan mereka mungkin adalah saya, kamu dan kita semua. Mereka bukan siapa-siapa. Mereka hanya perlu memulai dan berjanji untuk terus melestarikan harapan untuk merebut takdirnya, menjadi pahlawan.

Sahabat....kemerdekaan direbut oleh para pahlawan, bukan orang-orang biasa. Pahlawan, mereka yang memiliki visi dan mewujudkannya, sedikit demi sedikit, sampai terus melestarikan harapan-harapannya. Mereka membebaskan dirinya dari tipuan pujian, jebakan jabatan, buaian gelar dan candu penghargaan. Kita merindukan mereka untuk mengisi kemerdekaan kita dan bangkit dari krisis.

Pelajaran dari Wangi Gaharu

Pelajaran dari Wangi Gaharu
Oleh Achmad Siddik Thoha


Dalam perjalanan hidupnya pohon akan mengalami tantangan dan gangguan dari lingkungan luar tubuhnya. Jamur dan bakteri bisa menimbulkan penyakit pada pohon. Pohon juga akan terluka bila ada gangguan benda tajam atau bagian tubuhnya mengalami patah.

Saat pohon sakit atau terluka, ia mempunyai mekanisme sendiri untuk menyembuhkan dan menutup lukanya. Salah satu proses penyembuhan penyakit dan luka pada pohon bisa melalui keluarnya cairan atau getah dari tubuh tanaman. Getah yang keluar dari batang dan kemudian memadat sebagai respon untuk penyembuhan, pada sebagian pohon yang menghasilkan produk yang bernilai tinggi. Fenomena inilah yang dijumpai pada pohon yang menghasilkan gaharu.

Gaharu merupakan sejenis kayu dengan berbagai bentuk dan warna yang khas, serta memiliki kandungan kadar damar wangi yang berasal dari pohon atau bagian pohon penghasil gaharu yang tumbuh secara alami sebagai akibat dari suatu proses infeksi yang terjadi baik secara alami atau buatan pada suatu jenis pohon, yang pada umumnya terjadi pada pohon Aquilaria sp. (Nama daerah: Karas, Alim, Garu dan lain-lain). Umumnya semakin hitam/pekat warna gaharu, menunjukkan semakin tinggi proses infeksinya, dan semakin kuat aroma yang ditimbulkannya.

Di Indonesia, gaharu yang diperdagangkan secara nasional masih dalam bentuk bongkahan, chips ataupun serbuk gaharu. Masyarakat belum tertarik untuk mengolah gaharu secara lebih lanjut, misalnya dalam bentuk produk olahan seperti destilat gaharu, parfum, chopstick, dan lain-lain, yang tentunya akan lebih meningkatkan nilai jualnya.

Nilai jual yang tinggi dari gaharu ini mendorong masyarakat untuk memanfaatkannya. Pada awal tahun 2001, di Kalimantan Timur tepatnya di Pujangan (Kayan) harga gaharu dapat mencapai Rp. 600.000,- per kilogram . Pada tingkat eceran di kota-kota besar harga ini tentunya akan semakin tinggi pula. Kontribusi gaharu terhadap perolehan devisa juga menunjukkan grafik yang terus meningkat. Menurut Balai Pusat Statistik, rata-rata nilai ekspor gaharu dari Indonesia tahun 1990-1998 adalah sebesar US $ 2 juta, dan pada tahun 2000 meningkat menjadi US $ 2.2 juta.
Para peneliti menduga bahwa ada 3 elemen penyebab proses infeksi pada pohon penghasil gaharu, yaitu (1) infeksi karena fungi atau jamur, (2) perlukaan dan (3) proses non-phatology. Pada kasus 2 dan 3 muncul hipotesis yang menyatakan bahwa perlukaan pohon dapat mendorong munculnya proses penyembuhan yang menghasilkan gaharu.

Pelajaran menarik dari gaharu bahwa infeksi atau serangan penyakit yang menimpa pohon gaharu ternyata meningkatkan nilai pohon gaharu. Pohon gaharu merespon datangnya penyakit dengan menghasilkan getah damar yang wangi (gaharu) yang nilai dan harganya sangat tinggi. Makin intensif infeksi makin pekat gaharu yang dihasilkan oleh pohon gaharu. Penyakit dan luka pada tubuh gaharu tidak direspon dengan negatif namun justru positif sehingga penyakit memicu tingginya kualitas pada dirinya.

Gangguan dari lingkungan luar pada kita tidak hanya berupa penyakit atau luka secara fisik. Justru “penyakit” dan “luka” pada kehidupan manusia berupa kegagalan dalam karir, musibah, kecelakaan yang menimbulkan guncangan hidup atau cacat permanen, usaha yang bangkrut, riset yang tak menemukan hasil dan sebagainya. Kegagalan atau ujian tersebut perlu direspon positif sebagai pemicu bagi meningkatnya kualitas diri. Tidak sedikit kita temukan orang yang tatkala ujian hidup membuatnya “luka” dan terpuruk dalam kehidupan, ia kemudian merespon positif dengan segera bangkit dari keterpurukan, menyembuhkan “luka” tersebut dengan usaha yang maksimal dan kreatif. “Penyakit dan luka” tersebut justru menjadi pemicu untuk perbaikan diri dan akhirnya ia bisa mencapai prestasi tertinggi yang tak hanya mengharumkan nama dirinya namun juga mengharumkan lingkungan sekitarnya.

Terkadang untuk meningkatkan kualitas diri perlu ujian kegetiran berupa “penyakit” atau “luka” yang memaksa kita kemudian merespon dengan melakukan usaha yang maksimal, kreatif dan inovatif. Orang yang sukses tidak hanya diukur dari prestasi yang ia peroleh, namun bagaimana ia bisa merespon “luka” atau cobaan hidup dan kemudian bangkit, “menyembuhkan luka” dan menghasilkan karya yang membuat harum diri dan sekitarnya. Seperti gaharu, manusia yang terkena cobaan harusnya bisa bangkit, " menyembuhkan" diri dan mempersembahkan "wewangian" amal/karya dari dirinya yang bermanfaat luas.

Inspirasi dari Alang-alang dan Semak Belukar

Inspirasi dari Alang-alang dan Semak Belukar
Merubah Benci Menjadi Cinta*
Oleh Achmad Siddik Thoha

Apa yang kita rasakan ketika melihat alang dan semak belukar. Alang-alang dan semak belukar, kelompok tumbuhan yang tumbuh di tanah yang tidak terawat. Seringkali kita merasa tidak nyaman dan kurang tertarik melihatnya. Bentuk, warna dan dan anggapan sebagai pengganggu tanah dan tanaman lain membuat kita sulit menyukai mereka.  Bahkan ada yang membenci mereka dan kemudian dibakar untuk dimusnahkan.

Umumnya tanah yang tak terawat, bekas kegiatan pertanian yang ditinggalkan atau bekas hutan yang telah rusak menjadi tempat yang nyaman bagi alang-alang dan semak belukar. Mereka tumbuh untuk menutup tanah-tanah yang gundul.  Mereka melapisi tanah dengan tubuh mereka yang kecil dan pendek. Diantara mereka memiliki duri dan bulu yang gatal dan menusuk.

Alang-alang tumbuh cepat menutupi dan menguasai permukaan tanah.  Ia mempunyai akar rimpang yang nampak dan menjalar luas di bawah tanah. Ia sulit diberantas dan dapat menghambat tumbuhan lain yang hidup didekatnya. Ia sering dianggap gulma atau pengganggu tanaman lain dan harus diberantas

Semak belukar juga demikian.  Ia tumbuh cepat, menyebar luas dan mengusai permukaan tanah.  Akarnya kuat dan batangnya keras.  Beberapa jenis semak belukar  bahkan melapisi batang dan daunnya dengan bulu yang gatal dan duri yang menusuk.  Ia sangat menyulitkan petani dan pemilik lahan saat akan membersihakan lahan dan menanam.

Saat musim kemarau datang, alang-alang dan semak belukar sangat cepat mengering. Keringnya mereka membawa kondisi yang sangat tidak menguntungkan.  Keringnya mereka membuat kebakaran lahan menjadi mudah terjadi.  Saat mereka terbakar, pohon-pohon dan tanaman lain bisa ikut terkena jalaran apinya. Ketika mereka terbakar, sangat sulit untuk menghentikan amukan apinya.

Kita mempunyai alasan untuk membenci alang-alang dan semak belukar.  Kita tidak menyukai mereka karena “mengotori” pandangan.  Kita kurang nyaman melintas di areal dipenuhi oleh mereka karena daunnya yang berbulu dan berduri mmbuat kita tersakiti. Kita tidak senang melihat mereka karena sangat merepotkan membersihkannya saat akan menanam atau merapikan halaman. Saat mereka terbakar kita lebih tidak menyukai mereka karena pohon-pohon dan benda lain bisa ikut terkena jalaran apinya.

Namun alang-alang dan semak belukar adalah sosok yang juga dicintai oleh berbagai makhluk.  Mereka mampu melindungi tanah dari benturan butiran hujan hingga tanah tak tererosi.  Saat tetesan hujan begitu deras tercurah dari langit, mereka mampu menahan aliran air hujan hingga tidak cepat berlalu dan bisa meresap ke dalam tanah.  Bukit-bukit dengan selimut alang-alang dan semak belukar  masih mampu bertahan tidak runtuh dan longsor. Bunga dan buahnya disukai serangga dan burung. Dedaunannya sangat disenangi burung sebagai bahan membuat sarang.

Kini alang-alang dan semak belukar banyak diminati manusia karena mengandung khasiat obat.  Beberapa jenis dari mereka bahkan sangat menarik dibuat sebagai barang bernilai seni yang bernilai jual tinggi. Beberapa jenis dari mereka bahkan menjadi penghias acara-acara penting seperti pesta pernikahan, pameran produk ramah lingkungan dan sampel bagi promosi produk berkhasiat obat. Alang-alang dan semak belukar bahkan telah melahirkan banyak doktor dan profesor yang berkontribusi sangat penting bagi kehidupan manusia.

Benci dan cinta sering hadir silih berganti dalam hidup kita.  Sesuatu yang dulu kita benci sekarang justru sangat kita cintai. Dulu kita membenci teman kita yang selalu mengkritik dan menasehati, namun kini dia sangat kita sayangi karena telah menolong hidup kita dari kesesatan.  Dulu kita sempat tidak menyenangi kecerewetan orang tua, namun kini kita sukses akibat sifat tersebut.  Dulu kita sempat menyesali jalur pendidikan yang kita tekuni, namun kini karir kita melonjak akibat gelar yang kita raih dari jalur tersebut. Dulu  kita banyak membenci orang, kelompok, paham, pekerjaan dan sesuatu lain yang, justru kini mereka menjadi bagian yang sangat kita cintai saat ini.

Benci takkan selamanya menetap dalam hidup kita, seperti halnya cinta juga akan berubah menjadi benci.  Namun merubah benci menjadi cinta akan melahirkan kebaikan. Dan manfaat bagi diri kita dan orang lain.

Benci dapat berubah menjadi cinta seiring pengetahuan dan pemahaman yang kita miliki. Bila landasan perubahan benci menuju cinta adalah pengetahuan yang utuh maka itu sangat jelas dan kuat perubahannya. Pengetahuan yang mendalam dan berkualitas akan mengganti kebencian menjadi rasa cinta tanpa harus kehilangan muka, terhina dan bersalah. Cinta tanpa pengetahuan akan menyeret kita pada jalan yang menyesatkan dan membahayakan.  Orang yang mencintai sesuatu tanpa pengetahuan yang utuh akan terjebak pada mencintai yang keliru.

Seperti berubahnya kebencian manusia pada alang-alang dan semak belukar menjadi cinta. Seiring pengetahuan, maka sesuatu yang tidak menyenangkan pada alang-alang dan semak belukar menjadi hal yang menggembirakan dan membawa manfaat besar.

Maka seyogyanya menempatkan cinta dan benci pada kadar yang proporsional.  Cintailah seperlunya dan bencilah seperlunya, siapa tahu ia akan berbalik suatu saat nanti. Menyimpan harapan kebaikan dari sesuatu yang kita benci akan membuat kebencian tidak akan membuat kita terkungkung. Seperti ungkapan berikut ” cinta yan baik adalah cinta yang tidak menyandera, benci yang baik adalah benci yang tidak membinasakan”

*Naskah asli yang dimuat di Majalah KHALIFAH Edisi 23 Juni 2010
Achmad Siddik Thoha

Kisah Survival di Hutan II : Memilih Petunjuk yang Salah

Kisah Survival di Hutan II : Memilih Petunjuk yang Salah
Oleh Achmad Siddik Thoha


Kaki Muklis tersandung batu. Sandal jepit yang dipakainya copot talinya. Dia memutuskan untuk berhenti. Jempol kakinya terasa sakit.

”Hei...kalian duluan aja, nanti aku nyusul.” Perintah Muklis pada kawan-kawannya.

”Bener nih...kamu jangan sok, baru pertama kesini kan. Nanti nyasar. Udah bareng aja, kami tunggu.” Kata kawan Muklis memberi saran.

”Ah...gak apa-apa, jalannya sama kan dengan yang tadi? Udah duluan aja, biar cepat nyampe di penginapan.”

Sebagai ketua rombongan acara wisata ke Kawah Ratu Gunung Bunder Kabupaten Bogor, dia sangat percaya diri untuk bisa menyusul kawannya. Meski baru pertama kali dia menelusuri jalur ke kawah ratu, dia menganggap jalur ini tidaklah sulit. Sama saja, jalur pergi dan jalur pulang.

Sepuluh menit kemudian, Muklis mulai beranjak. Dia menapaki jalur pulang pendakian menuju penginapannya. Hari sudah menjelang sore. Malam hari rombongan mereka sudah harus tiba di Tangerang, rumahnya dan ruamh teman-temannya.

Ketika memasuki kawasan yang ditumbuhi pandan-pandanan dan bertanah becek, dia kebingungan. Langkah kaki sepertinya terhapus. Dia mencoba mencari jejak terbaru dari orang yang melintas. Jejak kaki yang dia jumpai justru mengarah ke sungai, padahal ada jalan lain yang lurus mengarah ke dalam hutan.

”Mana ya, jalannya, perasaan ke sana tadi.” Bisiknya ragu.

”Tapi ini kok gak ada jejak orang. Yang ada ke arah sungai. Sungai....oh iya kalau ikut sungai kan pasti ke bawah juga dan jumpa kampung.” Pikiran Muklis berkecamuk hebat. Dia harus mencoba mengatasi kebingungannya.

Akhirnya dia memutuskan menyusuri sungai. Lama dia berjalan menyusuri piggiran sungai, tak dijumpainya kampung. Sungai yang berkelok-kelok tak jua membwanya ke tempat yang diharapkan. Suasana justru semakin sepi dan hutan semakin lebat dan tak ada jalan setapak. Dia mulai panik. Sementara Matahari mulai mendekati ufuk.

Di tempat lain, di peginapan, kawan-kawan Muklis sudah bersiap-siap pulang. Mereka tinggal menunggu ketua rombongan yang belum juga muncul. Setengah jam berlalu, kawan-kawannya mulai resah. Mereka akhirnya membentuk tim pencari sendiri tanpa meminta bantuan pihak luar.

Empat jam kemudian, kawasan kawah ratu Gunung Bunder mulai ramai dengan tim Search and Rescue (SAR). Berita hilangnya Muklis, telah menyebar luas hingga ke pihak yang berwenang. Pencarian akan dimulai esok pagi. Berbagai elemen akan terlibat dalam pencarian Muklis, mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Tangerang, Banten.

Operasi pencarian Muklis tidak berlangsung mulus. Padahal tim SAR telah melibatkan komponen yang berpengalaman seperti Tim SAR Brimob, Wanadri, Pecinta Alam berpengalaman, di Jabodetabek dan Tentara Nasional Indonesia (TNI. Tak ada bekas di lapangan yang mengisyaratkan tanda-tanda korban.

Lima hari berlalu. Salah satu SRU (Search and Rescue Unit) melaporkan bahwa korban telah ditemukan. Semua berdecak kagum dan bahkan belum terlalu percaya. Bahkan pihak keluarga sudah menyangka Muklis sudah meninggal.

Saat dirawat di Rumah Sakit PMI Bogor, Muklis menceritakan bagaimana dia bertahan hidup di hutan.

”Saya terus bergerak menyusuri sungai, karena saya kira sungai pasti mengarah ke kampung terdekat. Paling tidak saya bisa bertemu dengan orang kampung yang mandi atau nyuci di sungai. Saya terlalu percaya diri bisa jalan sendiri kembali ke penginapan. Ternyata dugaan saya salah. Saya kehilangan jejak kawan-kawan. Saya tidak tahu sama sekali kondisi sungai itu. Sungai itu berbelok-belok dan membawa saya semakin jauh dari jalur pulang. Saya telah memakai petunjuk yang salah. Saya juga mengabaikan petunjuk yang benar. Beruntung saya masih bisa selamat. Alhamdulillah ya Allah”

Sambil meneteskan air mata Muklis melanjutkan ceritanya,
”Saya terus bergerak tiap hari. Saat malam tiba, saya mencari perlindungan dipinggir sungai. Saya menemukan gua kecil dipinggir sungai. Selama lima hari saya tersesat, saya makan dedaunan yang menurut saya bisa dimakan. Saya minum air sungai, meskipun tahu itu mengandung belerang. Saya menyadari kesalahan saya Tapi saya ingin hidup. Saya juga banyak berzikir, memohon ampun dan berdoa pada Allah. Dengan berdoa, saya merasa lebih kuat”

Muklis telah ditemukan dan terus menjalani perawatan. Dia telah mendapat banyak pelajaran dari peristiwa tersesatnya di Kawah Ratu. Dia menyadari, bahwa untuk selamat dia harus memakai petunjuk yang benar. Petunjuk yang salah hanya membawanya pada petaka.

Seorang yang tersesat lebih banyak disebabkan oleh mengabaikan petunjuk yang benar atau memakai petunjuk yang tidak jelas. Pada kondisi terparah, seorang yang tersesat sama sekali tidak memahami petunjuk yang ada atau bahkan tidak punya pengetahuan tentang petunjuk yang bisa dipakainya.

*Disarikan dari Pengalaman penulis menjadi Tim SAR pencarian Muklis Rambe di Kawasan Kawah ratu Gunung Bunder Kabupaten Bogor Tahun 2006

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates