Apa Kabar Sahabat POHON INSPIRASI

Blog Berbagi Cinta dan Inspirasi untuk Alam

Senin, 16 Januari 2012

Senin, 16 Januari 2012

Doa-doa menghadapi Cuaca Ekstrem

Achmad Siddik Thoha dan Ade Ichwan Ali

Cuaca ektrem melanda dunia. Korban sakit dan meninggal dunia mulai berjatuhan. Di kawsan Timur Tengah, aktifitas masyarakat lumpuh karena serangan badai, salju dan hujan terus menerus. Di China, sungai-sungai membeku. Di Bangladesh, puluhan orang meninggal akibat serangan badai dingin.Sebaliknya, di Australia, kebakaran hutan yang dipicu badai panas dan meningkatnya suhu telah menghanguskan hutan, belukar  dan lahan. Korban akibat kebakaran hutan mulai berjatuhan. 

Di seluruh penjuru negeri hujan mulai mengguyur. Semua orang  menghadapi hujan yang tak jarang diiringi angin kencang dan petir menggelegar. Banjir melanda hampir seluruh kawasan Nusantara. Di Sulawesi, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur dan juga Jakarta, mulai akhir tahun 2012 hingga saat ini (11/1/2013), kondisi banjir tak surut dieritakan. Pada daerah yang pengelolaan kawasannya tidak antisipatif terhadap curah hujan yang tinggi, banjir dan longsor  dengan kerugian yang besar tak lagi dapat dihindari..

Semua masyarakat mau tak mau harus beradaptasi dengan hujan, angin kencang dan petir segala dampaknya. Ada yang menyiapkan diri agar tetap bugar selama musim hujan yang cukup ekstrem. Ada yang membenahi lingkungan pemukiman agar air yang mengguyur tidak lama bertahan di permukaan tanah. Ada pula yang membenahi rumahnya agar lebih tahan dengan gelontoran tetes hujan yang makin kuat dan banyak.

Hujan dalam konteks agama adalah rahmat. Tuhan bahkan menitipkan turunnya hujan pada seorang malaikat yang bernama Mikail. Rahmat itu berarti rezeki dan manfaat tidak hanya untuk manusia, namun juga bagi alam semesta. Hadirnya hujan bermakna siraman rahmat dari-Nya. Ketika rahmat turun dari langit sepantasnya sebagai manusia, hamba Tuham, kita memohon kebaikan pada-Nya.  Kita juga memohon agar hujan yang turun tidak membawa bencana bagi kita.

Dalam agama Islam diajarkan beberapa doa ketika hujan mengguyur bumi  dan sesuatu yang mengiringinya. Doa ini saya tuliskan terjemahannya agar memudahkan untuk dipahami dan dipraktekkan.

1. Doa ketika ada angin ribut

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلْتَ بِهِ. 
 "Ya Allah Sesungguhnya saya meminta kepada-Mu, kebaikannya, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang dibawanya. Dan Saya berlindung kepada-Mu dari keburukannya, dan keburukan yang ada di dalamnya dan keburukan yang dibawanya."
[Muslim (II/616) dan Al-Bukhari (IV/76)].


2. Doa ketika ada halilintar

سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ. 
  168. “Mahasuci Allah yang halilintar bertasbih dengan memuji-Nya, begitu juga para Malaikat, karena takut kepada-Nya.”[ Al-Muwaththa` (II/992). Al-Albani berkata: “Hadits mauquf yang sanadnya shahih.”]


3.  Doa ketika turun hujan

اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا. 
  “Ya Allah! Turunkanlah hujan deras yang bermanfaat (untuk manusia, tanaman dan binatang).”[Al-Bukhari dengan Fat-hul Baari (II/518)].

4. Doa setelah turun hujan

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ. 
  “Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah.”[ Al-Bukhari  (I/205, Muslim  (I/83)].



5. Doa meminta agar hujan berhenti

اَللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ عَلَى اْلآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُوْنِ اْلأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ. 
“Ya Allah! Hujanilah di sekitar kami, jangan kepada (di atas) kami. Ya, Allah! Berilah hujan ke daratan tinggi, anak-anak bukit, perut-perut lembah dan tanah-tanah tempat pepohonan tumbuh.”[Al-Bukhari  (I/224) dan Muslim (II/614)].

Sahabat, Hujan itu kesejukan. Hujan itu menghapus udara kotor. Hujan itu menghanyutkan tanah subur dari atas ke bawah. Hujan itu melarutkan hara/nutrisi tanah hingga mudah diserap tanaman. Semoga hujan juga melunturkan dosa-dosa hamba yang bertaubat pada-Nya. 

Ingat sahabat, tak ada yang salah dengan hujan. Kitalah yang salah memperlakukan hujan saat ia turun ke bumi.

Sahabat, mari berdoa sebagai bagian usaha kita agar selamat dari terpaaan cuaca ekstrem. Kala hujan turun, disitulah waktu yang tepat untuk memohon kebaikan dan memohon ampun atas segala dosa pada-Nya.



Rabu, 14 Desember 2011

Rabu, 14 Desember 2011

Liputan Hari Pohon Sedunia dan Hari Menanam Pohon Indonesia POHON INSPIRASI

Menunggu “Malaikat Kecil” (Sebuah Kisah Indah di Acara PI)
Oleh Achmad Siddik Thoha


“Bu, dimana posisi?” Bolak-balik saya bertanya posisi salah seorang sahabat POHON INSPIRASI yang akan hadir pada acara Peringatan Hari Pohon Sedunia (HPS) dan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI), hari ini Minggu 11 Desember 2011.

Saya tidak bisa menyembunyikan keresahan saya. Betapa tidak, peserta yang saya tunggu ini sangat penting. Mereka adalah rombongan Taman Kanak-kanak (TK) Amanah Bandung yang sudah lama merencanakan akan hadir dan mengisi momen penting di acara yang diadakan PI bekerja sama dengan LATIN (Lembaga Alam Tropika) dan De Tara (LSM Lingkungan). Namun hingga 2 jam acara berlangsung sejak pukul 09.00, yang ditunggu juga belum hadir. Infrormasi yang saya terima, mereka mengalami kesulitan mencari jalan menuju lokasi acara.

Lomba yang akan mereka ikuti yaitu mewarnai gambar (untuk TK- SD Kelas I) akhirnya berakhir.
Semua peserta dengan atribut ala dayak, memakai topi yang ditempel selembar daun yang dilekat tegak, mulai berjalan menyusuri hutan. Sampailah anak-anak kecil, remaja dan orang tua peserta acara HSP dan HMPI di areal hutan yang berlantai serasah daun meranti. Lokasi ini merupakan tempat favorit untuk kegiatan permainan di alam.

Pukul 11.28 saya dapat Kabar, posisi “tamu” dari Bandung sudah masuk kawasan hutan CIFOR (Center of International Forestry Research), kawsan hutan penelitian dekat dengan tempat acara PI. Segera saya menggiring mereka ke kawasan hutan berlantai serasah meranti. Tampak di dalam mobil, tiga orang anak yang disebut “Malaikat Kecil” oleh salah satu anggota PI dan tiga orang ibu-ibu yang saya ketahui adalah guru TK Amanah Bandung.

Sampailah acara yang ditunggu-tunggu peserta dan terutama saya, yaitu membacakan dongeng pohon. Dongeng ini saya karang dari adaptasi cerita yang pernah saya baca di beberapa situs dan sudah pernah di posting di grup PI, berjudul “Kasih Tak Berbalas”. Salah satu guru TK Amanah, sebut saja namanya “Bunda”, sudah menyiapkan diri dengan matang untuk membawakan dongeng. Mereka membentuk tim dan melibatkan “malaikat kecilnya” untuk ikut mendongeng. Hebatnya lagi mereka membawa alat peraga berupa pohon yang terbuat dari kertas serta boneka. Mereka juga memakai topi berbentuk lingkaran penuh bunga. Sungguh tim yang hebat.

Mulailah “Bunda” mendongeng dengan ekspresi yang sangat tepat dan mengharukan. Hampir 100 peserta yang terdiri dri anak-anak, remaja dan orang tua terpukau mendengar dongeng pohon. Menjelang akhir cerita, saya melihat beberapa peserta larut dalam cerita yang mengharukan. Ada tetes air mata haru di akhir sesi dongeng ini. Sungguh momen yang sangat berkesan bagi saya.

Dongeng yang mengharukan itu akhirnya berubah ceria setelah lagu pohon dikumandangkan bersama “Bunda” dan “Para Malaikat Kecil” penyelamat bumi.

Akulah pohon
tempat berteduh.
Ini batangku dan ini dahanku.
Ini rantingku & ini daunku.
Jika aku tumbang ke kanan..krek krek krek.
Jika tumbang ke kiri..krek krek krek.
Jika tumbang k blakang..krek krek krek.
Jika tumbang k depan..krek krek krek

Tepuk tangan menggema. Saya rasa pohon-pohon meranti di sekeliling kami juga tersenyum pada kami saat itu. Seandainya pohon punya tangan yang bisa digerakkan, mereka juga akan bertepuk tangan J

Saya yakin peserta sudah mulai letih, karena waktu sudah melewati tengah hari. Setiba di pendopo LATIN mereka saya putarkan film kartun tentang pohon. Mereka tampak serius menyimak.

Ada satu agenda yang sebenarnya berat dilakukan saat letih seperti ini tapi inilah acara inti sebenarnya yaitu menanam bibit pohon. Tadinya acara ini adalah wajib bagi anak-anak pesera lomba menwarnai dan menggambar. Saya berpikr inilah saatnya saya mendapatkan “buah” dari rangkaian acara untuk mendekatkan peserta pada pohon.

“Siapa yang mau menanam pohon?” saya melontarkan tawaran yang kurang popular saat waktunya harus menerima hadiah dan segera pulang.

“Saya, Aku…” banyak tangan terangkat. Saya merasa mendapat kejutan.
“Baik, bagi yang mau menanam, silahkan ikuti saya, dan yang tidak mau silahkan duduk di pendopo.”

Ternyata yang mau menanam adalah sebagian besar peserta dan orang tuanya. Saya lega dan merasa bahwa ini sesuatu yang sangat saya dambakan. Menanam bukan lagi program yang dipaksakan. Menanam muncul dari kesadaran dan kebutuhan. Momen inilah yang berbeda dan sangat berkesan dibanding acara PI sebelumnya.

Acara demi acara berjalan dengan lancar. Semua pemenang lomba dan peserta mendapat hadiah dandoorprize. Panitia takkan membiarkan mereka pulang dengan tangan kosonng. Mereka harus bergembira sepulang acara PI. Menjelang paling akhir acara, kejutan kembali datang. Ibu Guru dari TK Amanah meminta sedikit waktu untuk momen penyampaian donasi pohon dari anak muridnya. Beliau menjelaskan bahwa dana ini dikumpulkan dari usaha mereka sendiri menjual tempe. Keuntungan menjual tempe itu kemudian disumbangkan melalui PI untuk kegiatan menanam dan merawat pohon.

Bersama Ibu Guru, tiga “malaikat kecil” cantik menyerahkan sebuah kotak cantik berisi donasi untuk PI. Saya rasa inilah puncak kesan indah yang saya rasakan dalam acara PI hari ini. Saya yakin teman-teman lain dari panitia merasakan hal yang sama. Terbukti setelah itu beberapa panitia ingin berfoto dengan tiga gadis cilik “malaikat kecil”, tentunya termasuk saya, hehe.

Di akhir tulisan ini, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada LATIN yang tetap percaya pada saya untuk berkolaborasi dalam program gerakan moral mencintai pohon. Juga kepada Abang dan Kakak senior saya dari Fahutan IPB yang mendukung kegiatan ini dengan Launching Puisi dari Pak Dwi R. Muhtaman dan Bang Mirza Saburo yang mengedarkan “Kencleng donasi” untuk mendukung kegiatan ini. Lewat launching dan lomba baca puisi, kegiatan PI menjadi makin kaya dan menarik. Ada juga peran besar dari LSM De Tara (Mbak Ika, dkk) yang telah memberi nuansa kreatif dengan adanya lomba kreatifitas alam bagi orang tua. Juga kepada Sahabat PI di Bogor, adik-adik MNH Fahutan Angkatan 47, teman-teman Lawalata IPB, dan para pembaca buku “Ketika Pohon Bersujud”. Yang ikut membantu secara teknis acara sehingga semua beban bisa dirasakan ringan. Takkan lupa keluarga saya yang selalu menjadi tim inti setiap ada acara PI (istri, anak-anak, Ibu dan Paman). Tidak ketinggalan kepada para anggota grup yang telah menyumbangkan dana, dukungan dan doa sehingga acara ini bisa berlangsung aman dan sukse, tanpa sahabat semua PI tidak bisa berpean bayak. Ini sebuah bentuk kolaborasi yang inspiratif

Semoga tulisan kilat ini bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kami berharap sahabat PI di tempat lain bisa terinspirasi dengan acara PI di Bogor dengan membuat acara dalam rangka memberi penyadaran pada masyarakat akan begitu berharganya pohon.

Rabu, 19 Oktober 2011

Rabu, 19 Oktober 2011

Keajaiban Air

Sungai Cisadane Di Kota Bogor
Keajaiban Air
Oleh Tyas Effendi


Tak pernah terlupa olehku tentang keajaiban air yang kutemukan saat itu. Kebaikan air telah membantuku di masa sulit. Saat itu, ketika aku masih menjadi seorang pelajar, aku dan lima orang temanku dari klub Pecinta Alam mengadakan pendakian ke gunung. Entah, aku lupa apa gunung yang kami kunjungi ketika itu. Kisah ini sudah tua memang.

Kami berenam punya keinginan besar untuk sampai di puncak, apa pun yang terjadi. Aku adalah salah satu dari dua orang perempuan dalam kelompok pendaki itu. Empat orang yang lain adalah laki-laki tangguh. Sudah menjadi hukum alam bahwa perempuan selalu menjadi lebih lemah dari laki-laki. Begitupun juga saat itu. Teman perempuanku hampir tidak kuat melanjutkan pendakian.

Keadaan kami saat itu benar-benar buruk. Kami tersesat, tak tahu arah. Persediaan makanan dan minuman kami pun juga habis. Seorang teman perempuanku sakit dan sudah benar-benar tidak bisa melanjutkan perjalanan. Belum lagi, tas kecil yang kami pergunakan untuk menyimpan obat hilang. Kami tersiksa karena kelaparan dan kehausan. Kami makan buah-buahan dari tanaman liar yang kami temukan, tapi tak begitu membantu. Parahnya, kami tidak menemukan jalan menuju sungai. Tanaman liana yang bisa memberikan tetes air pun tidak ada.

Beberapa jam kemudian, hujan deras turun. Kami hampir putus asa karena kehujanan dan kedinginan, tapi di sisi lain senang karena bisa merasakan air. Dahaga kami terbayar sudah.

Seorang teman laki-laki kami melepas bajunya, lalu menggunakannya untuk menyaring air hujan yang keruh itu. Kami menadahinya. Kami tahu benar kalau air itu kotor, bahkan juga tercampur potongan dedaunan kering yang ada di sekeliling kami. Aku membacakan doa singkat dan tulus sambil memegang gelas berisi air hujan itu. Lalu, kami memberikannya pada teman perempuan kami yang demam. Keajaiban terjadi. Hanya dengan meminum segelas air hujan itu, kawan kami akhirnya sembuh walaupun belum begitu kuat berjalan sendiri. Air itu menjadi obat alami yang sangat mujarab hanya dengan dibacakan doa dengan tulus.

***

Sahabat, kata-kata akan menjadi "mantra" yang ampuh jika diucapkan dengan tulus. Kata-kata adalah bahasa yang menjembatani kita dan dunia. Bagaimana dunia bisa mengerti kita jika kita tidak mengekspresikannya? Salah satunya adalah dengan kata-kata. Kata-kata bisa merangkai kehidupan yang kita jalani.

Jika kita mengingat lagi percobaan yang sudah dilakukan oleh Dr. Masaru Emoto, kita akan menemukan keajaiban yang sangat mempesona dari air. Ternyata air bisa merespon apa yang diucapkan manusia. Air tidak sepenuhnya mati.

Ucapan biasa saja sudah direspon baik oleh air dengan menunjukkan gambar kristal indah dibawah mikroskop. Apalagi jika kata-kata yang kita ucapkan adalah doa yang tulus, tentu air juga akan meresponnya dengan kebaikan yang besar.

Air, dari manapun asalnya, jika kita membisikkan padanya kata-kata yang baik, maka ia akan menjadikan kebaikan dari setiap tetesnya. Air, bagaimanapun keadaannya, jika kita membisikkan padanya doa yang tulus, maka ia akan menjadi penyembuh yang mujarab untuk jiwa-jiwa yang sakit.

Sahabat, bisikkanlah selalu doa-doa yang tulus sebelum kita meminum air. Bisikkanlah selalu kata-kata yang indah sebelum kita menjadikannya minuman untuk tanaman kita. Dan karena diri kita sebagian besar tersusun atas zat ini, maka berlakulah baik agar air dalam diri kita juga meresponnya dengan selalu menampilkan aura yang menyenangkan dari diri kita.

Air, anugerah yang tiada akan habis.

-Kisah di atas berdasarkan kisah nyata dari seorang guru Kimia

Jumat, 16 September 2011

Jumat, 16 September 2011

Mandi Hanya Dua Menit

Mandi Hanya Dua Menit
Oleh : Achmad Siddik Thoha

“Saya mandi hanya bisa dua menit saja. ‘Shower’ sudah diatur hanya mengucur selama dua menit. Lewat dari itu ‘shower’ berhenti secara otomatis. Saat mandi, saya berdiri di dalam ember supaya air tidak tumpah dan terbuang percuma. Air bekas saya mandi bisa saya pakai untuk keperluan lain.”

Peserta pelatihan tersenyum, sebagian malah tertawa melihat ekspresi Mark memperagakan gaya mandi cepat dua menit. Mark adalah salah satu Trainer Pria asal Australia yang mengisi Pelatihan Pendidikan Konservasi bagi Guru-Guru Sekolah di Kawasan Sekitar Taman Nasional Gunung Leuser Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat Agustus 2008. Pelatihan dilaksanakan disebuah penginapan yang diapit oleh sungai besar yaitu Sungai Buluh dan Sungai Batang Serangan di Kawasan Ekowisata terkenal di Sumatera Utara, Tangkahan.

Mark melanjutkan kisahnya,
“Di Australia, mobil kotor adalah hal yang biasa. Kami sangat jarang membersihkan mobil dengan air bersih. Tempat cuci mobil diatur airnya agar dapat didaur ulang dan dapat dipakai lagi. Jadi kalau mobil kita sering kelihatan bersih, kita malah dianggap pemboros air.”

Kembali peserta pelatihan tertawa. Mereka sungguh hampir tak percaya bahwa memakai air untuk mencuci mobil atau kendaraan dianggap pemborosan di Australia. Di lingkungan mereka, daerah Tangkahan, masyarakat dengan mudah memakai air tanpa batas untuk segala keperluan termasuk membuang sampah rumah tangga dan limbah industri kecil. Jangankan mobil, Bus-pun bisa“dimandikan” di pinggir sungai sepuas-puasnya tanpa membayar dan khawatir kekurangan air.

Lian, Trainer lain, wanita asing yang energik rekan Mark, asal Australia menambahkan :
”Pernah pemerintah kami memerintahkan untuk mencabut jenis bunga impor yang ditanam d ipekarangan karena boros air dan diganti denga jenis bunga lokal yang hemat air. Jadi di tempat kami, masalah air sangat serius sehingga kami sangat behati-hati menggunakannya.”

Semua peserta pelatihan manggut-manggut. Saya tidak paham betul, manggut-manggut tanda paham, bingung atau malah merasa aneh.

***

Kita menyadari bahwa sumberdaya air semakin hari semakin berkurang kualitasnya. Jumlah air memang tidak berkurang, namun air yang bisa dimanfaatkan langsung dengan mudah, bebas dan aman sudah sangat sulit ditemui. Ini memang kurang disadari oleh sebagian besar masyrakat di negeri Khatulistiwa. Sumberdaya yang berlimpah seringkali melenakan kita untuk membiarkannya tak terkelola dengan baik. Ia, akan disadari kalau keadaannya mulai berkurang, rusak atau terancam hilang.

Saat ini kelangkaan air bersih mulai terasa. Untuk dapat menikmati air layak minum kita harus merogoh kantong. Untuk dapat belajar berenang kita perlu menyisihkan waktu dan uang ke kolam renang. Untuk sekedar menikmati sejuk dan jernihnya air kita perlu berlelah-lelah menuju tempat wisata yang jauh.

Sahabat, air bisa mengubah hidup kita. Air kotor dan sanitasi buruk menjadi penyebab mewabahnya penyakit Diare, Disentri, Thypoid dan penyakit akibat parasit. Di Afrika Tengah 80% penyakit yang timbul disebabkan oleh kondisi sanitasi buruk dan air kotor. Usia harapan hidup di negara tersebut sekitar 39 tahun. Sekitar 85% masyarakatnya hidup tanpa air bersih. Mereka terpaksa memanfaatkan air tadah hujan yang kotor dan tidak sehat untuk kebutuhan mereka. Bahkan untuk mendapatkan air seperti itu, ibu-ibu dan anak-anak harus menempuh perjalanan berjam-jam.

Di sebagian daerah di Indonesia juga kita temukan kondisi yang hampir serupa. Masyarakat terpaksa menjadikan sungai yang kotor dan tidak sehat untuk Mandi Cuci kakus (MCK). Mereka tak punya pilihan karena sulitnya akses terhadap air bersih. Air tanah semakin sulit karena berada di bawah tanah yang sangat dalam. Sumber mata air mengering karena rusaknya hutan sebagai areal tangkapan air dan biaya pembuatan sumur yang sangat mahal. Ketika hujan, air lolos begitu saja tanpa bisa “ditangkap” dan dimanfaatkan.

Sahabat, air adalah amanah-Nya untuk kita kelola dengan baik. Melestarikan air adalah salah satu bentuk kita melaksanakan amanah-Nya. Dunia ini takkan indah tanpa air jernih, sejuk dan mengalir. Dunia ini sangat menakutkan bila kita hidup dalam cekaman kelangkaan air, banjir dan kungkungan air kotor. Bukankah surga dihiasi oleh sungai mengalir yang tak terbayang keindahannya. Tidakkah kita ingin menghuni tempat terindah yang dihadiahkan oleh-Nya kelak.

Sahabat, mari kita lestarikan air dengan kemampuan yang kita miiki. Tindakan kecil seperti menanam pohon di halaman dan merawatnya, membuat sumur resapan, menghemat pemakaian air, tidak membuang sampah di perairan serta membersihkan saluran air bisa kita lakukan.

Sabtu, 10 September 2011

Sabtu, 10 September 2011

Buku Inspirasi dari Pohon : KETIKA POHON BERSUJUD

Telah tebit buku "Ketika Pohon Bersujud : Inspirasi Hidup dari Pohon"

Buku berisi renungan dan penggalian hikmah hidup yag terinspirasi dai keberadaan, "perilaku" dan manfaat dari makhluk luar biasa bernama pohon. Perpaduan pengamatan ilmiah dan nilai filosofis terhadap kehidupan pohon dengan bahasa yang mudah akan menambah wawasan dan kecintaan pembaca pada lingkungan hidup, terutama pohon.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan hasil perenungan penulis dari alam sekitar khususnya pepohonan yang menyimpan banyak rahasia, inspirasi dan hikmah. Disamping juga keprihatinan penulis akan banyaknya pohon yang ditebang untuk kepentingan jangka pendek. Penebangan pohon yang serampangan membuahkan bencana yang akrab dengan kita seperti banjir, kekeringan dan tanah longsor. Lebih lanjut kurangnya pepohonan berdampak tidak mampunya bumi ini menyerap gas-gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global.

Dari kekaguman pada pepohonan yang luar biasa hikmahnya ditambah keprihatinan rusaknya pepohonan dan hutan, penulis berharap kumpulan tulisan ini dapat menggugah pembaca. Penulis berharap pembaca menjadi lebih banyak memamami bahwa pohon itu merupakan inspirasi tiada batas yang bisa memotivasi untuk hidup lebih baik dan melestarikan alam.

Harapan penulis, buku ini bisa berkontribusi pada peningkatan semangat hidup masyarakat yang bisa dipetik dari inspirasi pepohonan sekaligus meningkatkan kesadaran melestarikan pohon dan alam. Dari inspirasi muncul motivasi, dari motivasi akan lahir sikap hidup. Dari pohon kita menemukan begitu banyak inspirasi untuk hidup yang lebih baik dan lestarinya alam.

Salam Lestari
Achmad Siddik Thoha
Penulis

Tanggapan Salah Satu Pembaca

Evyta Ar dari Medan :

Alhamdulillah buku "Ketika Pohon Bersujud" karya pak Achmad Siddik Thoha sudah sampai....kesan pertama begitu takjub.

Cover bukunya yang eksklusif dengan cetakan "timbul", saya suka sekali.
Ilustrasi gambar-gambar di dalamnya juga bagus, membuat saya rindu dengan alam. Dan saya suka sekali jenis font isinya.

Isinya? Jangan ditanya, berisi 51 kisah inspiratif dari pohon-pohon, ringan dan mudah dipahami, ga 'ribet'. Ada "Pohon Cinta", ada "Kungfu Panda", ada "Pohon yang Membuat Kaya", baru sebagian yang saya baca, sudah menggugah gelora ingin melanjutkan sampai habis, seraya bersyukur tiada tara kepada Sang Pencipta pohon.

Buku ini layak menjadi salah satu koleksi buku eksklusif evergreen! :) terima kasih Komunitas Pohon Inspirasi

Pemesanan bisa Menghubungi Ibu Popie Susanty
Kontak 0815 8446 1115

Minggu, 07 Agustus 2011

Minggu, 07 Agustus 2011

Pelajaran Puasa dari Pohon Jati

Pelajaran Puasa dari Pohon Jati
Oleh Achmad Siddik Thoha

Pohon-pohon jati itu melepaskan dedaunannya. Daun-daun kecoklatan terbang dan terhempas ringan di atas tanah. Lantai hutan jati terlihat penuh dengan daun lebar kering berwarna coklat muda yang berserakan. Hutan jati dalam keadaan meranggas saat itu.

Dua orang melintas pelan di hutan itu. Seorang pria dengan janggut panjang dan pria satunya masih sangat belia. Dua orang ini adalah murid dan guru yang berkelana mencari kearifan hidup.

”Guru, dua bulan lalu, kita pernah melintasi hutan jati di tempat lain. Waktu itu kita merasakan kesejukan dibawah naungan pepohonan jati dengan daun hijaunya yang segar dan bunga-bunganya yang sedang mekar. Kali ini, hampir tak ada daun yang melekat di ranting pepohonan ini. Apa jati ini harus menggugurkan daunnya setiap tahun guru?” Tanya sang murid.

” Kemarau dengan panas yang terik dan air dari langit yang tertahan, mengharuskan jati melewati hari harinya dengan melepas dedaunannya. Begitulah jati menempa dirinya muridku.” Jawab sang guru singkat.

”Bagaimana caranya jati bisa tumbuh dan berkembang tanpa daun. Bukankah daun sangat penting untuk menyerap matahari dan menguapkan air bagi tumbuhan. Mereka bisa mati kalau begitu terus, Guru?” Sang murid mendesak gurunya menjelaskan.

Sang guru kemudian menjawab rasa penasaran muridnya.
”Itulah hikmah yang Tuhan berikan melalui pohon jati. Meski tanpa daun, pohon jati justru sedang menempa dirinya menjadi salah satu pohon terbaik di bumi ini. Dia takkan mati. Ia bahkan sedang ”berpuasa” untuk tidak berkembang secara kasat mata. Ia sedang menempa dirinya untuk sanggup bertahan dengan ujian kekurangan air dan panasnya cuaca. Ia melewati ujian itu sambil mengugurkan masalah yang ada di daun dan memperbaiki kulitas kayu di batangnya.”

”Menggugurkan masalah...?Artinya daun-daun itu kalau terus ada dan bekerja di musim kemarau bisa mengganggu pertumbuhan pohon karena boros air. Nantinya bagian pohon lain seperti batang dan akar bisa terganggu ya, Guru?” Sang murid mencoba menganalisis penjelasan gurunya.”

”Benar sekali muridku. Sama halnya dengan tubuh kita. Pada saatnya kita harus mengistirahatkan anggota badan kita seperti perut untuk mengurangi kerjanya. Itu sangat diperlukan agar bagian lain dari diri kita berfungsi lebih optimal. Misalnya, saat perut beristirahat mengolah makanan, bagian tubuh lain khususnya pikiran dan jiwa kita bisa lebih optimal bekerja. Bukankah perut kita adalah salah satu sumber munculnya penyakit.” Sang guru mulai menjelaskan kearifan alam yang diamatinya

”Mungkin daun-daun itu bisa kita andaikan sebagai dosa-dosa kita. Saat kita mau berkorban untuk menahan diri dan bertahan dari ujian, Tuhan akan memberi kita karunia-Nya berupa bergugurannya dosa-dosa kita. Pada saat dosa-dosa itu berlepasan dalam diri kita, kita merasakan hidup ini lebih tenang dan bahagia. Bahagia itulah kualitas tertinggi yang diraih manusia dan sekaligus karunia dari-Nya. Kamu ingin hidup bahagia kan muridku? Sang guru menepuk punggung muridnya.

”Eh iya guru, pasti. Makanya kita harus segera sampai di kampung agar tenang, gak kepanasan begini Guru”

”Kamu masih puasa, kan? Jangan kalah sama pohon Jati yang puasanya lebih panjang dari kita,” canda Sang Guru

”Hahaha...” Guru dan murid tertawa. Mereka mendapatkan kearifan hidup dari bergugurannya dedaunan pohon Jati.

Memenangkan Peperangan dalam Jiwa

Memenangkan Peperangan dalam Jiwa
Oleh Achmad Siddik Thoha

“Pak, kita bawa bekal makan siang di hutan nanti?”
Pertanyaan Pak Bai, warga desa Bandar Agung Kecamatan Topos Kabupaten Lebong Propinsi Bengkulu, pekerja Pengukuran Kawasan Hutan untuk Rehabilitasi Hutan, membuat saya bimbang.

“Bagaimana ya, Pak? Bawa saja, Pak. Mungkin saya tidak kuat puasa sambil naik bukit, jadi saya bisa langsung batalkan. Kalau Bapak dan yang lain bagaimana?”

“Kami puaso (puasa).” Suara mantap keluar dari mulut Pak Bai.

Pak Anshori, pekerja lain yang akan membantu kami menimpali,”Saya tetap puasa, ini kan latihan menahan hawa nafsu.”

Aku terhenyak mendengar jawaban sederhana mereka namun sangat dalam maknanya. Aku bimbang karena pekerjaan pengukuran hutan untuk kegiatan rehabilitasi ini sangat berat. Aku dan tim harus naik turun bukit yang terjal, menuruni lembah yang curam dan berjalan melintasi hutan dan semak belukar rata-rata 10 km per hari. Dalam kondisi tidak berpuasa saja, kami sangat kelelahan. Warga desa sekitar hutan yang menjadi pekerja kami juga mengeluhkan pekerjaan pengukuran luas dan pemancangan patok batas yang sungguh melelahkan. Mengukur kawasan hutan seluas 2000 Ha bukan pekerjaan yang mudah. Belum lagi yang dimasuki adalah hutan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat Bengkulu (TNKS) yang terkenal dengan bukit-bukitnya yang terjal.

Pukul 08.00 kami mulai berangkat menuju patok batas kawasan TNKS di Desa Bandar Agung Kecamatan Topos Kabupaten Lebong Propinsi Bengkulu. Jauh nian perjalanan menuju patok batas kawasan hutan ini. Kami baru mulai bekerja apabila sudah menemukan patok batas kawasan yang akan dijadikan titik awal menentukan luasan hutan. Aku perkirakan perjalanan menuju batas hutan ini sudah menempuh jarak 3 km dengan medan mendaki yang sangat melelahkan.

Sampai di batas kawasan hutan TNKS, badanku mulai lemas. Untungnya ada sungai dekat batas hutan. Langsung aku mengguyur kepala yang mulai kepanasan akibat terik mataharari yang sangat menyengat. Tak lupa aku berwudlu agar muka dan anggota badan lain menjadi segar.
Pekerjaan mengukur dimulai. Aku bersama seorang Polisi Hutan (Polhut) bernama Pak Herwansyah dan dua pekerja, Pak Anshori dan Pak Supen, mulai berjalan menyusuri hutan yang sudah mulai rusak akibat kebakaran dan perambahan. Pak Anshori dan Pak Supen berjalan tenang dimana masing-masing memanggul 10 patok yang cukup berat.

Jalan semakin menanjak dan panas matahari mulai terik. Kami berusaha menghindari jalan yang terlalu terjal dengan mencari punggunggan bukit dan jalan setapak. Ternyata jalur yang kami lewati tidak sesuai dengan rencana awal. Kami harus bolak-balik untuk menuju lokasi sesuai arah namun tidak sampai mendaki bukit. Akhirnya kami terhenti di depan sebuah bukit tinggi berbatu. Bukit ini seperti dinding batu yang sangat tinggi.

Kami mulai kelelahan. Aku lihat Pak Anshori menemukan pondok masyarakat yang membuka lahan kopi di dalam hutan. Beliau lalu memanggilku.

“Pak, kalau puasanya batal, saya buatkan kopi, ya?”
“Tunggu dulu, Pak. Saya istirahat dulu.” Jawabku.
“Bagaimana Pak Herwansyah, kalau kita harus mendaki bukit itu, saya akan batalkan puasa saya. Saya sudah lemas nih, Pak.”
Pak Herwansyah terdiam. Dia juga sangat kelelahan. Bibirnya mulai memutih pertanda mulutya sangat kering dan kehausan.

“Kita istirahat dulu, Pak. Nanti kita lanjut lagi.” Pak Herwansyah mencoba menahan niatku membatalkan puasa.

Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat di pondok. Aku tertidur sejenak. Suara Pak Anshori, Pak Supen dan pemilik pondok mengobrol ,sayup-sayup terdengar. Aku kesluitan tidur karena terlalu kelelahan menahan haus, penat dan lapar.

Setelah sekitar 40 menit aku berbaring, tubuhku mulai segar. Niatku membatalkan puasa kuurungkan saja. Kulihat wajah Pak Anshori sangat segar. Meski tubuhnya kurus dan umurnya sudah di atas lima puluh tahun beliau tidak menunjukkan kelelahan meskipun berpuasa sambil bekerja berat. Aku mulai menemukan semangat setelah melihat senyum Pak Anshori.

“Ayo kita guyur (jalan)” Aku mengajak mereka beranjak dari istirahat.

Perjalanan dilanjutkan. Aku dan Pak Herwansyah tak pernah melewatkan untuk mengguyur kepala setiap menemukan sungai kecil di dalam hutan. Dengan begitu, kami berdua bisa bertahan. Aku juga terus mengingat bahwa apa yang sedang kujalani tidak ada apa-apanya dengan para pejuang kemerdekaan dulu yang berperang menaklukkan penjajah sambil berpuasa. Aku juga berusaha memotivasi diri dengan kisah-kisah para pejuang hebat yang meraih kemuliaan karena mereka tetap berpuasa meski harus menempuh perjalanan dengan berselimut badai pasir dan bersiram panas terik matahari.

Dengan langkah yang mulai gontai, kami tetap meneruskan pekerjaan sampai selesai. Pukul 15.30 akhirnya kami sampai Desa Bandar agung kembali setelah berjalan sekitar 10 km melintasi hutan, padang alang-alang, kebun kopi dan semak belukar di bawah terik matahari.

Saat yang ditunggu telah tiba. Segelas air telah menutup puasa yang sangat berkesan dalam hidupku hari ini. Aku menemukan makna kesabaran dan pelajaran menahan nafsu dari perjalananku hari ini.

Sesungguhnya kemenangan sejati adalah saat kita bisa mengalahkan hawa nafsu. Pertarungan jiwa harus terlebih dulu dimenangkan sebelum kita memenangkan pertarungan fisik. Betapa banyak peristiwa besar yang terjadi dalam sejarah dimana saat kemenangan dalam pertarungan jiwa dicapai maka kesuksesan besar akan diraih pula.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates