Menginspirasi dan Berbagi untuk Alam
Pohon memberi inspirasi dan cinta tak terbatas pada lingkungan. Inspirasi melahirkan keteduhan dan kebaikan. Maka Pohon Inspirasi mencoba menghimpun inspirasi dan cinta untuk menebar kebaikan bagi lingkungan.
Pohon Istanaku
Semua Berawal dari Pohon. Pohon adalah istana bagi banyak kehidupan. Ia adaah sumber inspirasi hidup tanpa batas. Pohon inspirasi mengajak kita semua mencintai pohon karena ia adalah sesuatu yang indah laksana istana tempat semua keindahan, kenyamanan dan kebanggaan terkumpul.
Perempuan Menanam
Tanpa pernah mengharap buah dari yang kita tanam, orang yang menanam pohon telah memberikan harapan baru bagi kehidupan lain. Seperti seorang Ibu yang menyusui bayinya, ia telah memberikan harapan bagi munculnya generasi baru yang lebih baik.
Gerakan Moral Mencintai Pohon
(Rubrik Kearifan Komunitas, Majalah Tarbawi Edisi 249/Th.12 Jumadil Awwal 1432, 21 April 2011)Pohon tidak semata hiasan taman atau tempat berteduh dari teriknya matahari, tapi juga komponen penting untuk keseimbangan alam. Banyak hikmah yang terkandung dalam pohon. Komunitas Pohon Inspirasi mengajak kita menyadarinya.
Membangun Taman di Surga
Menanam bibit pohon adalah untuk membangun kehidupan bagi manusia, hewan, tanah, air dan udara di dunia. Di kehidupan setelah dunia, kita akan mendapat ganjaran besar berupa taman di surga sebagai buah dari amal kita yaitu menanam untuk kehidupan karena mengharap kebaikan-Nya.
Minggu, 26 Februari 2012
Minggu, 26 Februari 2012
Pahlawan Penyelamat Umat Manusia dari Gunung Kidul
Rabu, 01 Februari 2012
Rabu, 01 Februari 2012
Bagaimana Agar Terhindar dari Tertimpa Pohon
![]() |
| Pohon Tumbang di Jakarta (dok. Kompas.com) |
Senin, 16 Januari 2012
Senin, 16 Januari 2012
Doa-doa menghadapi Cuaca Ekstrem
Di seluruh penjuru negeri hujan mulai mengguyur. Semua orang menghadapi hujan yang tak jarang diiringi angin kencang dan petir menggelegar. Banjir melanda hampir seluruh kawasan Nusantara. Di Sulawesi, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur dan juga Jakarta, mulai akhir tahun 2012 hingga saat ini (11/1/2013), kondisi banjir tak surut dieritakan. Pada daerah yang pengelolaan kawasannya tidak antisipatif terhadap curah hujan yang tinggi, banjir dan longsor dengan kerugian yang besar tak lagi dapat dihindari..
Rabu, 14 Desember 2011
Rabu, 14 Desember 2011
Liputan Hari Pohon Sedunia dan Hari Menanam Pohon Indonesia POHON INSPIRASI
Oleh Achmad Siddik Thoha
“Bu, dimana posisi?” Bolak-balik saya bertanya posisi salah seorang sahabat POHON INSPIRASI yang akan hadir pada acara Peringatan Hari Pohon Sedunia (HPS) dan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI), hari ini Minggu 11 Desember 2011.
Saya tidak bisa menyembunyikan keresahan saya. Betapa tidak, peserta yang saya tunggu ini sangat penting. Mereka adalah rombongan Taman Kanak-kanak (TK) Amanah Bandung yang sudah lama merencanakan akan hadir dan mengisi momen penting di acara yang diadakan PI bekerja sama dengan LATIN (Lembaga Alam Tropika) dan De Tara (LSM Lingkungan). Namun hingga 2 jam acara berlangsung sejak pukul 09.00, yang ditunggu juga belum hadir. Infrormasi yang saya terima, mereka mengalami kesulitan mencari jalan menuju lokasi acara.
Lomba yang akan mereka ikuti yaitu mewarnai gambar (untuk TK- SD Kelas I) akhirnya berakhir.
Semua peserta dengan atribut ala dayak, memakai topi yang ditempel selembar daun yang dilekat tegak, mulai berjalan menyusuri hutan. Sampailah anak-anak kecil, remaja dan orang tua peserta acara HSP dan HMPI di areal hutan yang berlantai serasah daun meranti. Lokasi ini merupakan tempat favorit untuk kegiatan permainan di alam.
Pukul 11.28 saya dapat Kabar, posisi “tamu” dari Bandung sudah masuk kawasan hutan CIFOR (Center of International Forestry Research), kawsan hutan penelitian dekat dengan tempat acara PI. Segera saya menggiring mereka ke kawasan hutan berlantai serasah meranti. Tampak di dalam mobil, tiga orang anak yang disebut “Malaikat Kecil” oleh salah satu anggota PI dan tiga orang ibu-ibu yang saya ketahui adalah guru TK Amanah Bandung.
Sampailah acara yang ditunggu-tunggu peserta dan terutama saya, yaitu membacakan dongeng pohon. Dongeng ini saya karang dari adaptasi cerita yang pernah saya baca di beberapa situs dan sudah pernah di posting di grup PI, berjudul “Kasih Tak Berbalas”. Salah satu guru TK Amanah, sebut saja namanya “Bunda”, sudah menyiapkan diri dengan matang untuk membawakan dongeng. Mereka membentuk tim dan melibatkan “malaikat kecilnya” untuk ikut mendongeng. Hebatnya lagi mereka membawa alat peraga berupa pohon yang terbuat dari kertas serta boneka. Mereka juga memakai topi berbentuk lingkaran penuh bunga. Sungguh tim yang hebat.
Mulailah “Bunda” mendongeng dengan ekspresi yang sangat tepat dan mengharukan. Hampir 100 peserta yang terdiri dri anak-anak, remaja dan orang tua terpukau mendengar dongeng pohon. Menjelang akhir cerita, saya melihat beberapa peserta larut dalam cerita yang mengharukan. Ada tetes air mata haru di akhir sesi dongeng ini. Sungguh momen yang sangat berkesan bagi saya.
Dongeng yang mengharukan itu akhirnya berubah ceria setelah lagu pohon dikumandangkan bersama “Bunda” dan “Para Malaikat Kecil” penyelamat bumi.
Akulah pohon
tempat berteduh.
Ini batangku dan ini dahanku.
Ini rantingku & ini daunku.
Jika aku tumbang ke kanan..krek krek krek.
Jika tumbang ke kiri..krek krek krek.
Jika tumbang k blakang..krek krek krek.
Jika tumbang k depan..krek krek krek
Tepuk tangan menggema. Saya rasa pohon-pohon meranti di sekeliling kami juga tersenyum pada kami saat itu. Seandainya pohon punya tangan yang bisa digerakkan, mereka juga akan bertepuk tangan J
Saya yakin peserta sudah mulai letih, karena waktu sudah melewati tengah hari. Setiba di pendopo LATIN mereka saya putarkan film kartun tentang pohon. Mereka tampak serius menyimak.
Ada satu agenda yang sebenarnya berat dilakukan saat letih seperti ini tapi inilah acara inti sebenarnya yaitu menanam bibit pohon. Tadinya acara ini adalah wajib bagi anak-anak pesera lomba menwarnai dan menggambar. Saya berpikr inilah saatnya saya mendapatkan “buah” dari rangkaian acara untuk mendekatkan peserta pada pohon.
“Siapa yang mau menanam pohon?” saya melontarkan tawaran yang kurang popular saat waktunya harus menerima hadiah dan segera pulang.
“Saya, Aku…” banyak tangan terangkat. Saya merasa mendapat kejutan.
“Baik, bagi yang mau menanam, silahkan ikuti saya, dan yang tidak mau silahkan duduk di pendopo.”
Ternyata yang mau menanam adalah sebagian besar peserta dan orang tuanya. Saya lega dan merasa bahwa ini sesuatu yang sangat saya dambakan. Menanam bukan lagi program yang dipaksakan. Menanam muncul dari kesadaran dan kebutuhan. Momen inilah yang berbeda dan sangat berkesan dibanding acara PI sebelumnya.
Acara demi acara berjalan dengan lancar. Semua pemenang lomba dan peserta mendapat hadiah dandoorprize. Panitia takkan membiarkan mereka pulang dengan tangan kosonng. Mereka harus bergembira sepulang acara PI. Menjelang paling akhir acara, kejutan kembali datang. Ibu Guru dari TK Amanah meminta sedikit waktu untuk momen penyampaian donasi pohon dari anak muridnya. Beliau menjelaskan bahwa dana ini dikumpulkan dari usaha mereka sendiri menjual tempe. Keuntungan menjual tempe itu kemudian disumbangkan melalui PI untuk kegiatan menanam dan merawat pohon.
Bersama Ibu Guru, tiga “malaikat kecil” cantik menyerahkan sebuah kotak cantik berisi donasi untuk PI. Saya rasa inilah puncak kesan indah yang saya rasakan dalam acara PI hari ini. Saya yakin teman-teman lain dari panitia merasakan hal yang sama. Terbukti setelah itu beberapa panitia ingin berfoto dengan tiga gadis cilik “malaikat kecil”, tentunya termasuk saya, hehe.
Di akhir tulisan ini, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada LATIN yang tetap percaya pada saya untuk berkolaborasi dalam program gerakan moral mencintai pohon. Juga kepada Abang dan Kakak senior saya dari Fahutan IPB yang mendukung kegiatan ini dengan Launching Puisi dari Pak Dwi R. Muhtaman dan Bang Mirza Saburo yang mengedarkan “Kencleng donasi” untuk mendukung kegiatan ini. Lewat launching dan lomba baca puisi, kegiatan PI menjadi makin kaya dan menarik. Ada juga peran besar dari LSM De Tara (Mbak Ika, dkk) yang telah memberi nuansa kreatif dengan adanya lomba kreatifitas alam bagi orang tua. Juga kepada Sahabat PI di Bogor, adik-adik MNH Fahutan Angkatan 47, teman-teman Lawalata IPB, dan para pembaca buku “Ketika Pohon Bersujud”. Yang ikut membantu secara teknis acara sehingga semua beban bisa dirasakan ringan. Takkan lupa keluarga saya yang selalu menjadi tim inti setiap ada acara PI (istri, anak-anak, Ibu dan Paman). Tidak ketinggalan kepada para anggota grup yang telah menyumbangkan dana, dukungan dan doa sehingga acara ini bisa berlangsung aman dan sukse, tanpa sahabat semua PI tidak bisa berpean bayak. Ini sebuah bentuk kolaborasi yang inspiratif
Semoga tulisan kilat ini bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kami berharap sahabat PI di tempat lain bisa terinspirasi dengan acara PI di Bogor dengan membuat acara dalam rangka memberi penyadaran pada masyarakat akan begitu berharganya pohon.
Rabu, 19 Oktober 2011
Rabu, 19 Oktober 2011
Keajaiban Air
![]() |
| Sungai Cisadane Di Kota Bogor |
Oleh Tyas Effendi
Tak pernah terlupa olehku tentang keajaiban air yang kutemukan saat itu. Kebaikan air telah membantuku di masa sulit. Saat itu, ketika aku masih menjadi seorang pelajar, aku dan lima orang temanku dari klub Pecinta Alam mengadakan pendakian ke gunung. Entah, aku lupa apa gunung yang kami kunjungi ketika itu. Kisah ini sudah tua memang.
Kami berenam punya keinginan besar untuk sampai di puncak, apa pun yang terjadi. Aku adalah salah satu dari dua orang perempuan dalam kelompok pendaki itu. Empat orang yang lain adalah laki-laki tangguh. Sudah menjadi hukum alam bahwa perempuan selalu menjadi lebih lemah dari laki-laki. Begitupun juga saat itu. Teman perempuanku hampir tidak kuat melanjutkan pendakian.
Keadaan kami saat itu benar-benar buruk. Kami tersesat, tak tahu arah. Persediaan makanan dan minuman kami pun juga habis. Seorang teman perempuanku sakit dan sudah benar-benar tidak bisa melanjutkan perjalanan. Belum lagi, tas kecil yang kami pergunakan untuk menyimpan obat hilang. Kami tersiksa karena kelaparan dan kehausan. Kami makan buah-buahan dari tanaman liar yang kami temukan, tapi tak begitu membantu. Parahnya, kami tidak menemukan jalan menuju sungai. Tanaman liana yang bisa memberikan tetes air pun tidak ada.
Beberapa jam kemudian, hujan deras turun. Kami hampir putus asa karena kehujanan dan kedinginan, tapi di sisi lain senang karena bisa merasakan air. Dahaga kami terbayar sudah.
Seorang teman laki-laki kami melepas bajunya, lalu menggunakannya untuk menyaring air hujan yang keruh itu. Kami menadahinya. Kami tahu benar kalau air itu kotor, bahkan juga tercampur potongan dedaunan kering yang ada di sekeliling kami. Aku membacakan doa singkat dan tulus sambil memegang gelas berisi air hujan itu. Lalu, kami memberikannya pada teman perempuan kami yang demam. Keajaiban terjadi. Hanya dengan meminum segelas air hujan itu, kawan kami akhirnya sembuh walaupun belum begitu kuat berjalan sendiri. Air itu menjadi obat alami yang sangat mujarab hanya dengan dibacakan doa dengan tulus.
***
Sahabat, kata-kata akan menjadi "mantra" yang ampuh jika diucapkan dengan tulus. Kata-kata adalah bahasa yang menjembatani kita dan dunia. Bagaimana dunia bisa mengerti kita jika kita tidak mengekspresikannya? Salah satunya adalah dengan kata-kata. Kata-kata bisa merangkai kehidupan yang kita jalani.
Jika kita mengingat lagi percobaan yang sudah dilakukan oleh Dr. Masaru Emoto, kita akan menemukan keajaiban yang sangat mempesona dari air. Ternyata air bisa merespon apa yang diucapkan manusia. Air tidak sepenuhnya mati.
Ucapan biasa saja sudah direspon baik oleh air dengan menunjukkan gambar kristal indah dibawah mikroskop. Apalagi jika kata-kata yang kita ucapkan adalah doa yang tulus, tentu air juga akan meresponnya dengan kebaikan yang besar.
Air, dari manapun asalnya, jika kita membisikkan padanya kata-kata yang baik, maka ia akan menjadikan kebaikan dari setiap tetesnya. Air, bagaimanapun keadaannya, jika kita membisikkan padanya doa yang tulus, maka ia akan menjadi penyembuh yang mujarab untuk jiwa-jiwa yang sakit.
Sahabat, bisikkanlah selalu doa-doa yang tulus sebelum kita meminum air. Bisikkanlah selalu kata-kata yang indah sebelum kita menjadikannya minuman untuk tanaman kita. Dan karena diri kita sebagian besar tersusun atas zat ini, maka berlakulah baik agar air dalam diri kita juga meresponnya dengan selalu menampilkan aura yang menyenangkan dari diri kita.
Air, anugerah yang tiada akan habis.
-Kisah di atas berdasarkan kisah nyata dari seorang guru Kimia
Jumat, 16 September 2011
Jumat, 16 September 2011
Mandi Hanya Dua Menit
Oleh : Achmad Siddik Thoha
“Saya mandi hanya bisa dua menit saja. ‘Shower’ sudah diatur hanya mengucur selama dua menit. Lewat dari itu ‘shower’ berhenti secara otomatis. Saat mandi, saya berdiri di dalam ember supaya air tidak tumpah dan terbuang percuma. Air bekas saya mandi bisa saya pakai untuk keperluan lain.”
Peserta pelatihan tersenyum, sebagian malah tertawa melihat ekspresi Mark memperagakan gaya mandi cepat dua menit. Mark adalah salah satu Trainer Pria asal Australia yang mengisi Pelatihan Pendidikan Konservasi bagi Guru-Guru Sekolah di Kawasan Sekitar Taman Nasional Gunung Leuser Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat Agustus 2008. Pelatihan dilaksanakan disebuah penginapan yang diapit oleh sungai besar yaitu Sungai Buluh dan Sungai Batang Serangan di Kawasan Ekowisata terkenal di Sumatera Utara, Tangkahan.
Mark melanjutkan kisahnya,
“Di Australia, mobil kotor adalah hal yang biasa. Kami sangat jarang membersihkan mobil dengan air bersih. Tempat cuci mobil diatur airnya agar dapat didaur ulang dan dapat dipakai lagi. Jadi kalau mobil kita sering kelihatan bersih, kita malah dianggap pemboros air.”
Kembali peserta pelatihan tertawa. Mereka sungguh hampir tak percaya bahwa memakai air untuk mencuci mobil atau kendaraan dianggap pemborosan di Australia. Di lingkungan mereka, daerah Tangkahan, masyarakat dengan mudah memakai air tanpa batas untuk segala keperluan termasuk membuang sampah rumah tangga dan limbah industri kecil. Jangankan mobil, Bus-pun bisa“dimandikan” di pinggir sungai sepuas-puasnya tanpa membayar dan khawatir kekurangan air.
Lian, Trainer lain, wanita asing yang energik rekan Mark, asal Australia menambahkan :
”Pernah pemerintah kami memerintahkan untuk mencabut jenis bunga impor yang ditanam d ipekarangan karena boros air dan diganti denga jenis bunga lokal yang hemat air. Jadi di tempat kami, masalah air sangat serius sehingga kami sangat behati-hati menggunakannya.”
Semua peserta pelatihan manggut-manggut. Saya tidak paham betul, manggut-manggut tanda paham, bingung atau malah merasa aneh.
***
Kita menyadari bahwa sumberdaya air semakin hari semakin berkurang kualitasnya. Jumlah air memang tidak berkurang, namun air yang bisa dimanfaatkan langsung dengan mudah, bebas dan aman sudah sangat sulit ditemui. Ini memang kurang disadari oleh sebagian besar masyrakat di negeri Khatulistiwa. Sumberdaya yang berlimpah seringkali melenakan kita untuk membiarkannya tak terkelola dengan baik. Ia, akan disadari kalau keadaannya mulai berkurang, rusak atau terancam hilang.
Saat ini kelangkaan air bersih mulai terasa. Untuk dapat menikmati air layak minum kita harus merogoh kantong. Untuk dapat belajar berenang kita perlu menyisihkan waktu dan uang ke kolam renang. Untuk sekedar menikmati sejuk dan jernihnya air kita perlu berlelah-lelah menuju tempat wisata yang jauh.
Sahabat, air bisa mengubah hidup kita. Air kotor dan sanitasi buruk menjadi penyebab mewabahnya penyakit Diare, Disentri, Thypoid dan penyakit akibat parasit. Di Afrika Tengah 80% penyakit yang timbul disebabkan oleh kondisi sanitasi buruk dan air kotor. Usia harapan hidup di negara tersebut sekitar 39 tahun. Sekitar 85% masyarakatnya hidup tanpa air bersih. Mereka terpaksa memanfaatkan air tadah hujan yang kotor dan tidak sehat untuk kebutuhan mereka. Bahkan untuk mendapatkan air seperti itu, ibu-ibu dan anak-anak harus menempuh perjalanan berjam-jam.
Di sebagian daerah di Indonesia juga kita temukan kondisi yang hampir serupa. Masyarakat terpaksa menjadikan sungai yang kotor dan tidak sehat untuk Mandi Cuci kakus (MCK). Mereka tak punya pilihan karena sulitnya akses terhadap air bersih. Air tanah semakin sulit karena berada di bawah tanah yang sangat dalam. Sumber mata air mengering karena rusaknya hutan sebagai areal tangkapan air dan biaya pembuatan sumur yang sangat mahal. Ketika hujan, air lolos begitu saja tanpa bisa “ditangkap” dan dimanfaatkan.
Sahabat, air adalah amanah-Nya untuk kita kelola dengan baik. Melestarikan air adalah salah satu bentuk kita melaksanakan amanah-Nya. Dunia ini takkan indah tanpa air jernih, sejuk dan mengalir. Dunia ini sangat menakutkan bila kita hidup dalam cekaman kelangkaan air, banjir dan kungkungan air kotor. Bukankah surga dihiasi oleh sungai mengalir yang tak terbayang keindahannya. Tidakkah kita ingin menghuni tempat terindah yang dihadiahkan oleh-Nya kelak.
Sahabat, mari kita lestarikan air dengan kemampuan yang kita miiki. Tindakan kecil seperti menanam pohon di halaman dan merawatnya, membuat sumur resapan, menghemat pemakaian air, tidak membuang sampah di perairan serta membersihkan saluran air bisa kita lakukan.
Sabtu, 10 September 2011
Sabtu, 10 September 2011
Buku Inspirasi dari Pohon : KETIKA POHON BERSUJUD
Buku berisi renungan dan penggalian hikmah hidup yag terinspirasi dai keberadaan, "perilaku" dan manfaat dari makhluk luar biasa bernama pohon. Perpaduan pengamatan ilmiah dan nilai filosofis terhadap kehidupan pohon dengan bahasa yang mudah akan menambah wawasan dan kecintaan pembaca pada lingkungan hidup, terutama pohon.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan hasil perenungan penulis dari alam sekitar khususnya pepohonan yang menyimpan banyak rahasia, inspirasi dan hikmah. Disamping juga keprihatinan penulis akan banyaknya pohon yang ditebang untuk kepentingan jangka pendek. Penebangan pohon yang serampangan membuahkan bencana yang akrab dengan kita seperti banjir, kekeringan dan tanah longsor. Lebih lanjut kurangnya pepohonan berdampak tidak mampunya bumi ini menyerap gas-gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global.
Dari kekaguman pada pepohonan yang luar biasa hikmahnya ditambah keprihatinan rusaknya pepohonan dan hutan, penulis berharap kumpulan tulisan ini dapat menggugah pembaca. Penulis berharap pembaca menjadi lebih banyak memamami bahwa pohon itu merupakan inspirasi tiada batas yang bisa memotivasi untuk hidup lebih baik dan melestarikan alam.
Harapan penulis, buku ini bisa berkontribusi pada peningkatan semangat hidup masyarakat yang bisa dipetik dari inspirasi pepohonan sekaligus meningkatkan kesadaran melestarikan pohon dan alam. Dari inspirasi muncul motivasi, dari motivasi akan lahir sikap hidup. Dari pohon kita menemukan begitu banyak inspirasi untuk hidup yang lebih baik dan lestarinya alam.
Salam Lestari
Achmad Siddik Thoha
Penulis
Tanggapan Salah Satu Pembaca
Evyta Ar dari Medan :
Alhamdulillah buku "Ketika Pohon Bersujud" karya pak Achmad Siddik Thoha sudah sampai....kesan pertama begitu takjub.
Cover bukunya yang eksklusif dengan cetakan "timbul", saya suka sekali.
Ilustrasi gambar-gambar di dalamnya juga bagus, membuat saya rindu dengan alam. Dan saya suka sekali jenis font isinya.
Isinya? Jangan ditanya, berisi 51 kisah inspiratif dari pohon-pohon, ringan dan mudah dipahami, ga 'ribet'. Ada "Pohon Cinta", ada "Kungfu Panda", ada "Pohon yang Membuat Kaya", baru sebagian yang saya baca, sudah menggugah gelora ingin melanjutkan sampai habis, seraya bersyukur tiada tara kepada Sang Pencipta pohon.
Buku ini layak menjadi salah satu koleksi buku eksklusif evergreen! :) terima kasih Komunitas Pohon Inspirasi
Pemesanan bisa Menghubungi Ibu Popie Susanty
Kontak 0815 8446 1115


19.43
Achmad Siddik Thoha



