Apa Kabar Sahabat POHON INSPIRASI

Blog Berbagi Cinta dan Inspirasi untuk Alam

Jumat, 22 Maret 2013

Jumat, 22 Maret 2013

Hari Air Sedunia 2013 : Biarkan Air Mengalir Sampai Jauh


Mata airmu dari Solo Terkurung Gunung Seribu Air mengalir sampai jauh Akhirnya ke laut (Bengawan Solo – Gesang) 

Apa yang terbayang bagi Anda bila melihat air Sungai Ciliwung yang melintasi Ibu Kota Jakarta? Pasti terbayang sebuah sungai yang kerap meluap di musim hujan dan menggenangi banyak wilayah di Jakarta. Pernahkah Anda membayangkan bahwa sesungguhnya air Sungai Ciliwung ini melalui perjalanan sangat panjang? 

Air yang melintas di Sungai Ciliwung asal muasalnya bermula dari hulu sungai. Hulu sungai Ciliwung terdapat di kawasan datarang tinggi di Kabupaten Sukabumi, Cianjur dan Bogor. Bahkan Sungai Ciliwung berasal dari dua Taman Nasional yang kesohor di Indonesia yaitu Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) dan Taman Gunung Halimun (TNGHS) . Dari daerah hulu hingga hilir, air melintasi beberapa Kabupaten Kota. Bahkan aliran air dari Gunung Salak dan Halimun melintasi 3 Propinsi yaitu Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta. 

SBY Meninjau Kali Ciliwung (Dok. Kompas.com)
Secara global, air juga melintas tanpa terkotak-kotak oleh batas Negara. United Nation Water (UN-Water) yang merupakan badan PBB yang fokus pada pengelolaan air, menyebutkan bahwa 46 % daratan di bumi diliputi oleh sungai-sungai yang melintas antar negara. Di benua Asia terdapat 60 sungai besar yang melintas antar negara. Lalu di Afrika terdapat 64 sungai besar, Eropa 68 sungai, Amerika Utara 46 sungai dan Amerika Selatan 38 sungai yang melintas antar negara. (Baca disini

Jumlah Sungai Lintas Negara di Dunia (un-water.org)
Lintasan air yang demikian jauh, itu tak hanya menembus antar wilayah Negara. Air juga melintas antar budaya, sosial, ekonomi dan politik. Keberadaan air secara global yang tak bisa tersekat oleh batas apapun, perlu mendapat perhatian semua kalangan. Untuk itulah pada tahun ini, UN-Water pada hari Air Sedunia Tahun 2013 mencanangkan International Year of Water Cooperation" atau Tahun Kerja Sama Air Internasional” 




Hari Air Sedunia 

Hari Air Sedunia yang diadakan setiap tahun pada tanggal 22 Maret sebagai sarana memusatkan perhatian pada pentingnya air bersih dan advokasi untuk pengelolaan berkelanjutan sumber daya air tawar. Hari internasional untuk memperingati air bersih direkomendasikan pada Konferensi PBB pada Tahun 1992 tentang Lingkungan dan Pembangunan (UNCED). 

Majelis Umum PBB merespodengan dengan menetapkan tanggal 22 Maret 1993 sebagai Hari Air Dunia pertama. Setiap tahun, Hari Air Sedunia menyoroti aspek tertentu dari air bersih. Pada tahun 2013, dalam refleksi dari Tahun Internasional Kerjasama Air, Hari Air Sedunia juga didedikasikan untuk tema kerjasama di sekitar air dan dikoordinasikan oleh UNESCO bekerjasama dengan UNECE dan UNDESA atas nama UN-Water. (Baca disini

Kondisi Air 

Saat Ini Air bersih menjadi barang yang semakin langka dan berharga sangat mahal bagi sebagian warga dunia. UN Water merilis data bahwa sekitar 780 juta manusia di dunia tidak bisa mengakses air bersih. Disamping itu, tedapat 2.5 miliar manusia tidak dapat mengakses sanitasi yang layak. 

Meningkatnya konsumsi makanan akibat ledakan penduduk membuat kebutuhan air juga melonjak tajam. UN-Water mengutip hasil riset para pakar menyebutkan bahwa untuk menghasilkan 1 kg beras memerlukan 3.500 Lt air. Pada produksi 1 kg daging sapi terdapat 15.000 liter air yang harus tersedia. Bahkan untuk membuat segelas kopi bila ditelusuri membutuhkan 14 lt air. (Hoekstra and Chapagain, 2008).

 Kondisi di Indonesia juga tak kalah memprihatinkan. Di Jakarta masyarakat terancam mengalami kelangkaan air tanah dan air bersih. Anggota Dewan Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta, Firdaus Ali, mengatakan, Jakarta berpotensi mengalami krisis air. Sebab, kurangnya tanah serapan mengakibatkan ibukota kekurangan air saat musim kemarau. (Baca disini). 

Masalah lain yakni Ibukota yang tak memiliki sumber air baku, menggandalkan Sungai Citarum, satu dari 9 sungai paling tercemar di dunia, untuk kebutuhan air jutaan penghuninya. Keterbatasan persediaan air bersih juga membuat jutaan warga menggunakan air tanah, yang berakibat pada drastisnya penurunan daratan Jakarta, hingga lebih dari satu meter, dalam 5 tahun terakhir. (baca disini). 

Di daerah lain, misalnya di Kecamatan Cicurug dan Cidahu Kabupaten Sukabumi, mereka merasakan semakin sulit mendapatkan air tanah dengan murah dan mudah. ”Saat ini kami kesulitan air, Pak. Air sumur semakin dalam. Air Sungai juga menyusut. Sawah kami juga sulit dialiri air kecuali harus memakai mesin pemompa. Ini karena pabrik Air Minum Dalam Kemasan yang sudah menyedot air tanah demikian banyak. Pipa-pipa air mereka yang besar untuk kebutuahn pabrik membuat jatah air kami semakin berkurang.” Itulah cerita salah satu warga, dalam sebuah acara diskusi kelompok terarah dengan para perwakilan warga masyarakat yang berasal dari 10 Desa/Kelurahan/Kampung di sekitar Cicurug dan Cidahu Kabupaten Sukabumi. 

Kerja Sama Air 

Pemenuhan kebutuhan dasar manusia, lingkungan kita, pembangunan sosio-ekonomi dan pengurangan kemiskinan semua sangat bergantung pada air. Pengelolaan air yang baik merupakan tantangan tersendiri karena beberapa karakteristik yang unik di dalamnya. Air tidak merata dalam ruang dan waktu, siklus hidrologi sangat kompleks dan gangguan terhadapnya memiliki efek ganda. 

Urbanisasi yang cepat,polusi dan perubahan iklim mengancam sumber daya sementara kebutuhan air semakin meningkat dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan penduduk dunia, dimana saat ini sudah melebihi tujuh miliar orang, untuk produksi pangan, energi, industri dan penggunaan dalam negeri. Air adalah sumber daya bersama dan pengelolaannya perlu mempertimbangkan berbagai kepentingan yang bertentangan. Hal ini memberikan kesempatan bagi kerjasama antara pengguna. 

Pada tahun 2013, PBB menetapkan sebagai Tahun Internasional Kerjasama Air,. Majelis Umum PBB mengakui bahwa kerjasama yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan prioritas yang berbeda dan berbagi sumber daya yang berharga ini secara adil, menggunakan air sebagai alat perdamaian. Mempromosikan kerjasama air menyiratkan pendekatan interdisipliner yang melibatkan faktor budaya, pendidikan dan ilmu pengetahuan, agama, dimensi hukum, kelembagaan dan ekonomi etika, sosial dan politik. (baca disini

Benarlah apa yang terlantun dari lagu Bengawan Solo bahwa “Air Mengalir Sampai Jauh” yang menyiratkan beragam makna. Air yang begitu jauh mengalir harus mendapat perhatian banyak kalangan mulai hulu sampai hilir, mulai birokrat sampai rakyat, dari pengusaha sampai pengguna dan dari pemimpin sampai rakyat miskin. Semua harus bekerja sama agar air, khususnya air bersih dapat secara adil dan damai dinikmati oleh manusia. 


Mulailah mendukung kerja sama air dengan berbuat sesuatu yang kecil namun bermanfaat. Berhemat air, tidak mengotori badan air dengan sampah, menghabiskan makanan, menanam dan merawat tanaman di rumah dan mengolah sampah mungkin bisa berkontibusi untuk lestarinya air di bumi kiya. 



Selamat Hari Air Sedunia 2013 Salam lestari! 

Achmad Siddik Thoha 
Penggiat Gerakan Menanam Pohon – Komunitas Pohon Inspirasi

Rabu, 20 Maret 2013

Rabu, 20 Maret 2013

Bakau Sang Pelindung

Hutan Mangrove yang tersisa di Pulau Bira Kepulauan Seribu Jakarta
Bila kita berkunjung ke pantai, biasanya akan menjumpai hutan dengan pohon-pohon yang tergenang air. Pohon-pohon itu terlihat unik karena akarnya yang muncul di permukaan tanah. Ada akar pohon yang muncul dari batangnya lalu melengkung menghunjam ke tanah yang disebut akar tunjang. Ada pula akar pohon yang menyembul dari tanah seperti bentuk lutut, yang disebut akar lutut. Terdapat pula akar pohon yang muncul dari tanah seperti pasak, yang disebut akar pasak. Kumpulan pohon dengan karakter akar-akar seperti itu disebut sebagai hutan mangrove atau ada yang mengatakan hutan bakau. Munculnya akar di permukaan tanah adalah salah satu bentuk adaptasi dari pepohonan di hutan mangrove. Mereka perlu bernafas. Dalam kondisi tergenang air dan berlumpur, dimana pertukaran udara dari tanah ke udara tidak memungkinkan, maka akar pohon harus mengejar udara. Mereka, pepohonan di hutan bakau, tidak bisa diam saja di dalam tanah, karena kondisinya berbeda dengan di tanah kering. Mereka tidak bisa bersembunyi di bawah tanah karena tanpa udara mereka akan mati. Hutan mangrove berdekatan dengan muara sungai, dimana lumpur baik yang subur maupun yang beracun mengendap di sana. Pepohonan mangrove rajin menambat lumpur dan racun dan mengikatnya hingga tidak berbahaya bagi lingkungan. Maka kita lihat air laut tetap jernih di pesisir pantai yang memiliki hutan mangrove yang masih bagus. Hutan mangrove juga menahan gelombang besar yang menghantam pesisir hingga warga sekitar merasa aman. Keberadaan pepohonan mangrove, membuat air asin dari laut tertahan cukup disekitar pesisir dan pantai saja. Ini membuat sumur-sumur masyarakat tetap dalam kondisi tawar dan layak dikonsumsi. Akar-akar mangrove yang muncul ke permukaan dengan berbagai bentuknya tidak hanya berguna bagi dirinya. Akar-akar ini menyediakan ruang bermain, bersembunyi, mencari makan dan bertelur bagi hewan laut seperti ikan, udang, kepiting dan lainnya. Ikan dan hewan laut sangat terbantu dari guguran daun, ranting, bunga dan buah mangrove yang telah membusuk. Plankton, sumber makanan ikan dan hewan laut menjadi subur karena banyak persediaan makanan di sana. Bakau menjadi pelindung, penyirna bahaya, pelayan dan perjernih. Bakau Sang Pelindung, ia sanggup menghadang ombak yang tinggi dan badai yang ganas, mempertahankan tubuhnya agar pantai tak terkikis dan manusia selamat dari badai dan bahkan tsunami. Ia menghalau badai agar tidak merusak pesisir dan sekitarnya. Ia meredam ombak dan meniadakan bahayanya. Bakau sang Pelindung, melindungi kejernihan air dari lumpur-lumpur. Ia tak kenal lelah menambat racun agar tidak berbahaya bagi yang lain. Ia siang malam melindungi hewan air agar tetap hidup, tumbuh dan berkemban biak. Ia begitu tulus memberi perlindungan sekaligus pelayanan dengan guguran daun, ranting, bunga dan buah yang jadi sumber makanan. Bakau Sang Penjernih, rela menangkap kotoran lalu menyerapnya agar lumpur-lumpur tak merusak beningnya laut. Ia menjernihkan agar lumpur dari sungai tak mengganggu asyiknya ikan-ikan bermain dan mencari makan. serta hewan laut mendapat kenyamanan ketika bertelur. Sungguh indah pelajaran dari pepohonan di hutan bakau atau mangrove. Perbedaan jenis pohon, bentuk batang dan daun serta karakter yang unik dapat menyatu dalam satu tujuan. Akar mangrove yang rela keluar persembunyiannya demi untuk menyediakan perlindungan bagi lingkungan sekitarnya. Akar yang menyembul dari tanah bukan simbol kesombongan, namun lebih pada tuntutan adaptasi dan misi yang lebih besar. Bila kita terus bersembunyi dalam beramal, tentulah sangat terbatas peran dan manfaat yang dapat diberikan. Dengan muncul, tegak dan adaptif, maka eksistensi diri makin kokoh dan karya kita akan membawa dampak manfaat yang lebih luas. Tentu saja menampilkan amal tetap harus dilandasi dengan keikhlasan. Lingkungan dengan ombak ujian yang besar, angin badai masalah yang tiba-tiba datang dan lumpur cobaan dari diri dan lingkungan luar, seyogyanya dihadapi dengan meningkatkan daya adaptasi tinggi. Akar-akar iman yang makin kokoh akan menopang amal atau karya sehingga melahirkan amal yang melindungi, melayani dan menjernihkan.

Penulis : Achmad Siddik Thoha
Penulis Buku KETIKA POHON BERSUJUD

Sabtu, 09 Maret 2013

Sabtu, 09 Maret 2013

Pohon-pohon yang Berjamaah


Sebatang pohon bisa tumbuh sendiri bila di tempat tumbuhnya terdapat cukup cahaya, air, dan tanah yang subur. Benih yang jatuh di atas tanah subur, kemudian hujan menyiraminya dan matahari menghangatinya, maka tumbuhlah pohon. Pohon yang menyendiri ini bisa terus tumbuh dan memberi manfaat. Pohon yang tumbuh sendiri akan sendiri pula menghadapai tantangan dari luar. Ia harus menangkap hujan sendiri untuk meresapkan air ke dalam bumi. Pohon akan sendirian menatap matahari yang terik. Saat hujan mulai jarang berkunjung, ia semakin berat menjalani hidup dalam kesendirian. Kekeringan begitu memilukan bagi pohon sendiri. Saat badai menerjang, pohon mengalami tekanan makin berat. Ia harus menahan sendiri tubuhnya agar tidak terlempar dan tumbang.

Pohon menyendiri memberi manfaat tak sebesar manfaat kumpulan pohon. Ia, pohon menyendiri, menangkap air yang sedikit dari curahan hujan. Ia hanya menaungi wilayah yang sempit dari tajuk tunggalnya. Ia juga hanya menghasilkan biji-bijian yang terbatas untuk makanan hewan. Ia membantu meresapkan air sedikit saja di tanah-tanah dekat ia tumbuh. Ia juga hanya mencengkeram tanah yang sempit untuk terlindung dari erosi dan longsor.

Kumpulan pohon akan memberi banyak hasil dan manfaat bagi diri mereka dan lingkungan. Mereka, kumpulan pohon, akan mempunyai kekuatan lebih besar menghadapi tantangan luar daripada pohon menyendiri. Mereka lebih kuat menantang badai. Mereka sangat siap menghadapi kemarau panjang. Ketika curah hujan sangat tinggi, mereka sanggup menangkap, meneteskan perlahan, dan menampung air di bawah tanah. Saat ada serangan dari hama penyakit, mereka sanggup bertahan. Ya, kumpulan pohon itu bisa kita sebut sebagai pohon yang berjamaah.

Pohon-pohon yang berjamaah akan memberi manfaat yang banyak bagi mereka sendiri dan lingkungannya. Mereka mendapat sangat cukup air dari tanah-tanah yang basah karena banyak air yang bisa diserap akar. Mereka bisa menaungi sangat luas lahan disekitarnya. Mereka menghasilkan biji yang melimpah hingga lebih banyak makhluk yang memanfaatkannya. Mereka menangkap banyak air hingga mampu memenuhi sumur-sumur dan mengalirkan air ke sungai. Dengan perlindungan daun dan ranting yang lebat serta cengkraman akar yang kuat, mereka bisa melindungi tanah dari kerusakan akibat erosi dan longsor. Mereka juga mencegah banjir dengan kemampuan memperlambat aliran air, menyerap lebih banyak air ke dalam tanah dan melepaskan air perlahan ke sungai.

Bila pohon berjamaah memberi kekuatan lebih menghadapi tantangan dan memberi banyak manfaat, begitu pula kita. Saat tantangan, cobaan dan ujian hidup menimpa, hidup dalam kesendirian sagatlah berat dirasa. Hidup sendirian lebih rapuh dan sulit menhadapi tantangan. Tanpa ada orang-orang yang menguatkan, meneduhkan dan melindungi, hidup sendirian dengan banyak masalah bisa membuat kita terpental dan gagal dalam kehidupan.

Hidup berjamaah tidak hanya dimaknai sebagai hidup dalam kumpulan orang tanpa tujuan dan aturan. Hidup berjamaah adalah hidup dalam komunitas dengan beragam karakter dan latar belakang yang kemudian mengorganisir diri dalam mencapai tujuan bersama. Seperti pohon-pohn yang ada di dalam hutan, mereka berbeda jenis dan karakter namun membentuk sistem untuk bersama-sama menjadi penyangga kehidupan.
Hidup berjamaah akan memberikan kekuatan lebih dalam menghadapi ujian hidup. Berjamaah akan menciptakan pertahanan yang kuat dalam melawan guncangan hidup. Berjamaah melahirkan tanggung jawab bersama menjalani hidup untuk berbagi, memikul beban bersama dan menuju tempat tujuan secara bersama pula. Bahaya apapun yang mengancam kehidupan kumpulan orang yang berada dalam kebersamaan akan lebih ringan dihadapi.

Hidup sendiri dan menjadi baik akan memberi manfaat, namun sangat terbatas. Hidup bersama orang-orang yang baik akan meningkatkan kualitas kebaikan kita. Kebaikan yang diberikan banyak orang secara terorganisir akan memberikan manfaat yang luas jangkauannya, tinggi kualitasnya dan banyak cakupannya. Kumpulan orang dengan tujuan dan organisasi yang baik akan memberikan keteduhan yang lebar jangkauanya, kejernihan amal atau karya yang mengalir jauh, perlindungan bagi sesamanya yang lebih kokoh dan kesejahteraan yang luas.
Indahnya hidup berjamaah laksana harmoni yang menakjubkan dari kumpulan pohon-pohon. Sulitnya hidup sendiri laksana pohon merana hidupnya tanpa pendamping pohon lainnya.

Dikutip dari Buku : KETIKA POHON BERSUJUD Karya Achmad Siddik Thoha

Selasa, 05 Maret 2013

Selasa, 05 Maret 2013

Nasehat dari Air



Duduk terpaku di tepian sungai. Mematung diri dengan pandangan terarah tajam pada riak air. Sesekali ia melentingkan tangannya melesatkan sekeping batu dari telapak tangannya. Ya, itulah yang dilakukan Andi setiap hari.  Semenjak diberhentikan dari tempat kerjanya dan pernikahannya gagal, Andi membuat dirinya menyiksa diri dalam kesendirian dan menyepi di tepi sungai.

Ayah Andi hampir tak bisa membujuknya untuk berhenti membuang-buang waktu seperti itu. Setiap kali dinasehati, Andi selalu menjawab,

“Biarkan Andi menyatu dengan alam, Ayah. Ayah juga tak bisa memberikan solusi buatku.” Jawab Andi dengan muka sinis. Sebuah perlakuan yang tak pantas diperlihatkan kepada orang tuanya.

“Andi, kalau nasehat Ayah tak kau hiraukan lagi, lalu apa yang kau dapat dengan mematung diri setiap hari disini?”

“Biarlah aku mencariya sendiri, Ayah. Maafkan aku.”

“Baiklah, semoga air sungai itu memberimu sebuah nasehat. Kau akan mendapatkannya bila kau membuka pikiran, berdiri dan melangkahkan kakimu, bergerak seperti air. Air sungai itu tak pernah berhenti sedetik pun bergerak.”

Setelah ayahnya menjauh dari dirinya, Andi merasakan ada energi baru menemukan celah-celah solusi dari keterpurukan hidupnya. Ia beranjak dari tempatnya mematung. Dilangkahkan kakinya ke pinggiran sungai yang menurun menuju ke percabangan sungai yang tak jauh dari tempatnya duduk. Ia melihat riak air semakin besar di salah satu cabang sungai . Di tempat yang dangkal dan terlihat dasar sungainya terlihat beberapa batu bergerak meluncur bersama air. Air yang melintas di sungai yang mengecil dan dangkal memiliki kekuatan lebih dibandingkan dengan air di sungai yang lebar dan dalam.

Air di percabangan sungai itu terlihat lebih jernih dan dasar sungainya nampak jelas. Air yang cukup deras ini menjernihkan air dari lumpur-lumpur yang dibawa dari hulu sungai. Batu-batu kecil pun ikut berpindah menggelinding pelan namun pasti di dasar sungai.  Terkadang batu yang lebih besar juga bergeser sedikit akibat dorongan arus yang lebih bertenaga dibandingkan di tempat dia mematung sejak sepekan lalu.

“Aku tahu sekarang. Tak sepatutnya aku berdiam diri dengan beban hidup yang menghimpitku. Tak seharusnya aku menghentikan langkah dan berhenti berpikir. Pasti ada celah dan kekuatan baru bila aku bergerak. Pasti ada jalan keluar yang lebih jernih dan tambahan energi semangat bila aku melakukan sesuatu. Ya, sungai ini telah memberiku petunjuk. Aku perlu orang lain untuk menambah energi bangkit seperti air sungai ini yang mampu menggeser batu di dasar sungai” Kata Andi di dalam hatinya.”

“Air ini…sungguh membuat pikiran dan hatiku semakin bening.” Andi membasuh mukanya dengan air sungai yang jernih itu.

Andi pun memutuskan pulang untuk menemui Ayahnya. Ia merasa berdosa sudah mengabaikan orang tuanya. Sebelum ini ia merasa hidupnya adalah urusannya sendiri, padahal tak seoarang pun yang mampu hidup sendiri. Ia merasa telah membuang-buang waktu dengan keegoisan dirinya yang kemudian jatuh pada kotak keputusasaan. Ternyata putus asa itulah tabir yang bisa memisahkan dirinya dengan solusi dan kesuksesan.

“Ayaaaah…Andi minta maaf.” Air bening menetes pelan dari dua sudut mata Andi.

Jalan lain itu selalu ada dan terhampar di depan kita. Itu bisa dan niscaya bisa mengalihkan segala kebuntuan. Kita hanya perlu rajin menemukannya. Dan nasehat air membuka jalan buntu itu.
*Tulisan menyambut Hari Air Sedunia 22 Maret 2013 (Tahun Kerjasama Air Internasional)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates