Apa Kabar Sahabat POHON INSPIRASI

Blog Berbagi Cinta dan Inspirasi untuk Alam

Minggu, 26 Agustus 2012

Minggu, 26 Agustus 2012

Ways of Life from Kapuas River (Hikmah Kehidupan dari Sungai Kapuas)

Cas/perahu kecil di Sungai Kapuas Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah (dok. pribadi) 




Sore ini, untuk kesekian kalinya kuletakkan badanku di pinggir dermaga Pelabuhan Sungai Kapuas di Kuala Kapuas. Pelabuhan ini selalu memanggilku untuk mendatanginya. Semilir anginnya yang sejuk. Pemandangan awannya yang indah bak kapas bergulung. Juga suasana tenang alirandi salah satu sungai terbesar di Indonesia ini.

Sore ini, kupandangi riak air Sungai Kapuas dengan lebih lekat. Tampak riak tenang mengiringi soreku yang indah. Air beriak lambat cenderung tenang, setenang hatiku sore ini. Ya, lambat berarti tenang.

Perahu bermesin lalu-lalang melintas. Aku tidak terlalu tertarik melempar pandangan padanya. Aku lebih memilih memandang dalam ke perahu yang dikayuh seorang Bapak paruh baya. Ia mengayuh pelan namun mantap. Lambat memang tapi kulihat hatinya tenang. Ia yakin lambat tak berari lemah. Lambat berarti bersabar dan tenang.

Aku akhirnya melabuhkan pandangan pada perahu besar pengangkut barang.  Kapal tambun ini terus bergerak meski lajunya hanya kurang dari 20 km/jam. Ia harus menunaikan tugasnya mengantar barang ke tempat yang sangat membutuhkannya. Tak peduli ia harus bergerak lambat. Ia tak ambil pusing dengan perlombaan bergegas dari para pengendara kendaraan bermotor di daratan. Sungai telah menjadi jiwa bagi setiap perahu dan pengendalinya.
Kapal Penumpang dan Barang yang menjadi andalan transportasi air  di Kabupaten Kapuas (dok. pribadi)


Dengan makin berkembang pesatnya infrastruktur jalan dan jembatan, tak berarti mobilitas warga melalui Sungai Kapuas berhenti. Karakter masyarakat sungai sudah melekat sejak sungai ini terbentuk entah berapa ribu tahun lalu. Jalan boleh terus dibuat dan diperpanjang. Namun geliat sungai Kapuas tak pernah terhenti.

Aku begitu menyukai karakter masyarakat yang hidupnya sudah menyatu dengan sungai. Mereka setiap hari berjalan dengan kendaraan lambat. Lambat bukan berarti lemah. Lambat justru menjadi ciri masyarakat sungai menyesuaikan dengan ketenangan aliran sungai. Cepat justru akan memperkeruh suasana sungai yang tenang. Lambat bermakna ketenangan bagi budaya masyarakat yang hidup menyatu dengan sungai.

Bandingkan dengan budaya masyarakat yang kini tergantung dengan transporasi darat. Jalan sudah menjadi salah satu tempat tercerabutnya nyawa-nyawa manusia bahkan hewan. Orang di jalanan tak mau berjalan lambat. Semua ingin cepat dan tak ingin dihambat. Ketenangan pun menjadi fenomena langka. Lambat justru dianggap menghambat. Akhirnya banyak umpat-mengumpat di jalanan.

Lambat di sungai tak membuat orang merasa terhambat apalagi mengumpat. Masyarakat sungai sangat paham bahwa mereka takkan bisa berjalan cepat karena memang karakter sungai yang mengharuskan mereka lebih cocok untuk bergerak lambat. Mereka tetap tenang karena pada saatnya mereka juga akan sampai.

Lambat juga berarti kehati-hatian. Jarang ditemukan kasus kecelakaan antar perahu di Sungai Kapuas. Tentu saja kecelakaan sangat sulit ditemukan karena setiap perahu berjalan dengan lambat dan mudah mengantisipasi kejadian yang merugikan.

Lambat juga berarti terkontrol. Sangat sulit bergerak sangat cepat diatas permukaan air. Perahu yang bergerak sangat cepat di permukaan air lebih sulit mengendalikannya daripada di darat. Bila ada perahu yang bergerak sangat cepat, maka riak sungai akan menjelma menjadi gelombang dan ini merugikan perahu yang lain. Perahu yang terhempas gelombang akan sedikit teromban-ambing. Sebaliknya bila perahu melintas lambat, perahu yang berpapasan tidak merasakan riak tinggi yang menghempasnya sehingga tetap dalam kendalil.

Dan lambat juga adalah kesempatan mengambil banyak hikmat. Hikmat berupa renungan akan keindahan alam di sekitar sungai. Bergerak lambat diatas sungai akan benyak waktu menikmati nikmat Tuhan di sepanjang sungai. Nikmat berupa alam yang indah, hidup yang damai dan aliran air yang tenang.

Kota Air ini mengajarkanku untuk senantiasa tenang. Air yang lambat membuat semua terlihat tenang. Perahu yang lambat merambat tanda kesabaran tertambat dan jauh dari umpat-mengumpat seperti kebanyakan warga di tempat lain. Terima kasih,Allah, telah menciptakan Kapuas yang penuh hikmat.

Lestari sungai Kapuas!

Salam lestari!

*catatan ringan penelitian
Kapuas, 9 Juli 2012

Kearifan Lokal Masyarakat Kalimantan dalam Memprediksi Musim Kemarau

“Bila kami terlambat membakar lahan, maka kami tidak bisa menanam padi sepanjang tahun”

Kalimantan selain sebagai pulau yang kaya akan sumberdaya alam juga kaya dengan pengetahuan lokal. Pengetahuan lokal yang berasal dari suku-suku asli yang berdiam di Kalimantan sampai saat ini terus dipertahankan. Pengetahuan lokal atau local knowledge dalam mengelola sumberdaya alam dan berinterkasi dengan alam dilakukan secara arif dan ramah lingkungan. Sebagian pakar sosial menyebutnya dengan kearifan lokal (local indigenous)

Salah satu bentuk kearifan lokal suku-suku di Kalimantan adalah bagaimana mereka memprediksi datangnya musim kemarau. Musim kemarau sangat ditunggu kehadirannya bagi suku asli karena akan menentukan kapan mereka bisa membuka lahan untuk kegiatan pertanian. Bagi masyarakat tradisional, model pertanian yang dipraktekkan adalah sistem perladangan yang mengandalkan curah hujan untuk kebutuhan air bagi tanaman. Jenis tanaman perladangan yang ditanam umumnya adalah padi ladang atau padi tadah hujan. Padi ini merupakan padi jenis lokal yang bisa dipanen secepatnya 6 bulan dan selambatnya 9 bulan dalam setiap musim tanam..

Dalam perladangan, prediksi yang tepat akan datangnya musim kemarau akan mempengaruhi kualitas pertumbuhan tanaman pertanian. Bila petani ladang terlambat mengetahui musim kemarau, maka ladang yang dibuka dengan sistem tebas bakar (slash and burning) akan mengalami kegagalan. Seperti yang diungkapkan warga Kapuas Kalimantan Tengan (Kalteng) kepada saya dalam sebuah wawancara,

“Bila kami terlambat membakar lahan, maka kami tidak bisa menanam padi sepanjang tahun”

“Mengapa bisa tidak menanam?” tanya saya kembali

“Bila terlambat membakar sedangkan musim kemarau sudah lewat, maka hasilnya tidak bagus dan nanti yang tumbuh justru rumput. Padi kami akan kalah bersaing tumbuhnya dengan rumput” jawab warga lokal tersebut.

Lahan yang akan ditanami padi ladang haruslah bersih dan ini membutuhkan kondisi musim kemarau yang tepat. Hasil pembakaran yang dilakukan di musim kemarau akan menghasilkan pembakaran sempurna. Pembakaran yang sempurna tidak menyisakan tumbuhan bawah yang tumbuh di ladang sehingga ladang dengan mudah ditabur benih. Benih yang tumbuh di lahan yang bersih dari tumbuhan lain akan tumbuh dengan kualitas terbaik. Disamping itu, abu hasil pembakaran limbah penebasan dan penebangan, akan menambah nutrisi tanah sehingga kesuburannya meningkat.

Beberapa kearifan lokal Kalimantan tentang bagaimana masyarakat memprediksi datangnya musim kemarau adalah sebagai berikut :

1. Beje (Kolam Perangkap Ikan) Sudah surut

Beje (kolam tradisiional)  yang sudah jadi
Di beberapa lokasi di Kalimantan, warga lokal memiliki cara menangkap ikan secara tradisional yang dinamakan Beje. Beje adalah sebuah kolam yang airnya berasal dari sungai. Ukuran Beje bervariasi dari seluas 10 m2 hingga 1000 m2 atau lebih. Pada saat musim hujan, air sungai meluap dan memenuhi lubang atau kolam Beje. Ikan-ikan dari sungai pun turut masuk ke Beje bersama aliran air. Ketika air sungai surut sehinngga tidak ada supplai air ke Beje. Beje pun ikut surut sehingga ikan terperangkap di Beje tidak bisa kembali ke Sungai. Dengan mudah para pemilik Beje menangkapi ikan yang terjebak. Pada musim orang menangkap atau memanen ikan dari Beje itulah saat kemarau tiba.

2. Ikan banyak turun ke muara sungai.
Ketika musim hujan, air di hulu dan hilir sungai tersedia melimpah. Sebaliknya ketika hujan mulai berkurang aliran sungai di hulu sungai mulai surut. Itulah saatnya ikan-ikan mencari tempat untuk bisa tetap bertahan hidup. Maka, bila saat kemarau tiba, ikan-ikan bergerak ke muara karena di sungai muara masih cukup air.

3. Ikan Sepat Layang Menggumpal di Udara.
 Fenomena ini tidak banyak diperhatikan banyak orang. Saya pun penasaran untuk melihatnya langsung. Fenomena banyaknya Ikan Sepat Layang menggumpal di udara ketika musim kemarau tiba diungkapkan oleh Pak Nau Don Yusias, salah satu pemuka Adat Suku Dayak yang menjadi Wakil Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Propinsi Kalimantan Tengah. Pernyataan dari Pak Don ini saya percayai dan saya yakini sebagai fenomena alam yang logis, karena ikan Sepat layang akan mencari tempat yang banyak airnya untuk melanjutkan hidupnya.

Ikan Sepat layang

4. Rontoknya daun-daun pepohonan.
Ini sebuah fenomena umun yang mudah dikenali banyak orang namun seringkali luput dari perhatian. Tidak begitu halnya dengan petani. Mereka begitu memperhatikan fenomena alam karena alam memberi sinyal apa adanya. Ketika banyak pepohonan merontokkan tanamannya maka musim kemarau sudah tiba. Pohon-pohon karet dan Pohon Pantung bahkan hanya menyisakan cabang dan rantingnya saja di musim kemarau.

Pohon Pantung atau Jelutung

Masyarakat tradisional meyakini bahwa prediksi mereka sangat tepat dan tak pernah meleset. Ketika saya konfirmasi pada salah satu Kepala Desa di Kecamatan Mantangai Kapuas tentang akurasi prediksi cuaca masyarakat lokal dibandingkan dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, dia menjawab,

“Prediksi hampir sama, Pak. Tapi saya lebih meyakini prediksi cuaca dari pengetahuan lokal, karena sudah terbukti tak pernah meleset.

Dari berbagai prediksi cuaca berdasarkan kearifan lokal masyarakat tradisional Kalimantan maka musim kemarau secara periodik terjadi mulai bulan Juli dan puncaknya Bulan September setiap tahun. Mulai bulan Oktober hujan mulai turun dan masyarakat petani mulai menanam benih dan bibit-bibitnya.

Meski tidak ada data parameter cuaca dan iklim dari masyarakat tradisional tentang prediksi musim kemarau, namun fenomena alam tak pernah bohong. Alam menampilkan gejala-gejala cuaca apa adanya. Hanya manusia yang sangat dekat interaksi dengan alamlah yang tahu persis gejala alam ini.

Manusia yang dekat dengan alam tak ingin membohongi informasi karena dia sudah diberi banyak karunia dan menjadi penerus ilmu yang diberikan Tuhan. Adapun sebagian manusia ditemukan memanipulasi data dan informasi karena merasa ilmu yang dimilikinya berasal dari kemapuannya sendiri.

Kearifan masyarakat tradisioan Kalimantan mengajarkan pada saya dan mungkin kita akan pentingnya selalu dekat dengan alam untuk bisa dengan arif mengelola sumberdaya alam. Alam adalah amanah yang telah dipecayakan Tuhan pada kita untuk dikelola dengan arif dan bijaksana. Bila alam sudah dikelola dengan arif, maka kerusakan bumi akan bisa dikurangi.

Salam arif lingkungan!

Sumber Gambar


Jumat, 08 Juni 2012

Jumat, 08 Juni 2012

HNW Cagub Peduli Pelestarian Lingkungan

Berbagai jurus kampanye dilakukan oleh para calon gubernur (cagub) dan calon gubernur (cawagub) menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) Daerah Istimewa Ibukota Jakarta (DKI) Jakarta. Tema ekonomi, sosial, budaya, pemerintahan hingga lingkungan hidup dijadikan bahan kampanye untuk menarik dukungan sebanyak mungkin. Tema yang seringkali kurang menarik disimak oleh khalayak adalah tema lingkungan.




Salak Condet, Salah satu ikon Jakarta yang ingin dilestarikan Hidayat-Didik

(Sumber gambar )

Sebagian besar calon memang memiliki visi pelestarian lingkungan. Terkait Ruang Terbuka Hijau misalnya, hampir semua pasangan calon mengajukan peningkatan luas RTH hingga mencapai minimal 30%. Terkait banjir, semua pasangan berbicara tentang pentingnya penghijauan khususnya di Hulu dan bantaran sungai.

Semua visi dan misi lingkungan disampaikan ke media tidak cukup detil dan aplikatif, kecuali pasangan Hidayat-Didik. Pasangan nomor urut 4 dalam Pilkada DKI ini member konsep strategis dan praktis. Terkait penanggulangan banjir, Hidayat-Didik membahas lengkap dari persoalan ekosistem, teknis drainase, penataan ruang hingga konservasi. Berikut paparan pasangan Hidayat-Didik terkait solusi permasalahn banjir Jakarta.
(Ulasan Kampanye Lingkungan Calon lain bisa dibaca disini)


1. Bekerja sama secara efektif dengan Pemprov Depok dan Pemkot Bogor. Misalnya Bogor, bisa jadi dengan membebaskan tanah di sana untuk dijadikan resapan atau penampungan air agar air tidak masuk ke Jakarta tapi dibelokkan ke resapan yang dibuat di Bogor.
2. Membuat situ baru sebagai resapan air di Jakarta. Situ tersebut dapat
menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat.
3. Melakukan pengerukan sungai seperti Sungai Pesanggrahan dan Kali Angke.
4. Membenahi warga bantaran sungai yang menjadi korban banjir, misalnya diajak dialog dengan pemprov, bukan penggusuran. Karena penggurusan bukan solusi bagi warga bantaran.
5. Menerapkan sistem banjir kanal barat dan timur, penataan daerah aliran sungai (DAS) dan waterfront city.
6. Me-manage (mengatur) air agar run off (aliran permukaan) tidak hilang.
7. Membangun sistem reservoir (penampungan air) bawah tanah.

Selain itu, Hidayat-Didik juga memberikan perhatian pada pelestarian buah-buahan yang zaman dulu menjadi cirri khas beberapa daerah di Jakarta. Anda tentu sangat familiar dengan Kawasan Condet, Duren Sawit, Mangga Besar, atinegara, Jatiwaringin, Jatipetamburan, Jatipadang, Kampung Rambutan, Kebu Jeruk.. Nama-nama tersebut terkait erat dengan produk buah yang dihasilkan oleh daerah tersebut zaman dulu.

Inilah yang menarik perhatian salah satu calon gubernur (cagub) DKI Hidayat Nur Wahid dan Didik J. Rachbini menjadi salah satu konten kampanyenya. Pasangan Cagub DKI ini banyak menyampaikan ide dan aktifitas ke media dan masyarakat untuk mengembalikan ikon Kota Tua Jakarta yang lekat dengan pepohonan.




Buah Gandaria, Salah Satu Buah Kebanggan Warga Jakarta (Sumber Gambar)

Calon Gubernur DKI Hidayat Nur Wahid berencana menanam pohon mangga di kawasan Mangga Dua. Tidak cuma itu, dia juga akan menanam pohon rambutan di Kampung Rambutan, duren di Duren Sawit, dan tanaman buah lainnya di kawasan Jakarta yang menggunakan nama pepohonan. "Saya akan perbanyak pohon sesuai nama daerah," kata Hidayat ketika ditemui Tempo di kantornya, Selasa, 10 April 2012. (Baca Tempo.co : Hidayat Kritik Cara Tanam Pohon Pemda )

Pasangan Hidayat-Didik akan memperbanyak ruang terbuka dan menanam tanaman buah, karena beberapa nama kawasan di Jakarta juga diidentikkan dengan nama buah.

"Ada Kampung Rambutan, Mangga Dua, Kelapa Sawit, Kebon Jeruk, Kebon Nanas dan lain lain. Di tempat-tempat itu rencananya akan ditanami dengan tanaman khas daerah itu, seperti di Kampung Rambutan yang akan diperbanyak dengan tanaman buah rambutan, sesuai dengan namanya," terangnya.

Di kawasan Monas Hidayat juga berencana menanami tanaman berbuah, jadi tidak hanya tanaman biasa yang terkesan menghijaukan. "Sehingga Jakarta dengan tanaman buahnya akan terlihat semakin hidup," Demikian pernyataan Hidayat Nur Tak tanggung-tanggung pasangan Hidayat-Didik menempatkan motif pohon buah-buahan di salah satu ikon kampanye mereka yaitu Batik Beresin Jakarta (Baca okezone.com : HNW Prioritaskan Pemugaran Kota Tua danBikin Batik Betawi.)

Kita berharap Jakarta yang dulu kembali seperti namanya. Kampung Rambutan semarak dengan pohon rambutan. Di Condet banyak salak, duku dan melinjo. DI Duren Sawit berlimpah pohon durian. Di Gandaria yak dijumpai anak-anak asyik memanjat pohon Gandaria. Di Kebun Jeruk, nikmat sekali bisa mencicipi buah jeruk yang manis. Di Mangga Dua, banyak orang yang menikmati manisnya buah mangga.

Kembalikan kejayaan Jakarta seperti dulu. Kota Penuh Pohon, Hijau dan Berbuah!
Hidayat-Didik Insya Allah bisa mewujudkannya.

Senin, 02 April 2012

Senin, 02 April 2012

Mandi Hujan Itu Menyenangkan dan Bermanfaat, Loh!



“Horee hujaaaan” teriak anak-anak saya.

Mereka serentak masuk ke dapur. Bukan menghindar hujan, tapi bersiap-siap bermain-main dengan hujan alias mandi hujan. Anak saya yang paling kecil, Aisyah, 3 tahun, bersama teman sebayanya, Naila, tanpa peralatan apapun langsung menembus hujan dengan riangnya. Aisyah dan Naila melompat-lompat, dan menari menikmati guyuran air hujan.

Beda Aisyah beda pula kakaknya. Nuha, anak pertama saya, hanya berani berhujan ria dengan payung, tapi ia tetap menikmati hujan deras dengan senang. Sementara Muthi dan Faruq, anak kedua dan ketiga saya, merasa nyaman diguyur hujan dengan memakai mantel hujan. Mereka berlima larut dalam guyuran hujan, berbecek ria, ciprat-cipratan, berlari-larian dan berlompat-lompatan. Hujan adalah ‘sahabat’ bermain yang sangat menyenangkan bagi mereka.

Hujan sudah mereda. Anak-anak saya masuk rumah dan segera mandi. Setelah mandi dan ganti baju, mereka kembali “ngacir” keluar untuk bermain-main. Anak-anak memang “tak ada matinya” kalau sudah urusan bermain-main.

Di Bogor, hujan bukan menjadi sesuatu yang asing. Hampir setiap hari turun hujan. Hujan deras tak lagi menjadi penghalang masyarakat untuk beraktifitas. Tapi tidak banyak orang gembira dengan turunnya hujan. Ada sebagian orang yang mengeluh, membatalkan acara dan bahkan menyalahkan hujan. Tidak begitu dengan anak-anak saya. Mereka justru sangat gembira ketika hujan. Mandi hujan adalah wujud kegembiraan mereka menyambut hujan.
Saya merasa senang sore ini setelah menyaksikan anak-anak bermain hujan. Kebiasaan bermain saya waktu kecil akhirnya bisa saya “turunkan” pada anak-anak saya. Saya tidak terlalu khawatir dengan ancaman tercenarnya air hujan, petir dan sakit setelah mandi hujan. Ketika saya menginzinkan mereka tentu ancaman tersebut sudah saya pertimbangkan. Rumah saya di perkampungan yang tidak banyak lalu lalang kendaraan dan banyak pohon. Faktanya, berkali-kali anak saya mandi hujan, Alhamdulillah mereka tidak sakit.

Saya mencoba menarik hikmah dengan suasana mandi hujan anak-anak saya. Apa hikmah mandi hujan sore ini bagi saya, anak-anak saya atau buat kita?
  1. Anak-anak tak pernah mengeluhkan cuaca yang buat sebagian orang tua menjadi penghambat dan masalah. Mereka menjadikan hujan sebagai “sahabat” yang menyenangkan untuk bermain. Turun hujan adalah saat mereka bersyukur karena belum tentu akan dating kesempatan main hujan kembali.

  2. Dengan mandi hujan, anak-anak berusaha melakukan adaptasi terhadap lingkungan bukan menghindarinya. Bagi anak-anak yang sering mandi hujan, tubuhnya akan terbiasa dan mereka memiliki daya tahan yang lebih dalam menghadapi lingkungan khususnya cuaca.

  3. Anak-anak menjadi lebih kreatif dan aktif ketika senang dengan hujan. Saat mandi hujan, mereka bisa berekpresi bebas, melompat, berbecek ria, menari, berteriak dan berlari meluapkan kebebasan. Mereka bisa melupakan sejenak aktifitas permainan yang membuat tubuh malas bergerak seperti menonton atau main game.

  4. Setelah mandi hujan, mereka terbiasa untuk segera mandi. Ini berguna agar anak-anak bisa memahami makna keseimbangan antara bermain dan kewajiban menjaga diri agar tetap sehat.
Saya mendapat pelajaran berharga dari peristiwa mandi sore anak-anak saya. Saya harus bisa menikmati sesuatu yang diberikan-Nya dengan syukur, beradaptasi dan menjadikannya sebagai “sahabat” dalam hidup. Anak-anak saya juga memberi pesan pada saya untuk tidak banyak mengeluh pada tantangan, bersikap seimbang dan mengambil manfaat dari setiap peristiwa.

Terima kasih anak-anak!

Minggu, 01 April 2012

Minggu, 01 April 2012

Membuat Kompos Sendiri di Rumah


Keranjang Takakura adalah keranjang pembuat kompos (komposter) yang sangat ringkas dan praktis.  Sesuai dengan namanya keranjang ini merupakan buah pemikiran pak Koji Takakura dari Jepang.

Sebetulnya kit keranjang Takakura ini pernah saya beli di kantor RW lingkungan saya, sudah satu set: keranjang dengan tutupnya dan kain penutup, dua buah bantal sekam, satu sekop tangan, sekam dengan bio starternya.  Sesudah dipakai beberapa kali bantal sekam kelihatannya membusuk dan ada binatang-binatang (!) didalamnya jadi saya memutuskan untuk meremajakan keranjang ini.
Yang akan kita buat sekarang ini adalah keranjang Takakura versi yang sangat mudah.

Barang-barang yang musti disiapkan:

1. Keranjang laundry dengan tutupnya 1 buah.  Harganya kurang lebih Rp 80.000



2. Kantung jaring untuk penutup nasi (bisa dibeli di tukang kelontong di pasar tradisional) 2 buah @Rp 5.000

3. Sekam 4 kantung (beli di tukang tanaman) Rp 10.000
4. Kardus aqua (gratis atau beli kardus bekas Rp 1.500 di warung).
5. Benang dan jarum untuk menjahit bantal sekam.
6. Kain penutup keranjang (buat sendiri yah..)


Cara membuatnya:
1. Kardus aqua diplester tegak ke empat sisi bawahnya, sedangkan sisi atasnya dipotong sedikit supaya tingginya pas dengan keranjangnya.



2. Kantung jaring diisi dengan sekam lalu dijahit sisi atasnya supaya sekamnya tidak keluar.  Jahit dengan gaya bebas semampunya anda OK??  Bentuk akhir mirip bantal sekam, lebih padat lebih bagus.  Buat dua buah.

3. Kardus aqua ddimasukkan kedalam keranjang.  Tekan-tekan supaya masuk dan pas sehingga keranjang bisa ditutup.  Masukkan satu buah bantal sekam didasar keranjang.  Ini gunanya supaya cairan sampah dan kompos tidak merembes.
4. Tuang sekam 1 kantung kedalam keranjang.  Masukkan tanah satu sekop tangan dari halaman anda sebagai bio starter.  Tutup dengan bantal sekam yang satu lagi.
5. Simpan satu kantung sekam dalam wadah dan simpan dekat keranjang ini.  Sekam ini untuk menutup sampah yang baru anda masukkan kedalam keranjang.  Sekam ini juga ditambahkan kalau isi keranjang terlalu basah.
6. Keranjang takakura anda sudah siap untuk menerima sampah organik!!



Tips:
  1. Keranjang ini cocok untuk keluarga kecil atau anak kost/single.  Keranjang malahan bisa disimpan dalam kamar kost, walaupun saya tidak sarankan karena kadang keranjang didatangi semut-semut.  Simpan keranjang di tempat teduh.  Jangan lupa menyapu area bawah keranjang secara berkala supaya tidak banyak semut atau ceceran sekam disekitarnya.
  2. Sampah yang dimasukkan keranjang sebaiknya berupa daun-daunan/sayuran/buah.  Tidak disarankan membuang sisa-sisa protein/tulang/ayam/ikan/daging walaupun beberapa orang mencoba membuangnya di keranjang takakura dengan hasil yang bagus.   Keranjang yang berfungsi baik pembusukan berjalan cepat, tidak berbau, suhunya hangat.  Malahan pada pagi hari kalau keranjang dibuka terlihat keluar uap hangat.    Iris-iris sampah supaya penguraiannya cepat.
  3. Buang sampah organik dapur dibaskom saringan dalam bak cuci piring.  Biarkan sampah terguyur air cucian piring.  Tutup dengan penutup.  Gunanya supaya sampah sayuran tercuci dan telur-telur lalat tercuci untuk mencegah tumbuh belatung di keranjang takakura.
  4. Kalau sampah di baskom saringan sudah penuh baru masukkan ke dalam keranjang takakura.  Tutupi lagi dengan sekam baru beberapa sekop.  Ini membuat pembuangan sampah lebih praktis (misalnya 2 kali sehari).  Prinsip dalam membuat kompos adalah ‘bom organik’ yaitu membuang sampah dalam jumlah besar setiap kalinya, daripada membuang sampah sedikit-sedikit ke dalam keranjang.  Setelah itu guyur sampah dengan air sedikit saja supaya pembusukan terjadi.  Lebih bagus kalau airnya cucian beras atau air manis/gula.
  5. Perhatikan perbandingan sekam/tanah dengan sampah, harus seimbang.  Kalau isi keranjang mulai penuh atau berair masukkan sekam dan tanah yang baru.  Lama kelamaan anda akan bisa mengira-ngira supaya pengomposan terus terjadi.
  6. Kalau proses pengomposan terjadi dengan baik, sisi luar keranjang akan terasa hangat kalau disentuh.  Karena proses pengomposan ini ‘aerob’ atau membutuhkan oksigen, isi keranjang sebaiknya diaduk-aduk dengan sekop tangan setiap hari.
  7. Kalau keranjang sudah penuh (cukup lama, bisa 3-4 bulan tergantung volume sampah anda) biarkan saja keranjang ini dan gunakan keranjang lain untuk membuang sampah anda (jadi buat dua keranjang takakura).   Kompos didalam keranjang pertama lama kelamaan akan mengering dan terperam.  Kalau sudah kering isi keranjang ini bisa dihamparkan disekitar pohon buah anda atau untuk tanaman hias setelah terlebih dahulu dicacah (saya tidak melakukannya, tapi langsung disebar).
  8. Cara lain isi keranjang yang sudah penuh dituang keatas karung plastik.  Sampah yang belum terurai dimasukkan lagi kedalam keranjang.   Sampah yang sudah terurai (kompos) diangin-anginkan diatas karung plastik di tempat teduh sampai mengering (jangan dijemur) kurang lebih seminggu.  Kalau sudah kering bisa disebar di kebun anda.


Selamat mencoba!!

Penulis : Ibu Mita, Penggiat Penghijaun Kota, tinggal di Jakarta.

Rabu, 21 Maret 2012

Rabu, 21 Maret 2012

Refleksi Hari Air Sedunia 2012 : Langka Dulu, Baru Sadar?

Ilustrasi  dokumen Kompasiana.com
“Saya mandi hanya bisa dua menit. ‘Shower’ sudah diatur hanya mengucur selama dua menit. Lewat dari itu ‘shower’ berhenti secara otomatis. Saat mandi, saya berdiri di dalam ember supaya air tidak tumpah dan terbuang percuma. Air bekas saya mandi bisa saya pakai untuk keperluan lain.”

Mark memperagakan gaya mandi cepat dua menit. Mark adalah salah satu Trainer Pria asal Australia yang mengisi Pelatihan Pendidikan Konservasi bagi Guru-Guru Sekolah di Kawasan Sekitar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Mark Seolah ingin ‘menyindir’ peserta karena Pelatihan dilaksanakan disebuah penginapan yang diapit oleh sungai besar yaitu Sungai Buluh dan Sungai Batang Serangan dimana orang bebas memakai air tanpa syarat.

Mark melanjutkan kisahnya,
“Di Australia, mobil kotor adalah hal yang biasa. Kami sangat jarang membersihkan mobil dengan air bersih. Tempat cuci mobil diatur airnya agar dapat didaur ulang dan dapat dipakai lagi. Jadi kalau mobil kita sering kelihatan bersih, kita malah dianggap pemboros air.”


Mencuci Mobil membutuhkan air yang banyak (Google Images)
Kembali peserta pelatihan tertawa. Mereka sungguh hampir tak percaya bahwa memakai air untuk mencuci mobil atau kendaraan dianggap pemborosan di Australia. Di lingkungan mereka, daerah Tangkahan, masyarakat dengan mudah memakai air tanpa batas untuk segala keperluan termasuk membuang sampah rumah tangga dan limbah industri kecil. Jangankan mobil, Bus-pun bisa“dimandikan” di pinggir sungai sepuas-puasnya tanpa membayar dan khawatir kekurangan air.

Semua peserta pelatihan manggut-manggut. Saya tidak paham betul, manggut-manggut tanda paham, bingung atau malah merasa aneh.

***

Pengalaman Mark dan Lian menyadarkan saya tentang begitu berharganya air. Di negara yang sangat kurang sumberdya airnya, masyarakatnya memiliki kesadaran yang tinggi untuk menggunakan air dengan bijaksana. Sampai-sampai mereka membatasi air untuk mandi, padahal mandi adalah kebutuhan dasar manusia sehat.

Gaya hidup bisa berubah karena air. Misalnya di Australia, mandi menjadi terbatas dan air bekas mandi pun sangat berharga. Orang Australia juga tidak risih membiarkan mobilnya kotor karena jarang dicuci. Mereka justru menganggap tidak pantas mencuci mobilnya setiap hari dengan air sementara air sangat dibatasi penggunaannya.

Bagaimana di negera kita? Air begitu bebas dipakai. Sebagian besar orang tidak perlu menghemat air untuk mandi karena air begitu melimpah. Jas pencucian motor dan mobil hampir tak pernah sepi, apalagi di musim hujan. Di rumah-rumah mewah juga kita sering saksikan sopir pribadi setiap pagi mencuci mobil dari air kran. Sungguh berbeda dengan gaya hidup orang Australia yang demikian cermat dan hemat dalam memakai air.

Sumberdaya yang berlimpah seringkali melenakan kita untuk membiarkannya tak terkelola dengan baik. Iaakan disadari kalau keadaannya mulai berkurang, rusak atau terancam hilang. Saat ini kelangkaan air bersih mulai terasa. Untuk dapat menikmati air layak minum kita harus merogoh kantong membeli air minum dalam kemasan. Untuk dapat belajar berenang kita perlu menyisihkan waktu dan uang ke kolam renang. Untuk sekedar menikmati sejuk dan jernihnya air kita perlu berlelah-lelah menuju tempat wisata yang jauh.

Air tidak hanya mengubah gaya hidup, namun bisa mengubah hidup kita secara keseluruhan. Air kotor dan sanitasi buruk menjadi penyebab mewabahnya penyakit Diare, Disentri, Thypoid dan penyakit akibat parasit. Di Afrika Tengah 80% penyakit yang timbul disebabkan oleh kondisi sanitasi buruk dan air kotor. Usia harapan hidup di negara tersebut sekitar 39 tahun. Sekitar 85% masyarakatnya hidup tanpa air bersih. Mereka terpaksa memanfaatkan air tadah hujan yang kotor dan tidak sehat untuk kebutuhan mereka. Bahkan untuk mendapatkan air seperti itu, ibu-ibu dan anak-anak harus menempuh perjalanan berjam-jam.

Di sebagian daerah di Indonesia juga kita temukan kondisi yang hampir serupa. Masyarakat terpaksa menjadikan sungai yang kotor dan tidak sehat untuk Mandi Cuci kakus (MCK). Mereka tak punya pilihan karena sulitnya akses terhadap air bersih. Air tanah semakin sulit karena berada di bawah permukaan tanah yang sangat dalam. Sumber mata air mengering karena rusaknya hutan sebagai areal tangkapan air dan biaya pembuatan sumur yang sangat mahal. Ketika hujan, air lolos begitu saja tanpa bisa “ditangkap” dan dimanfaatkan.


Air Minum Dalam Kemasan jadi kebutuhan dasar untuk minum masyarakat kota (Google Image)
Jangan menunggu air langka untuk kemudian kita sadar dan berubah. Selagi air masih melimpah kita perlu mengelolanya dengan bijak dan produktif. Memang tak harus kita merubah cara mandi kita dan cara mencuci kendaraan kita. Cukup, jagalah sumber air dengan mempertahankan permukaan tanah yang penuh dengan vegetasi agar air terserap dengan baik ke dalam tanah. Pakailah air dengan hemat agar persediaan air bersih cukup untuk orang lain. Jagalah air jangan tercemar dengan tidak membuang sampah di badan air. Lalu berilah air jalan ke tempat yang seharusnya dengan merawat saluran air dan membuat resapan air di lingkungan kita.

Memperingati Hari Air Sedunia 2012, yang setiap tahunnya diperingati tanggal 22 Maret, yuk kita dukung kampanye “Water and Food Security”, pengelolaan air yang bijak untuk menyelamatkan pangan dunia. Tindakan kecil yang bijak dalam memakai air akan ikut menyelamatkan saudara kita yang lain dari kekurangan air dan pangan.

Salam bijak memakai air!

Sumber : http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2012/03/20/refleksi-hari-air-sedunia-2012-2-langka-dulu-baru-sadar/

Jumat, 16 Maret 2012

Jumat, 16 Maret 2012

Belajar Kehidupan dari Benih

Benih dari Berbagai Jenis Pohon (dok. Dr. Irdika Mansur - Fahutan IPB)
Benih atau biji dari tumbuh-tumbuhan yang sepertinya sebuah benda mati karena tidak dapat berpindah tempat sendiri. Ternyata benih merupakan meruakan mahluk hidup yang mengemban tanggungjawab besar dalam kehidupan spesiesnya. Benih adalah simbol kehidupan dan eksistensi sebuah spesies. Meski harus menemuh jalan panjang benih tetap harus melanjutkan hidup dan pertumbuhannya agar spesiesnya tetap eksis dan berkembang di muka bumi.

Tuhan telah melengkapi benih dengan berbagai perangkat agar fungsinya sebagai penebar kebaikan di alam semesta ini bisa berlangsung. Berikut perlengakapan yang diberikan Tuhan pada Benih :


  1. Benih memiliki “bungkus” berserat supaya mengambang terbawa arus air dan terdampar jauh dari induknya. Pada saat itu sedang mengemban tugas untuk menyebarkan spesies dan manfaat yang terkandung padanya.
  2. Benih dikaruniai “baju” yang tebal dan keras supaya bisa tetap “beristirahat seperti mati suri”. Ini untuk melindungi dari udara terlanpau dingin untuk tumbuh. Bila dipaksa tumbuh pada suhu yang tidak sesuaiia kan mati dan generasi turunan berikutnya akan punah.
  3. Ada benih yang diberi pemanis yang menarik atau bau yang merangsang sehingga bisa menarik binatang untuk dibawa pindah ke berbagai tempat. Bahkan benih yang jatuh di pangkal cabang tumbuhan lain dimana ia bisa tumbuh di situ, karena terjamin makanannya.
  4. Ia diberi perlengkapan seperti sayap supaya bisa tertiup angin hingga “terbang” jauh menyebarkan spesiesnya.
  5. Benih ada yang berada di dalam buah lalu dimakan binatang yang menyukainya atau masuk ke dalam perut binatang dan dicerna hingga saatnya dikeluarkan sebagai tinja dan dijatuhkan dimana saja.
  6. Benih mempunyai alat pengait pada kulitnya sehingga bisa tersangkut pada bulu binatang atau celana manusia dan terbawa kemana-mana.


Mempelajari rahasia benih, kita akan memahami bagaimana Tuhan Sang Mahapencipta, memelihara dan memberi makan seluruh ciptaanNya. Tumbuhan memang bisa mati, namun cintanya sungguh masih ia tinggalkan untuk manusia dan makhluk-makhluk lainnya yang membutuhkan keberadaannya. Tumbuh-tumbuhan tetap memberi meski ia mati.

Benih yang ia titipkan pada angin akan bersemi di seluruh penjuru mata angin. Benih yang ia titipkan pada air, akan menyeruak tumbuh di tempat yang mungkin tidak kita bayangkan sebelumnya. Benih yang ia titipkan pada serangga, akan dibawa dengan setia lalu ditempatkan di tanah terbaik yang memungkinkannya untuk tumbuh. Mereka, benih-benih yang telah dititipkan, akan terus berkembang meneruskan cinta tumbuhan sebelumnya.

Inilah sebenranya ilmu yang diperlukan bagi mereka yang mempersiapkan diri menjadi pemimpin.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates